Minggu, H / 05 April 2020

GRIT, Satu lagi Fakta Karakter Lebih Penting Dibanding Bakat dan IQ

Senin 24 Jun 2019 10:43 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Angela Lee Duckworth dengan Sang Ibunda Tercinta

Foto: Twitter @angeladuckw

ESQNews.id, JAKARTA - Sejak zaman dulu orang sudah berusaha mencari dan merumuskan kunci kesuksesan. Begitu banyak teori disampaikan para ahli. Salah satu yang menarik, apa yang disampaikan oleh Angela Lee Duckworth, seorang Profesor muda bidang psikologi di Universitas Pennsylvania. Ia salah seorang yang menyakini bahwa IQ bukan satu-satunya kunci kesuksesan.


“Dalam pendidikan, salah satu alat ukur terbaik yang kita ketahui adalah IQ, tetapi keberhasilan di sekolah dan kehidupan tergantung lebih banyak lagi pada hal- hal selain dari kemampuan Anda untuk belajar dengan cepat dan mudah,” ujarnya dalam pidatonya di TED Talks.


Berdasarkan pengalamannya sebagai guru matematikan SMP kelas 1, Angela menyimpulkan pentingnya aspek psikologis berupa motivasi. “Setelah beberapa tahun mengajar, saya menyimpulkan bahwa yang kita perlukan dalam pendidikan adalah pemahaman yang lebih baik tentang murid dan pembelajaran dari sudut pandang motivasi, dari sudut pandang psikologis,” tuturnya.


Ia pun meninggalkan tempatnya mengaja, dan melanjutkan kuliah pascasarjana bidang psikologi. Ia mempelajari anak-anak dan orang dewasa dari berbagai latar belakang untuk mengetahui siapa yang berhasil dan apa alasannya? Ia datang berbagai tempat dari mulai Akademi Militer, National Spelling Bee (Lomba Mengeja Nasional, sekolah, bahkan perusahaan untuk memprediksi siapa yang akan gagal dan yang akan sukses.


Dari hasil penelitian mendalam, dari berbagai konteks yang sangat berbeda itu, ia menemukan sebuah karakteristik  tentang faktor keberhasilan yang signifikan dan sangat penting. Ternyata faktor penentu kesuksesan tersebut bukanlah kecerdasan sosial, penampilan yang menarik, kesehatan, dan juga bukan juga IQ. Jawabannya adalah Grit (gairah dan ketekunan) atau biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah “tekad”.  Dalam buku terjemahan edisi Gramedia mengartikan dengan kata "Ketabahan." Untuk menghindari pengertian yang keliru maka kita tetap gunakan istilah Grit.


“GRIT adalah gairah dan ketekunan untuk tujuan-tujuan jangka panjang. Grit berarti memiliki stamina. Grit melekat dengan masa depan Anda setiap hari, bukan hanya selama seminggu, bukan pula satu bulan, tapi untuk bertahun-tahun, dan bekerja benar-benar keras untuk membuat masa depan itu menjadi kenyataan. Grit adalah menjalani hidup seperti sebuah pertandingan lari maraton, bukan lomba lari jarak dekat,” paparnya


Angela pun kemudian mengkaji tentang Grit di sekolah-sekolah negeri di Chicago. Yang paling mengejutkannya bahwa betapa sedikit yang mengetahui Grit dan betapa sedikit ilmu pengetahuan yang mengkaji  tentang bagaimana membangun Grit.  


Hasil penelitian dia bersama tim menunjukkan bahwa bakat tidak membuat seseorang memiliki Grit. Data yang mereka kumpulkan menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ada banyak individu-individu berbakat yang tidak menjalani komitmen mereka. Pada kenyataannya, grit biasanya tidak berhubungan dengan bakat atau bahkan berbanding terbalik dengan besarnya bakat. 


Yang ia pelajari tentang membangun grit pada anak-anak adalah sesuatu yang disebut “gowth mindset” atau pola pikir yang berkembang. Ia merujuk pada ide yang digagas di Universitas Stanford oleh Carol Dweck,  tentang keyakinan  bahwa kemampuan untuk belajar dapat berubah, bahwa hal itu dapat berubah dengan usaha. 


“Dr. Dweck telah menunjukkan bahwa ketika anak-anak membaca dan belajar tentang otak dan bagaimana otak berubah dan berkembang dalam menanggapi tantangan, mereka cenderung lebih tekun saat mereka gagal, karena mereka tidak percaya bahwa kegagalan adalah kondisi permanen,” tambahnya. Dalam pidato berdurasi singkat sekitar 5 menit Angela menyimpulkan bahwa “growth mindset” adalah ide yang bagus untuk membangun grit. 


“Itu adalah pekerjaan yang ada di hadapan kita. Kita perlu mengambil ide-ide terbaik kita, intuisi kita yang terkuat, dan kita perlu untuk menguji mereka. Kita perlu untuk mengukur apakah kita telah berhasil, dan kita harus bersedia untuk gagal, untuk menjadi salah, untuk mulai dari awal lagi dengan apa yang sudah kita pelajari,” paparnya.


Video yang sejak tahun 2013 dan dalam pada Juni 2017 telah ditonton lebih dari 17 juta orang itu ditutup dengan sangat mengesankan, “Dengan kata lain, kita perlu bertekad (grit)  untuk membuat anak-anak kita menjadi lebih bertekad (gritty).”


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA