KISAH
Sewaktu saya kecil dahulu, ada masa dimana saya tinggal di Surabaya di rumah kakek, meneruskan sekolah hingga lulus SMA. Di rumah kakek ada sumur yang bersih, bening yang airnya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Mulai dari memasak, mandi, mencuci, hampir semua kebutuhan air diambil dari sumur itu. Letak sumurnya persis di perbatasan dengan rumah tetangga, di belakang rumah, sehingga airnya dipakai bersama. Sumur inilah ‘sumber kehidupan’ bagi kedua rumah yang setiap hari mengambil airnya.Berbeda dengan sumur di Surabaya, sumur yang ada sewaktu saya SD tinggal di Tanjung Pinang praktis tidak bisa dipakai. Sejak awal, warna air sumurnya hijau pekat karena terlalu banyak lumut di dalamnya. Air sumur ini digunakan hanya untuk menyiram tanaman atau tanah yang kering saat hari panas. Kebutuhan air bersih dipenuhi dari truk tangki yang rutin mengisi air di drum-drum yang ada di tiap rumah.Jika sumur yang di Surabaya dijaga dengan sungguh-sungguh, sumur yang di Tanjung Pinang tidak. Kadang saya dan teman-teman bermain dan men’cemplung’kan sesuatu ke dalam sumur itu. Bisa kayu, gabus, macam-macam. Pikir kami waktu itu, toh air sumurnya tidak dipakai.Larangan Meludah ke Sumur.Ada ujaran larangan tentang sumur dari kearifan budaya lokal Jawa. Tepatnya mengenai larangan meludah ke sumur. “Aja ngidoni sumur, mengko lambene guwing.” Artinya: Jangan meludah ke sumur, nanti bibirnya sumbing. Hal itu dijabarkan sebagai berikut: Ujaran larangan ini berfungsi sebagai nasihat untuk umum, dari anak-anak hingga dewasa. Meludahi sumur akan menyebabkan bibir sumbing sangat irasional/ tidak logis. Akan tetapi, nilai kearifan lokal di dalamnya bisa dimaknai ludah itu kotor dan air sumur digunakan untuk memasak, minum, mandi, dan sebagainya oleh banyak orang. Jadi, air sumur sebaiknya harus selalu dalam keadaan bersih dan sehat.Bila air sumur diludahi, maka akan menjadi kotor dan tidak baik untuk dipergunakan sehari-hari. Secara implisit, kita diminta agar selalu bertingkah laku yang sopan dan jangan melakukan perbuatan yang tidak pantas. Bila diperluas maknanya, sumur bisa diibaratkan sumber kehidupan. Sumber penghasilan. Sumber nafkah, yaitu pekerjaan. Janganlah ‘meludahi’ pekerjaan yang kita lakukan karena akan mengotori ‘air’ yang didapat dari sana. Janganlah mengeluh secara berlebihan pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari karena itu sumber rejeki untuk menafkahi hidup kita sehari-hari. Bukankah dulu kita yang memilih pekerjaan ini?Beberapa bentuk keluhan pekerjaan bisa bermacam-macam bentuknya, seperti:1. Mengenai atasan / komunikasi dengan atasan. Atasan adalah sumber keluhan favorit. Jika ada anak buah yang mengeluh mengenai atasannya, atasannya akan mengeluhkan atasannya lagi. Mulai dari komunikasi yang suka ga jelas, kemampuan yang diragukan, dan lain-lain. Kalimatnya lebih kurang: “Mintanya suka gak jelas. Begitu dikasi berubah lagi.” atau “Mintanya suka dadakan. Kan kerjaan lagi banyak.”2. Masalah gaji, lembur, bonus dan sejenisnya. Kalimatnya lebih kurang: “Kayak rodi aja kerja disini. Kerjaan gak sesuai dengan gaji.” atau “Boro-boro bonus, masih terima gaji aja udah mendingan.”3. Masalah pekerjaan dan sejenisnya. Kalimatnya lebih kurang: “Target gak masuk akal. Mana ada yang bisa ngerjain?!” atau.. “Percuma kerja keras, toh kenaikan gajinya sama dengan yang males-malesan.”4. Masalah jabatan. Kalimatnya lebih kurang: “Inikan harusnya bukan level kerjaanku? Kenapa aku lagi yang ngerjain?! Lha, dia ngapain?! Enak bener…!” atau kadang “Kok dia enak sih, anak buahnya cuma 2. Aku 20 orang. Urusan senegara aku yang ngerjain. Pusing.”5. Masalah karir dan sejenisnya. Kalimatnya lebih kurang: “Memangnya kalo kerja lebih rajin nanti naik pangkat gitu?” dan “Kalo dia kan memang kesukaan bos, pantes naik duluan.”6. Masalah keseimbangan kerja vs keluarga. Kalimatnya lebih kurang: “Kalo gini terus, kapan waktu buat keluarga?” lalu “Saya kan sudah 24/7 stand by buat kantor. Masih kurang?!”Sebuah artikel menyebutkan bahwa mengeluh di tempat kerja akan dapat menyebabkan:1. Orang akan berpikir kita tidak produktif. Ngeluhhh terus. Sesekali boleh lah, tapi kalau setiap hari? Pagi ngeluh, ngobrol pas makan siang ngeluh, sore ngeluh lagi. Apa orang lama-lama gak mulai mikir ya… Begitu ngobrol tentang kerjaaan, ngeluhnya.. “Gimana gue mau ngerjain, orang ngebriefingnya gak jelas”. Hmm.. Jadi kapan kerjanya?2. Nanti saya dibegitukan juga. Orang tempat kita mengeluh lama-lama akan berpikir, “Jangan-jangan dia ngelakuin hal yang sama tentang saya ke orang lain.” Bener kan? Inikonsekuensi yang wajar lho. Kita dinilai tidak bertanggung jawab dan tidak tahan banting. Mau, dibilang cemen? Setiap kita mengelukan suatu hal, pasti yang kita keluhkan akan membuat orang yang kita ajak bicara berpikir (dia bisa punya solusinya, bisa juga tidak). Kalau itu menurut dia hal yang biasa-biasa saja, hal yang remeh temeh minimal dalam hatinya dia akan ngomong, “Ah, dasar cemen.”3. Teman akan mulai menghilang satu demi satu. “Ah, paling-paling itu lagi keluhannya.” Cobalah lihat teman makan siang yang sekarang lebih memilih orang lain. Jangan-jangan ini penyebabnya. Emang sih, jarang yang mau terbuka, tapi capek lho, denger keluhan terus menerus.Dulu ada buku bagus karangan orang Jepang yang namanya Masaru Emoto. Dia meneliti efek kata-kata baik dan buruk terhadap kristal air yang difotonya melalui metode tertentu. Hasil penelitiannya mengatakan bahwa kristal air akan bereaksi terhadap kata yang diucapkan padanya. Kata-kata baik akan menghasilkan kristal yang baik, kata-kata buruk akan menghasilkan bentuk yang buruk. Dan celakanya, badan kita sebagian besar terdiri dari air.Tapi ada yang bilang penelitian Emoto hoax. Namun di youtube banyak juga yang bereksperimen dengan menggunakan nasi dan berhasil. Termasuk saya salah satunya. Saya bereksperimen dengan satu sendok nasi yang saya bagi dua, lalu saya pisah dengan saya beri label yang berbeda. Satu saya beri label "jelek" dan satunya berlabel "baik". Lalu saya genggam bergantian. Yg berlabel "jelek" saya genggam sambil membayangkan hal-hal yang membuat saya marah, benci, pokoknya hal-hal negatif. Yang berlabel "baik", sebaliknya. Saya bayangkan hal-hal yang menyenangkan, dan segala hal baik ketika menggenggamnya. Setelah lebih kurang 9 hari, nasi yang tadinya sama-sama putih, jadi berubah warna dan tekstur, seperti foto berikut:Ternyata nasi yang dikata-katain jelek, nasinya berubah jadi hitam. Dan ternyata hasil ini lebih kurang sama dengan eksperimen sejenis.*artikel lengkap bisa dibaca di buku "Bertempurlah tapi dengan Gagah"