Senin, H / 08 Agustus 2022

Tradisi Mudik di Indonesia, dari Udik sampai Munduh Ditilik

Senin 11 Jun 2018 08:28 WIB

Singgih Wiryono/Anadolu

Arus Mudik (Ilustrasi)

Foto: Twitter

ESQNews.id, JAKARTA - Di Indonesia, mudik sudah menjadi tradisi. Menjelang Idul Fitri, masyarakat perantau di perkotaan berbondong-bondong pulang kembali ke kampung halaman.


Sejarawan JJ Rizal mengatakan, dalam tradisi Betawi Melayu, mudik adalah perjalanan ke arah selatan, seiring muasal aliran besar Sungai Ciliwung yang dari hulu atau udik. Seturut eksodus penduduk pada waktu itu yang mengarah ke selatan, sesuai asal pekerja, pembantu atau warga kampung yang menyebut Batavia sebagai kota.


“Dari kapan tradisi itu mulai ada, tidak ada data yang pasti. Tetapi terkait mulanya orang-orang yang menjadi jongos dan babu harus pulang ke udik atau kampung,” ujar dia di Jakarta, Ahad (10/6).


Pada masa Hindia-Belanda, kata Rizal, penggunaan kata udik juga merujuk pada perpindahan dari kota benteng Batavia akibat penyakit dan membuat penduduk harus beralih dari utara ke selatan.


Jika dalam istilah Betawi Melayu mudik berarti kembali ke udik, maka dalam tradisi Jawa, mudik berarti munduh ditilik.


“Itu hanya masalah utak-atik kata, tapi istilah mudik itu lahir dari konsep pertumbuhan kota ketika ada urbanisasi,” ujar Rizal.


Terkait mudik yang menjadi tradisi perantau kembali ke kampung halaman saat Idul Fitri, kata JJ Rizal, mudik dapat berarti mengingat asal.


“Mengingat leluhur, artinya mengingat identitas asal kita. Nah, dalam Islam identitas asal kita itu kan artinya fitrah, fitrah manusia kan baik. Otomatis mudik harus menjadi pelajaran bagaimana kita menjadi manusia yang lebih baik,” tutur Rizal, panjang lebar.


Tak heran bila di musim mudik, perantau rela mengeluarkan ongkos berlipat dan menempuh perjalanan panjang penuh kemacetan serta risiko demi kembali ke identitas asal.


Seiring kian gencarnya urbanisasi, kata Rizal, istilah mudik tak melulu digunakan untuk menujukan pulang ke selatan, namun bisa berarti ke mana saja. Ke utara, barat, atau timur.


“Apalagi perantau di Jakarta datang dari mana-mana, mereka bisa kembali ke udik yang di mana saja,” ujar Rizal.


Pun, mudik yang mulanya hanya menjadi urusan sekelompok kecil jongos dan babu, kini telah menjadi urusan nasional. Menjelang musim mudik, pemerintah rutin mempersiapkan akses transportasi dan keamanan.


“Ini menjadi sangat serius karena menyadarkan kita bahwa dalam perjalanan sejarah kita menemukan ada persoalan kesenjangan dan keterpusatan ekonomi yang mengerikan, semengerikan tol Brebes Exit 2016,” ujar Rizal.


Tragedi Brexit 2016 merupakan salah satu tragedi mudik lebaran yang memakan korban. Dikabarkan belasan korban meninggal saat lebaran 2016 di jalur keluar pintu tol Brebes.


Berita tragedi kematian musim mudik tersebut bahkan terekspose di banyak media Internasional. Beberapa diantaranya menyebut 15 orang tewas dari tragedi tersebut.


Meski mudik lebaran telah menjadi tradisi di Indonesia, namun, kata Rizal, eksodus besar-besaran ini telah dikenal banyak bangsa. Di antaranya dengan mudiknya warga Amerika saat perayaan Thanksgiving day dan warga Tionghoa saat tahun baru Imlek.


Di Indonesia, angka pemudik terus meningkat tiap tahun. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik tahun ini mencapai 19,5 juta orang. Meningkat ketimbang 2015 lalu yang hanya 18 juta, pada 2016 sebanyak 18,6 juta dan 2017 sebanyak 19 juta.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA