Jumat, H / 22 Oktober 2021

Rapor Implementasi AKHLAK di BUMN Tahap 2

Senin 01 Mar 2021 07:20 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Dari kiri layar: Erick Thohir (Menteri BUMN) dan Ary Ginanjar Agustian (Founder ACT Consulting)

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA - Kementerian BUMN gencar menggaungkan dan mengimplementasikan budaya kerja atau core values AKHLAK. Untuk itu secara periodik diukur juga sejauh mana implementasinya. Akhir Februari ini, ACT Consulting yang membantu Kementerian BUMN menyusun panduan perilaku dan sekaligus melakukan assesmentnya, telah kembali meng-update  hasil kajiannya  selama satu semester sejak AKHLAK diluncurkan pada Juli 2020.

Laporan Pertama adalah Prosentase BUMN yang Sudah dan Belum Melakukan Pengukuran & Pemetaan Budaya Kerja AKHLAK. Saat ini, baru 35 BUMN (18 BUMN dan 17 Anak perusahaan BUMN) yang sudah melakukan pengukuran indeks kesehatan budaya AKHLAK.

Tahapan pertama ini sangat penting mengingat transformasi budaya harus dimulai dengan memahami situasi dan kondisi budaya yang ada dan berjalan saat ini. Sebagaimana dipaparkan oleh Founder ACT Consulting, Ary Ginanjar Agustian bahwa kita tidak akan mampu memanage sesuatu yang tidak di ukur. Lalu apa saran yang diberikan?


<more>

“Perlu menjadi standard yang diilakukan oleh semua BUMN agar memiliki baseline dalam pembangunan budaya AKHLAK,” ujarnya pada ESQNews.id pada Senin (01/03/2020).

Laporan Kedua adalah Rata-rata Indeks Kesehatan Budaya AKHLAK pada 35 BUMN dan Laporan Ketiga adalah Rata-rata Indeks Implementasi AKHLAK pada 35 BUMN.




Data yang ditemukan adalah rata-rata indeks Implementasi AKHLAK adalah 44.4 % atau RENDAH, berada pada kategori C. Pegawai kadang-kadang mengimplementasikan AKHLAK dalam perilaku kerja sehari-hari dan tingkat implementasi AKHLAK pada organisasi masih rendah.



Menurut Ary Ginanjar agar terjadi peningkatan di tahun 2021, perlu dilakukan langkah kongkrit agar dapat mengatasi hal di atas. Salah satu saran yang diberikan adalah intervensi implementasi AKHLAK, agar para pegawai konsisten melaksanakan AKHLAK baik dalam perilaku keseharian maupun dalam mengemban tugas di instansi masing-masing.

Laporan Keempat adalah Rata-Rata Indeks Implementasi keenam nilai AKHLAK yaitu  Amanah – Kompeten –Harmonis – Loyal – Adaptif – Kolaboratif pada 17 BUMN. Ditemukan bahwa Rata-rata Indeks Implementasi rendah adalah HARMONIS (39,0%) dan yang paling rendah adalah ADAPTIF (35,6%). 




Data ini cukup menarik mengingat ADAPTIF adalah salah satu nilai yang paling diperlukan di Era Vuca seperti saat ini. Menteri BUMN Erick Thohir saat peluncuran AKHLAK mengatakan bahwa Adaptif merupakan syarat mutlak bagi perusahaan untuk dapat lolos dari persaingan yang sangat ketat seperti saat ini.

Adaptif juga berkaitan dengan 5 program prioritas BUMN yaitu prioritas ketiga yang berkaitan dengan peningkatan di bidang teknologi. Di tengah era distrupsi  teknologi,  BUMN diharapkan  bisa membuat terobosan dari sisi pemanfaatkan teknologi.




Berdasarkan data tersebut, sementara ini bisa disimpulkan bahwa pada umumnya BUMN memiliki kompetensi yang baik dan kolaboratif. Namun perlu diperhatikan kurangnya fokus terhadap nilai Amanah, Loyal, Harmonis dan Adaptif. Khusus untuk nilai Harmonis dan Adaptif berada di urutan terbawah.

Untuk itu, Ary Ginanjar menyarankan perlunya segera dilakukan internalisasi nilai ADAPTIF, HARMONIS dan AMANAH. Internalisasi bisa melalui training-training yang tidak saja bersifat kognitif namun menyentuh aspek emosi dan spiritual sehingga tertanam dalam belief system dan tercermin dalam melaksanakan tugas di bidang pekerjaannya masing-masing. Harapannya ada peningkatan yang signifikan dalam values Harmonis dan Adaptif ini yang akan membantu kinerja BUMN secara keseluruhan.




Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA