Senin, H / 08 Agustus 2022

Ridha, Kunci Bahagia

Selasa 04 Feb 2020 14:22 WIB

Author :Redaksi

komik

Foto: abun_nada





from @abun_nada

R.I.D.H.A. (Kunci Bahagia)


Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita masing-masing. Kuncinya adalah ridha (baca: puas, merasa cukup, dan mencintai pemberian Allah). Jika kita ingin bahagia, hendaknya kita ridha dengan pemberian Allah. Sebab, semakin kita banyak menuntut ingin ini dan itu, kebahagiaan kita akan semakin berkurang. (disadur dari terj. Ustadz Aris Munandar, M.PI pada teks Ali Ath Thanthawi, dalam Fushul Ijtima'iyyah, hal. 94)


Pada kenyataannya, sekadar merasa cukup atas pemberian Allah, lalu mensyukurinya, ternyata tidak mudah. Perlu latihan tak kenal lelah. Sebab, godaan yang bersliweran di hadapan kita berlimpah ruah. Mulai dari sekadar teman punya handphone baru, mobil, hingga rumah. Lalu, diam-diam, kita pun menjadikan apa yang kita lihat sebagai obsesi untuk kita kejar dengan susah payah.


Jika sudah demikian, hilanglah rasa ridha dari dada. Seakan apa yang telah Allah berikan tak cukup bermakna. Sebab, tak memenuhi obsesi dan hasrat kita. Jika dosis rasa kurang seperti ini semakin meningkat, ia akan menjadi beban batin yang berat. Bahkan, dapat menyiksa jiwa dengan hebat, setiap kali melihat orang lain mendapat nikmat. Walhasil, ia menjelma hasad.


Jangan samakan ridha dengan apatis. Seperti orang yang berkata: "Ya sudah, diam saja. Toh, rejeki sudah dijatah Allah. Kita tinggal ridha menerimanya." .

Ridha adalah satu hal. Ikhtiar (berusaha) adalah hal yang lain. Ridha tak berarti meninggalkan ikhtiar. Ridha adalah pilihan sikap (:merasa cukup) terhadap hasil yang Allah beri setelah ikhtiar dilakukan. .

Dengan ridha, seorang yang tanpa harta bisa saja merasa tak kekurangan suatu apa. Sebab, berapapun yang Allah beri, ia merasa itu cukup baginya. Maka, ia menjadi orang yang bahagia. Tak pernah tersiksa oleh apa yang tidak ada pada dirinya. Wallahu a'lam...



Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA