Sabtu, H / 26 September 2020

Haji itu panggilan, dipanggil atau terpanggil? (4)

Rabu 03 Jul 2019 12:09 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Ilustrasi

Foto: Freepik

 
Bagaimana feedback (response) kita terkait panggilan dari Allah SWT terkait ibadah haji ini apakah terjadi gangguan? Ataukah bahkan kita yang memang merancang gangguan-gangguan tersebut?


Sikap apa yang seharusnya kita lakukan dalam merespon panggilan Allah SWT? Bukankah syarat terpanggil adalah Anda harus merespon panggilan, agar kita bisa masuk daftar orang yang dipanggil, bagaimana menurut Anda?.


Pada saat seseorang mendapatkan panggilan artinya yang memanggil itulah yang mempunyai kepentingan, yang memanggil itulah yang mempunyai tujuan. Terbayangkan apabila kita dipanggil Allah SWT dalam ibadah haji Hakikatnya siapa yang punya tujuan dan kepentingan itu?


Namun apa yang berlaku saat ini, seolah-olah kitalah yang lebih sibuk yang punya kepentingan dan tujuan untuk meminta segala sesuatu kepada yang memanggil seolah-olah ibadah haji adalah kepentingan kita. Apakah boleh kita memiliki kepentingan dan tujuan? Jawabannya boleh namun alangkah bijaknya apabila kita penuhi dahulu apa yang menjadi Hak Allah maka Allah akan memenuhi apa yang menjadi hak kita sebagai hambaNya.


Orang yang berperang dijalan Allah, orang-orang yang berhaji serta berumroh adalah Tamu-Tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri. HR. Ibnu Majah

 

Bahkan lebih dalam dikisahkan bagaimana Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyeru manusia untuk berhaji setelah meninggikan dasar-dasar baitullah.


Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". QS. Al-Baqarah:127


[1]   [2]   [3]   [4]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA