Selasa, H / 30 Mei 2023

Ramadhan: Perangkat Menjaga Kesucian Manusia

Senin 20 Mar 2023 08:59 WIB

Author :Kontributor

Ilustrasi

Foto: nationaltoday.com

Oleh: M. Nurroziqi (Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya)


ESQNews.id, JAKARTA - Manusia ini, sejak terlahir memang dikondisikan untuk mencintai kebersihan. Kita perhatikan anak-anak bayi itu. Jika tubuhnya kotor, akan merasa tidak nyaman yang diluapkan dengan tangisan. Ini, menandakan bahwa manusia terlahirkan dalam keadaan yang mencintai kebersihan. Masih bayi, tidak ada manusia yang mengajari. Ini yang dinamakan naluriah, secara alami di dalam diri setiap manusia. Dalam bahasa agamanya, suci. Setiap manusia terlahirkan dalam kondisi yang suci atau fitrah.


Dalam perjalanan hidupnya pun, manusia cenderung dikondisikan untuk tetap mencintai kebersihan. Dalam sehari, berapa kali kita membersihkan diri, yang wujudkan mandi? Apalagi muda-mudi jaman sekarang. Demi menjaga penampilan, amat terlampau sering membersihkan badan dan mengguyurnya dengan wewangian. Jika tidak mandi, badan menjadi terasa kurang nyaman. Malu mau bertemu dengan seseorang.


Bahkan, Kebiasaan orang-orang tua dulu, segera mengeluarkan segala rupa sampah di dalam rumah ketika matahari hendak terbenam. Tidak lain demi menjaga tempat tinggalnya tetap nyaman tanpa adanya kotoran. Juga, ketika hendak memasuki rumah setelah dari aktivitas di luar rumah, orang-orang tua mengajari untuk membersihkan diri dulu. Entah sekadar mencuci tangan dan kaki. Ini memberikan pengertian bahwa jangan sampai ada kotoran luar yang ikut terbawa masuk ke dalam rumah.


Bahkan, orang-orang tua dulu, rajin sekali membersihkan rumah. Hampir setiap pagi dan sore hari. Sampai bersih. Saking pentingnya kebersihan ini, sehingga ada ungkapan yang terkenal sekali, "Kalau nyapunya tidak bersih, nanti tumbuh godek." Ungkapan ini adalah bentuk sindirian bagi yang tidak pandai menjaga kebersihan. 


<more>


Secara badani, manusia cenderung sangat rajin menjaga kebersihan. Kebersihan yang berbentuk fisik. Kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan makanan, kebersihan tempat tinggal, kebersihan lingkungan, dan kebersihan-kebersihan lainnya.


Semestinya, kebersihan yang badani atau fisik ini adalah cerminan dari kondisi ruhani yang juga bersih. Bukan sebaliknya. Dan kebersihan ruhani atau batin di sini, adalah tidak adanya dosa di dalam diri. Tentu, bukan tidak berdosa sama sekali. Wong namanya juga manusia. Akan tetapi, kesanggupan manusia di dalam menjaga dirinya untuk sesering mungkin membersihkan dosa dan kesalahan diri. Sekaligus menjaga dirinya agar tidak lagi terjerembab pada dosa dan kesalahan. 


Sebagaimana badan yang harus mandi setiap hari agar bersih, serupa rumah yang musti setiap hari disapu, maka ruhani pun demikian. Harus dimohonkan ampun kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang ada.


Rasulullah SAW yang dipastikan terjaga dari dosa saja, minimal 100 kali membaca istighfar. Apalagi kita, manusia biasa yang tidak ada jaminan terbebas dari salah dan dosa. Seharusnya jauh lebih banyak lagi beristighfar dalam rangka menjaga kebersihan ruhani.


Beruntunglah kita yang Muslim. Dianugerahi banyak sekali media untuk mensucikan diri. Menjaga kebersihan ruhani sekaligus badani. Dalam sehari semalam, kita diwajibkan sholat lima waktu. Ini, untuk mengkondisikan diri seseorang agar tetap dalam kondisi bersih atau suci.


Bersih secara badani karena setiap ibadah harus diawali dengan kondisi badan yang bersih atau suci, pakaian dan tempat ibadah yang juga suci. Kemudian, ibadahnya sendiri adalah menjaga kesucian diri, dan terhindar dari hal-hal yang mengotori. Innassholaata tan-ha 'anil fahsyaa-i wal munkar. (Q.S. Al-Ankabut: 45). "Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar."


Tidak hanya yang bersifat harian, ibadah yang diperuntukkan umat Muslim, mingguan pun ada. Bentuknya sholat Jum'at. Ini pun tidak lain untuk menjaga kondisi bersih dan suci di dalam diri umat manusia. Kemudian, masih dianugerahi sarana tahunan, wujudnya puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan ini yang nyata betul untuk kembali mengkondisikan manusia dalam fitrahnya yang suci.


Ramadhan yang beberapa hari lagi datang, haruslah kita sambut dengan suka cita. Sepenuh bahagia. Karena Ramadhan dihadirkan sebagai wujud Maha Belaskasih-Nya Allah SWT. Saking Maha Pemurah-Nya Allah SWT, sehingga baru merasa senang akan hadirnya Ramadhan saja, Allah SWT sudah mengharamkan manusia memasuki neraka. (Man fariha bidukhuli romadhon harromallohu jasadahu 'alan niiroon.) Yang otomatis keharaman ke neraka ini menjadi pertanda bahwa terampuni setiap salah dan dosa manusia.


Artinya, manusia sudah dinilai sebagai makhluk suci kembali. Ini baru senang, belum puasanya, belum ibadah-ibadah yang adanya hanya di bulan Ramadhan, seperti sholat Tarawih dan Zakat Fitrah.


Sehingga, setiap momentum Ramadhan, jangan sampai hanya dijadikan rutinitas yang tanpa bekas sama sekali. Jangan hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Jangan. Eman sekali. Sebab, kemuliaan Ramadhan adalah hadiah luar biasa yang dianugerahkan Allah SWT kepada umat beriman.


Mumpung Ramadhan, ibadahnya harus lebih semangat dan rajin. Sehingga, kita bisa benar-benar kembali menjadi manusia suci. Manusia yang terampuni segala dosa dan salahnya. Manusia yang berpredikat taqwa yang senantiasa menghamba hanya kepada Allah SWT.


Sekali lagi, marilah kita ingat-ingat Sabda Rasulullah SAW melalui Abu Hurairah berikut; "Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya, "Bulan Ramadhan telah datang. Ramadhan adalah bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan puasa atas kalian. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat dan setan-setan dibelenggu di dalamnya. Di dalam bulan Suci Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari pada malam seribu bulan. Orang yang menghalangi kebaikan di dalam bulan Suci Ramadhan ini, maka dia akan terhalang dengan kebaikan." (HR. Imam Ibn Hanbal).


Selamat menyambut bulan Ramadhan. Semangat beribadah sepenuh hati, sekuat diri.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA