NASIONAL
ESQNews.id, JAKARTA – Sebuah langkah besar dalam dunia riset dan inovasi Indonesia kembali tertoreh. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Universitas Ary Ginanjar (UAG University) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) yang berlangsung khidmat pada Rabu 25 Maret 2026 bertempat di Ruang Rapat Besar Lt. 24, Gedung BRIN Thamrin, Jakarta Pusat.Kolaborasi ini menjadi momentum krusial bagi penguatan manajemen talenta riset di tanah air. Di tengah persaingan global yang kian kompetitif, kedua lembaga sepakat bahwa riset yang unggul tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual (IQ), namun juga fondasi karakter yang kokoh melalui kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ).Founder UAG University sekaligus ESQ, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, yang hadir langsung dalam prosesi tersebut, menekankan bahwa lahirnya penemuan besar sering kali bermula dari kondisi mental yang tepat. Ia menjelaskan pentingnya mencapai kondisi "Gelombang Otak Alpha" sebuah keadaan pikiran yang tenang dan jernih di mana kreativitas manusia justru bekerja berlipat ganda lebih aktif."Melalui momentum bulan Syawal, kita berharap Nota Kesepahaman ini menjadi titik nol lahirnya terobosan besar. Saat para peneliti bekerja dalam kondisi tenang dan fokus, di sanalah inovasi yang mengakselerasi Indonesia Emas 2045 akan tercipta," ujar Ary Ginanjar.Lebih lanjut, Ary menyoroti tantangan besar dalam memperkuat pilar hilirisasi inovasi, khususnya di sektor pangan, energi, dan air, sebagaimana yang dicanangkan oleh Presiden RI. Beliau memaparkan data benchmarking yang cukup kontras: Indonesia saat ini baru memiliki sekitar 300 peneliti per satu juta penduduk, tertinggal jauh dari Malaysia (2.300 peneliti) dan Korea Selatan (4.000 peneliti). Sementara itu, target Indonesia Emas menuntut ketersediaan 4.000 talenta IPTEK per satu juta penduduk.Guna menutup celah tersebut, Universitas Ary Ginanjar membawa solusi nyata berupa program Manajemen Talenta berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui platform TalentDNA. Teknologi ini dirancang untuk memetakan potensi dan karakter peneliti secara akurat, sehingga penempatan dan pengembangan talenta riset menjadi lebih efektif dan terukur."Impian besar kami adalah melihat BRIN pada tahun 2030 bukan sekadar menjadi sebuah badan riset, melainkan bertransformasi menjadi Lokomotif Riset Indonesia. Kami memimpikan BRIN menjadi sebuah Powerhouse riset yang mendorong hilirisasi secara masif, menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis riset yang disegani dunia, dan melahirkan aset-aset intelektual serta investasi strategis bagi masa depan bangsa," pungkasnya dengan optimis.Senada dengan hal tersebut, Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Prof. Ary Ginanjar dalam memperkuat manajemen talenta di tubuh BRIN.Menurutnya, di era disrupsi saat ini, keahlian dalam mengelola talenta (talent management) adalah kunci utama untuk melahirkan sosok periset yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki dedikasi dan jiwa riset yang murni.Beliau memandang bahwa integrasi metodologi pembangunan karakter ke dalam ekosistem riset akan mempercepat terciptanya lingkungan inovasi yang sehat dan berdampak luas bagi masyarakat.Ia juga menilai bahwa riset unggul tidak hanya dibangun dari kecerdasan intelektual, tetapi juga fondasi karakter yang kuat. Di sinilah pendekatan ESQ menjadi relevan untuk membentuk periset yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan berdaya tahan."Kita membutuhkan periset yang tangguh dan memiliki jiwa yang benar-benar menyatu dengan risetnya. Manajemen talenta adalah jalan terbaik dan paling tepat untuk meningkatkan kualitas human capital di BRIN. Kami ingin mencetak periset kelas dunia yang impactful, periset yang karyanya membawa kemajuan nyata, bukan sekadar melakukan aktivitas riset biasa," tegas Prof. Arif Satria.Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan ekonomi dunia sangat ditentukan oleh kekuatan riset suatu bangsa. Oleh karena itu, BRIN harus memposisikan diri sebagai pilot sekaligus pilar utama kemajuan ekonomi Indonesia melalui hasil inovasi seperti varietas unggul, paten hebat, hingga ilmuwan papan atas. Meski diakui membutuhkan upaya (effort) yang besar, Prof. Arif optimis keterbatasan sumber daya manusia dapat diatasi melalui pemetaan talenta yang presisi."Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Riset harus berdampak dan membawa manfaat. Semangat yang kita dorong kepada para periset BRIN adalah semangat 'Khairunnas' menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain melalui riset dan inovasi," tambahnya.Terkait tantangan selama ini, Prof. Arif mengakui bahwa sinergi antara hasil riset dengan dunia industri masih perlu dimaksimalkan. Melalui kolaborasi ini, BRIN berupaya memastikan inovasi yang dihasilkan dapat diserap secara massal oleh industri sebagai teknologi yang memperkuat bisnis mereka.Selain penguatan manajemen talenta sebagai target jangka pendek, kerja sama ini juga membuka pintu lebar bagi mahasiswa dan dosen Universitas Ary Ginanjar untuk memanfaatkan berbagai fasilitas di BRIN, mulai dari program Degree by Research, fasilitas laboratorium, hingga program magang."Dengan manajemen talenta yang kuat, kita bisa meminimalkan hambatan sumber daya dan mempercepat lahirnya para ilmuwan top yang akan membawa Indonesia disegani di kancah global," pungkasnya.Diketahui, acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua belah pihak. Dari pihak Universitas Ary Ginanjar, hadir mendampingi Prof. Ary Ginanjar antara lain Andi Purnomo, S.Kom., M.Kom. (Wakil Rektor 1 UAG University), Hesti Herminati (Chief of Corp Engagement ESQ), Nurul Fitrianis (Deputy Director of ESQ Corp).Sementara itu, dari pihak BRIN, hadir memperkuat barisan sinergi: Nur Tri Aries Suestiningtyas (Sestama BRIN), Edy Giri Rachman Putra (Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), Dadan Moh. Nurjaman (Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi), Agus Haryono (Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi), Tri Sundari (Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama), Ratih Retno Wulandari (Kepala Biro Organisasi, dan Sumber Daya Manusia), Andi Irman Pattiroy (Tenaga Ahli Utama)Kerja sama ini diharapkan menjadi "katalisator" dalam menciptakan ekosistem manajemen talenta yang komprehensif. Dengan pengalaman panjang Prof. Ary Ginanjar dalam membangun kepemimpinan berbasis nilai, kolaborasi dengan BRIN diharapkan mampu melahirkan generasi periset Indonesia yang adaptif, berkarakter, dan siap menjawab tantangan global.Langkah ini bukan sekadar seremoni di atas kertas, melainkan wujud nyata komitmen UAG University dan BRIN dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul secara intelektual dan mulia secara karakter menuju Indonesia Emas 2045.