Rabu, H / 03 Juni 2026

Akselerasi Visi Bandung UTAMA, M. Farhan Boyong Seluruh Jajaran Pejabat Tinggi Ikuti Pelatihan 'Servant Leadership' Berbasis Spiritual

Kamis 09 Apr 2026 10:26 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, BANDUNG – Dalam langkah strategis mereorientasi arah birokrasi dan memantapkan komitmen pelayanan publik, Pemerintah Kota Bandung menggelar Pelatihan Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership) berbasis spiritual intensif selama dua hari, 6–7 April 2026.


Dipimpin langsung oleh Wali Kota Bandung, M. Farhan, agenda krusial ini mewajibkan seluruh jajaran Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) dan kepala instansi strategis di lingkungan Pemkot Bandung untuk menyelaraskan visi di titik nol (ground zero) demi mewujudkan tatanan kota yang unggul dan berintegritas.


Pelatihan yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh 40 peserta yang merupakan motor penggerak roda pemerintahan, meliputi Wali Kota, Sekretaris Daerah (Sekda), para Asisten Daerah (Asda), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) se-Kota Bandung.


Kehadiran seluruh elemen top manajemen ini menegaskan urgensi perubahan budaya kerja dari penguasa yang dilayani menjadi abdi masyarakat yang melayani.


Wali Kota Bandung, M. Farhan, mengungkapkan bahwa pelatihan ini merupakan momentum emosional sekaligus strategis yang mendalam bagi dirinya.


Mengenang kembali perjalanan personalnya saat pertama kali menjadi peserta pelatihan ESQ pada tahun 2015, Farhan menyadari esensi tertinggi kepemimpinan bukan terletak pada keandalan sistem semata, melainkan pada penyatuan hati setiap elemen organisasi.


"Mengembangkan organisasi itu bukan sekadar mengotak-atik sistem birokrasi, tetapi bagaimana kita menyatukan hati setiap elemen di dalamnya menuju satu titik nol yang sama atau ground zero.


Ini kali ketiga saya mengikuti pelatihan, namun yang paling istimewa karena ini pertama kalinya saya hadir memboyong seluruh jajaran pimpinan tertinggi Pemerintah Kota Bandung.


Kita harus berangkat dari frekuensi hati yang sama untuk mewujudkan visi besar 'Bandung UTAMA'," ujar M. Farhan di sela-sela kegiatan.


Lebih lanjut, Farhan menekankan pentingnya reorientasi motivasi kerja di kalangan pejabat publik.


Ia menginstruksikan seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk menyandarkan sumber kekuatan dan etos kerja pada nilai-nilai ilahi, menjadikan pekerjaan sehari-hari di birokrasi sebagai ladang pengabdian dan ibadah, bukan sebagai ajang pemburuan jabatan atau keuntungan material.


"Kita harus menggeser paradigma. Niat kita murni untuk kepentingan bersama, bukan lagi bicara tentang ego sektor atau kepentingan diri sendiri.


Ketika pengabdian dan ketulusan telah menjadi landasan utama, maka jabatan dan kesejahteraan finansial akan mengikuti sebagai konsekuensi logis yang positif, bukan sebagai tujuan utama yang justru mengaburkan integritas kita," tegas Farhan.


Sebagai bentuk implementasi nyata dari penyelarasan manajemen modern, Pemkot Bandung juga menorehkan sejarah baru sebagai pemerintah daerah pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi Talent DNA.


Terobosan ini digunakan secara presisi untuk mengidentifikasi kemampuan unik, karakter, dan potensi setiap talenta di lingkungan pemerintahan.


Melalui penerapan Talent DNA, penempatan pejabat dan penataan staf di masa depan tidak lagi mengandalkan intuisi atau faktor subjektif, melainkan berbasis pada data dan analisis kompetensi yang akurat.


Langkah ini diambil guna menjamin asas the right person in the right place demi akselerasi pelayanan publik yang efektif dan transparan.


Pendiri ESQ Corp, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, yang hadir langsung memandu jalannya pelatihan, memberikan apresiasi tertinggi atas komitmen radikal yang ditunjukkan oleh jajaran pimpinan Kota Bandung dalam mentransformasi sumber daya manusianya.


Ary memberikan sebuah perumpamaan filosofis bahwa membangun peradaban birokrasi yang kokoh serupa dengan mendirikan sebuah gedung pencakar langit.


"Visi 'Bandung UTAMA'—Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agami—adalah atap yang menjadi pelindung dan tujuan akhir masyarakat. Untuk menopangnya, dibutuhkan tiang-tiang kokoh berupa values atau nilai organisasi yang kuat.


Namun ingat, setinggi apa pun gedung itu, keberhasilan strukturnya mutlak bergantung pada fondasi spiritualitas sebagai tumpuan paling dasar," jelas Ary Ginanjar.


Di akhir arahannya, Wali Kota M. Farhan menggarisbawahi tiga poin utama yang menjadi harapan dan target implementasi pasca-pelatihan ini.


Pertama, lahirnya para pemimpin birokrasi yang memiliki integritas kokoh berbasis spiritual. Kedua, tertanamnya jiwa servant leadership yang kuat pada setiap kepala dinas dan direktur demi melayani warga Bandung tanpa sekat.


Ketiga, Farhan menginstruksikan jajajrannya untuk langsung menerapkan budaya kerja "Gercep" (Gerak Cepat) sekembalinya mereka ke instansi masing-masing.


Ia meminta seluruh pimpinan untuk menghilangkan keraguan, memangkas birokrasi yang berbelit-belit, dan tidak terlalu lama terjebak dalam perdebatan teoritis saat mengeksekusi program rakyat.


"Saya minta setelah ini semua bergerak cepat, 'gercep', jangan banyak berpikir yang memunculkan keraguan dalam bekerja. Kita punya target nyata mewujudkan Bandung UTAMA, dan masyarakat menunggu dampak konkret dari ketulusan kinerja kita," pungkas Farhan optimis.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA