Senin, H / 15 Juli 2024

Founder ESQ Group: Membangun Values, Mengembalikan Kemanusiaan

Kamis 29 Dec 2022 12:19 WIB

Reporter :EDQP

Ary Ginanjar Agustian (Pendiri ESQ Group)

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA - Motivator Indonesia Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian meminnta pelaku bisnis khususnya bergerak di sektor sumber daya alam diminta menjalankan bisnisnya secara bertanggungjawab. Selain itu pelaku bisnis diminta tak hanya memikirkan pengeksploitasian alam secara berlebih demi kepentingan ekonomi semata.


“Sejak pertama kali dicetuskan, kapitalisme berhasil mengelevasi kehidupan manusia ke taraf yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Tetapi, publik kini memandang kapitalisme sebagai suatu praktik yang memiliki lebih banyak dampak negatif dibanding dampak positif,” ungkap Ary Ginanjar Agustian, Rabu 28 Desember 2022.


Ary mengatakan, David Korten dalam bukunya "When Corporations Rule the World" (2015) mengungkapkan bahwa perusahaan seringkali dibutakan oleh keinginannya untuk meraih keuntungan finansial jangka pendek. Dampaknya, kata CEO ESQ Group, terjadi penurunan kepercayaan pada para kapitalis atau dunia korporasi.


Edelman Trust Barometer 2020, sambung Ary, pernah melakukan survei terhadap lebih dari 34.000 orang di 28 negara di dunia, salah satunya Indonesia. “Perusahaan public relation dan pemasaran terbesar di dunia, melaporkan bahwa 56 persen orang menganggap bahwa kapitalisme memiliki lebih banyak dampak negatif dibanding dampak positif. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap para CEO hanya sebesar 51 persen,”ujarnya.


Lebih lanjut, sang Author itu mengatakan, daftar panjang penurunan kualitas kehidupan terus terjadi, di antaranya beberapa spesies hewan telah punah, contohnya jumlah mamalia besar yang punah sebesar 95 persen. Luas hutan pun kian  berkurang hingga 90 persen lenyap. Belum lagi, meningkatnya berbagai jenis penyakit sebagaimana Covid-19, berikut berbagai variannya yang masih terus bermunculan, serta timbulnya berbagai jenis polusi.


“Fakta di atas baru dari sisi fisik lingkungan, lalu bagaimana dari sisi sosial? hasilnya sungguh sangat mencengangkan  kepercayaan pada lembaga pernikahan yang mengakibatkan tingginya perceraian, tingginya kriminalitas, pengguna narkoba, dan kekerasan; serta meningkatnya jumlah penderita depresi atau mental illness pada kalangan remaja, dan masih banyak lagi permasalahan sosial,” sebutnya.


<more>


Lalu seharusnya bertanggung jawab atas kerusakan bumi ini, menurut Ary, tentunya semua akan mengatakan "kita semua". Namun sadarkah sesungguhnya dunia bisnislah  yang menentukan perputaran ekonomi dunia, yang memiliki andil sangat besar dalam menentukan wajah dunia.


“Begitu pula dampak yang dihasilkan dari bisnis yang mereka lakukan,” kata pria yang merupakan mantan ASN itu.


Menanggapi berbagai pandangan negatif terhadap kapitalisme yang menimbulkan berbagai permasalahan, Raj Sisodia beberapa tahun lalu, sebut Ary, telah menawarkan konsep Concious Capitalism dalam bukunya "Firm of Endearment: How World Class Companies Profit from Passion and Purpose."


Konsep ini, lanjut Ary, mengacu pada filosofi ekonomi dan politik yang bertanggung jawab secara sosial. Premis di balik Concious Capitalism adalah bahwa bisnis harus beroperasi secara etis sambil mengejar keuntungan.




“Ada empat komponen dari Concious Capitalism tersebut, yaitu, Stakeholder Integration (integrasi para stakeholder), Concious Leadership (Leadership yang berbasis hari nurani), Concious Management (manajemen yang berbasis hati nurani), dan terakhir Concious Culture (budaya yang berbasis hati nurani),” ucap Founder ESQ Business School itu.


Pusat dari empat hal tersebut, kata Ary, adalah Conciousness on Higher Purpose and Core Values, atau sebuah kesadaran yang berpusat kepada tujuan luhur dan nilai luhur, atau dengan kata lain ekonomi dan manajemen yang berpusat kepada nilai-nilai spiritualitas.


Menurut Ary, karena tanpa kesadaran akan makna mulia kehidupan serta nilai-nilai mulia atau spiritulitas, maka para pelaku bisnis hanya akan terus memikirkan kepentingan bisnis masing-masing serta mengabaikan dampak yang mereka berikan terhadap dunia.


Sementara itu, Arie de Geus, kata Ary, dalam bukunya yang berjudul "The Living Company" menyimpulkan perusahaan-perusahaan yang bertahan hingga seratus tahun ke atas karena ada dua hal yang selalu mereka pegang dan pertahankan dalam menjalankan perusahaan mereka: Core Values (nilai dasar) dan Core Purpose.


“Makanya, tak heran jika presiden meluncurkan Core Values baru yaitu BerAKHLAK (Berorientasi pada pelayanan, Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif) bagi seluruh ASN dan juga AKHLAK di berbagai perusahaan BUMN,” ujarnya.


Tujuannya BerAKHLAK itu, kata Ary, bagaimana perusahaan atau organisasi bukan lagi hanya memikirkan permasalahan ekonomi atau profit semata akan tetapi juga membangun jiwa, moral, dan karakter. Inilah yang menjadi concern  ESQ.  selama ini bagaimana membangun values dan karakter bagi sumber daya manusia khususnya generasi muda yang kelak akan menjadi para pemimpin, dan para pelaku bisnis.


“Ini menjadi terasa urgent mengingat profil penduduk Indonesia pada tahun 2030 akan didominasi oleh usia produktif yang akan mencapai 70,72 persen  yang sekarang popular disebut bonus demografi. Sudah satu dasawarsa kami membangun ESQ Business School dengan membentuk  karakter tangguh dengan nilai-nilai luhur, meningkatkan produktivitas, dan memiliki spirit berkontribusi dengan menggunakan  metode SKI (Spiritual, Kreativitas, Intelektual) yang  menggabungkan tiga potensi manusia yaitu  kecerdasan Intelektual (IQ), Emosional  (EQ), dan Spiritual (SQ),” jelasnya


Penggunaan Metode SKI (spiritual, kreativitas dan intelektual) ini sebut Ary, dapat menumbuhkan dorongan nilai spiritual yang berasal  dari dalam (Why), kemudian sisi kreativitas (How), yaitu dapat memandang ide-ide baru untuk menjawab persoalan dan permasalahan dengan teori-teori yang ada secara  intelektual (What).


“Ini sekaligus menjawab keresahan Shoshana Zuboff, seorang profesor di Harvard Business School dan telah mengajar selama lebih dari dua dasawarsa di program MBA, keruntuhan ekonomi dunia yang terjadi beberapa waktu lalu hingga saat ini, ada hubungannya dengan sistem pendidikan di sekolah bisnis. Ia mengatakan bahwa yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah bisnis telah melahirkan para pelaku bisnis yang tidak lagi dapat dipercaya,” tegasnya.


Untuk itu, Ary mengajak semua pihak mengembalikan "Ruh" kemanusiaan bangsa Indonesia dengan membangun karakter dan values sedini mungkin pada generasi muda kita. “Jangan sampai bonus demografi Indonesia yang digadang-gadang akan mendatangkan berkah bagi bangsa malah sebaliknya menjadi musibah, diakibatkan kualitas generasi muda yang bermental lemah,” tutupnya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA