Jumat, H / 24 September 2021

Telkomsel ‘Check Up’, Tahun Ke-9 ACT Consulting Jadi Dokter Keluarga Bagi Telkomsel

Kamis 11 Feb 2021 15:09 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Potret saat kegiatan berlangsung

Foto: dok. ESQ

70% transformasi yang pernah dilakukan gagal karena hanya menggunakan ‘Kepala (Head)’ tanpa ‘Hati (Heart)’. Pemimpin yang berhasil dalam melakukan transformasi adalah mereka yang melibatkan aspek ‘Hati (Heart)’ – John Kotter.

ESQNews.id, JAKARTA – Memasuki tahun ke-9, Telkomsel kembali ‘check up’ pada ACT Consulting untuk mengetahui kesehatan organisasinya. Kesehatan tersebut diukur dengan metode Organization Culture Health Index (OCHI). 

ACT Consulting sebagai “dokter keluarga” telah membantu memeriksa kesehatan Telkomsel secara menyeluruh. Sebelumnya, Lembaga Konsultan Pelatihan Transformasi Budaya Perusahaan dan Organisasi tersebut sudah melakukan survei secara online.

Survei tersebut dilakukan oleh 5271 responden. Hasilnya dipaparkan langsung oleh Ary Ginanjar Agustian (President ESQ Group) dan Dwitya Agustina (Direktur ACT Consulting) pada Kamis (11/2/2021) secara online.

Turut hadir di dalamnya yaitu Setyanto Hantoro (Direktur Utama Telkomsel), R Muharam Perbawamukti (Endi) selaku Direktur HCM dan lainnya.

<more>

“Terimakasih Pak Ary dan Tim ACT Consulting yang sudah mengukur kesehatan Telkomsel. Setelah membaca hasil laboratorium culturenya Telkomsel, masukan yang sangat berharga buat Telkomsel,” kata Setyanto mengapreasiasi kinerja ACT Consulting. 

Pria yang akrab disapa Anto ini, mengatakan bahwa hal tersebut adalah tugasnya dengan Direktur HCM. Setelah mereka mengetahui hasil laboratoriumnya, tinggal mencari treatment atau pengobatan untuk Telkomsel.



“Terimakasih juga atas kepercayaan Telkomsel kepada ACT Consulting. Mengapa ini penting? Karena tubuh kita perlu melakukan check up kesehatan kepada seorang dokter. Kita tidak tahu apakah diri kita sehat atau tidak. Sama halnya dengan organisasi yang harus diukur atau diperiksa kesehatan di dalamnya,” tutur Ary yang nampak gagah mengenakan kaos berkerah warna merah.

Ary Ginanjar yang kebetulan mantan dealer Telkomsel 25 tahun silam itu, menyampaikan bahwa yang membuat perusahaan atau organisasi bertahan terletak pada Core Values dan Core Purpose-nya. Tak hanya itu, selain kompetensi, sebuah organisasi juga diharapkan mampu memiliki Agility dan Capability-nya.



“Telkomsel sudah punya kompetensi dan memiliki agility yang menjadi tradisi Telkomsel. Selanjutnya adalah capability atau keluasan mental dan batin agar siap menahan goncangan yang menerpa,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Dwitya beserta tim ACT Consulting berfokus kepada 6 area untuk melihat budaya organisasi di Telkomsel di antaranya dari segi Sustainability, Relationship, Performance, Growth, Common Goals, Meaning Purpose. 



“Dari mapping terhadap 6 area tersebut kita akan melakukan analisis terhadap 6 index. Apabila toxic-nya tinggi maka positif energinya rendah, begitupun sebaliknya,” sambungnya.

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA