Senin, H / 28 November 2022

Amanah Kelebihan-Kekurangan [Part 1]

Senin 25 Mar 2019 08:21 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: istimewa

Oleh: M. Nurroziqi

 

ESQNews.id - "Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Q.S. Al-Isra': 21-22).


Satu waktu, terdapatlah seorang yang telah berhasil menguasai satu bidang kedigdayaan. Konon, Brajamusti namanya. Kekuatannya dahsyat. Benda sekeras apa pun, sekali sentuh dengan telapak tangan sang empunya kedigdayaan itu, seketika ambyar berkeping-keping. Lebih tinggi lagi, bahkan bisa dari jarak sangat jauh, hanya dengan hentakan nafas. Ruar biasa, bukan? Jangan bayangkan jika kedahsyatan jenis kedigdayaan ini sampai menyentuh kulit manusia. Bisa amblas seketika.


Anehnya, semenjak menguasai kedigdayaan tadi, tangan sang empunya selalu gatal setiap kali melihat benda-benda keras di sekelilingnya. Pikirannya, selalu tertuju pada keinginan untuk selalu dan segera menjajal keampuhan Brajamusti-nya. Seakan, jangan sampai ada bongkahan batu yang utuh. Semua harus ambyar. Kerennya lagi, setiap kali ada keramaian dalam moment-moment tertentu, hari perayaan atau memperingati hari-hari tertentu, sang empunya jenis kedigdayaan tadi selalu ingin menampilkan kebolehannya. Harus manggung, wajib atraksi, berapa pun banyaknya isi dompet yang musti dikeluarkan untuk membeli benda-benda keras yang bisa dijadikan sasaran kedigdayaannya.


Baru, selepas itu, ada perasaan puas. Terdapat kebanggaan-kebangaan yang bisa segera dinikmati. Lebih-lebih, ketika terdapat banyak pasang mata yang berdecak kagum atas apa yang dikuasainya.


Demikianlah gebyar kehidupan dunia. Dan, Hal serupa ilmu kedigdayaan tadi, adalah salah satu contoh saja dari sekian banyak sesuatu yang dianggap sebagai kebisaan atau keberpunyaan yang menempel pada diri manusia. Mengenai apakah itu kelebihan ataukah kekurangan, jelas kembali pada diri masing-masing bagaimana memaknai semua itu. Yang jelas, manusia diciptakan beragam, tidak ada yang sama persis. Sehingga, dalam keberagaman tadi, masing-masing seringkali memandang sebagai kelebihan dan kekurangan atas manusia lain. Dari sinilah, kemudian dalam khazanah Jawa muncul istilah "wang sinawang" atau selalu saja muncul ketidakpuasan diri, sebab apa yang dipunyai orang lain dianggap selalu hebat nan bagus, dan selalu mendorong diri untuk bergegas segera memiliki.


Baca juga : Amanah Kekurangan-Kelebihan [Part 2]


Akan tetapi, hidup tidak sekadar memuasi diri dengan kelebihan atau kekurangan itu. Sama sekali bukan tentang untuk bisa saling unggul nan jadug di antara yang lain. Justru, mulanya hidup adalah titik netral, berada dalam kondisi yang benar-benar kosong, fitrah. Kemudian, atas segala rupa bekal yang dianugerahkan Allah Swt, baik itu yang dinilai sebagai kelebihan atau kekurangan, manusia harus bisa memaksimalkan demi satu pengabdian dan penghambaan total kepada-Nya.


Jangan sampai apa yang disebut-sebut kelebihan atau kekurangan, juga segala bentuk pencapaian dunia, justru mempertebal hijab antara diri yang hamba ini dengan Allah Swt Yang Maha Disembah. Sebab, ada tipe manusia yang begitu memiliki satu kelebihan baru, menapaki satu pencapaian tertentu atau sebaliknya, tiba-tiba berada dalam suasana berkekurangan, justru seluruh konsentrasi dan fokus diri hanya tertuju pada semua itu tadi. Sampai-sampai lupa menyebut-nyebut Allah Swt sebagai Yang Maha Menganugerahi semua. Sepanjang waktu hanya sibuk membanggakan diri, rajin menyombongkan diri.


*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA