Selasa, H / 28 April 2026

Langka, Metode Coaching dalam Kurikulum Belajar di ESQ Business School Jadi Panduan untuk Ilmu Parenting

Rabu 21 Dec 2022 21:57 WIB

Reporter :EDQP

Potret saat kegiatan berlangsung

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA - Mengingat, langkanya kurikulum akademis di sekolah serta perguruan tinggi terkait ilmu parenting atau pembekalan menuju kehidupan untuk berkeluarga, sehingga banyak oknum yang merasa 'haus' dan perlunya edukasi lebih demi keharmonisan hubungan dalam rumah tangga.


Memiliki rasa kepedulian yang tinggi, Kampus ESQ Business School menggelar Event Parenting Series. Moment ini telah digelar sebanyak 2 kali, yakni pada tanggal 27 November 2022 (series 1) dan 17 Desember 2022 (series 2). Rencananya, akan ada series berikutnya setiap 2 minggu sekali.


Sebagai informasi, series pertama mengusung tema "Membersamai Remaja dengan Kesadaran Diri" dan series kedua bertemakan "Energic of Parenting: Orang Tua Optimis Bagi Remaja yang Dinamis."


Untuk series pertama dipandu oleh Coach Desi Yuliana (Professional Coach dari Asosiasi 3.0 Coaching), Coach Venny (Trainer lisensi Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian) yang didampingi juga oleh Khoirunnisa Mufidah (Mahasiswa ESQ Business School semester 5).


<more>


Coach Desi coba menelaah permasalahan terkait banyaknya orang tua yang risau soal cara mendidik anak khususnya remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Terkadang treatment yang dilakukan berbeda dan menimbulkan dampak yang berbeda dari harapan orang tua. 


"Dan kerap kali, orang tua juga semakin resah karena banyaknya informasi yang beredar menjadikan anak-anak terpaku pada gadget dan mengikuti informasi yang beredar yang belum tentu baik untuk diikuti." 


Adapun keresahan lainnya dari para orang tua yaitu melihat dampak lingkungan yang berpengaruh besar memecah benteng yang sudah di bangun di dalam rumah, sehingga mereka membutuhkan seminar seminar parenting seperti ini untuk menemukan solusi dan cara merawat anak-anak mereka dimanapun berada. 


"Coaching bisa menjadi solusinya. Coaching adalah sebuah seni bertanya untuk menemukan goals dari masa kini ke masa depan. Dengan bertanya, bukan menghakimi, anak akan merasa trust dan keberadaaan kita diyakini oleh mereka. Sehingga mereka dengan mudah menyampaikan keluh kesahnya sebagai anak," papar Desi, Direktur Sales and Marketing ESQ Business School.




Coach Desi dan Coach Venny sepakat bahwa Energi adalah faktor utama, kalau energi orang tua bahagia, maka anak akan bahagia. Kalau orang tua sudah selesai dengan masalahnya sendiri, maka orang tua akan dengan leluasa membantu problematika anak. 


Coach Venny yang juga seorang Dosen Karakter di ESQ Business School itu juga menyampaikan bahwa kesadaran diri dalam energi yang Low akan membuat kita hanya menyiksa diri atau sengsara, sedangkan high energi kita bisa meng-influence banyak orang termasuk anak-anak dan anggota keluarga di rumah.


"Untuk orang tua juga harus mulai Stop Virus Komunikasi, mengapa? Agar saling memahami bahwa hal-hal seperti, menyalahkan, mengungkit-ungkit, membandingkan dan lainnya itu bisa merusak kepercayaan orang tua ke anak dan sebaliknya."


"Edukasi ini penting dipahami orang tua supaya terbiasa memilih dan memutuskan akan bersikap seperti apa, memilih dan memutuskan yang baik saja yang keluar dari pikiran, hati dan lisannya," terang Venny dihadapan puluhan orang tua (yang beberapa di antaranya berprofesi menjadi guru).


Venny berkata, "Sehingga harapannya bapak dan ibu bisa menjadi orang tua yang optimis bagi anak-anak remaja yang saat ini sangat dinamis dan mudah berubah emosinya."




Pada Series pertama ini ada Salah Satu Mahasiswa ESQ Business School yang sharing tentang aktivitasnya sebagai anak, sehingga seminar ini bisa melihat dari 2 sisi, baik dari sisi anak dan sisi orang tua. 


Nisa panggilan akrabnya, mahasiswa semester 6 merasakan perubahannya setelah memasuki ESQ. Nisa merasa bahwa, ketika seorang anak memiliki ketenangan dalam dirinya, maka akan tersampaikan kepada orang tua. Sehingga antara orang tua dan anak bisa saling memahami. 


"Saya bisa bersikap seperti itu karena di ESQ Business School diajarkan bagaimana caranya mengelola respon yang dikeluarkan ketika ada kejadian yang tidak bisa dirubah dan di luar kendali," katanya.




Ia juga mengaku bahwa dirinya diberikan ilmu Coaching selama 1 semester, sehingga ketika menyelesaikan masalah dengan orang tuanya, Nisa kerap menerapkan beberapa step coaching mulai dari pendekatannya, cara bicaranya yang tenang, menanyakan keinginan orang tuanya seperti apa serta menyampaikan keinginan Nisa sebagai anak.


"Sehingga ini lah yang membentuk karakter (positif) saya. Yang mungkin berbeda dengan karakter anak-anak di luar sana, yang tidak setuju dengan pendapat atau menyikapi orang tuanya," tutur Nisa.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA