Selasa, H / 05 Juli 2022

Puluhan Agen Perubahan Perpustakaan Nasional Kuasai Ilmu Coaching dari ESQ untuk Hadapi 7 Point Ini!

Selasa 12 Apr 2022 14:24 WIB

Reporter :EDQP

Potret Saat Acara Berlangsung

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA – Di Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) ini lahirlah beberapa generasi baru selain milenial yakni zelenial, alpha, strawberry dan lain sebagainya. Menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya dan dalam salah satu kesempatan kuliah online melalui streaming youtubenya, strawberry generation adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Definisi ini dapat kita lihat melalui laman-laman sosial media. Begitu banyak gagasan- gagasan kreatif yang dilahirkan oleh anak-anak muda, sekaligus pula juga tidak kalah banyak cuitan resah penggambaran suasana hati yang dirasakan oleh mereka.


Founder ESQ Group, Ary Ginanjar Agustian juga mengatakan hal serupa mengenai generasi strawberry bahwa, “Mereka hidup di generasi yang biasanya mudah melting perasaannya, baper, dikit dikit selalu ingin healing, mudah stres. Ya persis seperti buah strawberry yang lunak, mudah terurai dan lainnya.”




“Oleh karenanya, Harvard Business Review memberikan tiga tips bagaimana caranya untuk menangani mereka yakni dengan social networking, people development and coaching, serta collaboration,” jelas Ary.


Berbicara soal Coaching, puluhan Agen Perubahan dari Perpustakaan Nasional ikuti program ESQ 3.0 Coaching Academy selama 6 hari pada bulan Maret 2022 secara offline di Perpustakaan Nasional Jakarta. Mereka dipandu langsung oleh master Coach yaitu Arief Rahman Saleh, Huda, Sandi Muharram (trainer lisensi dari Ary Ginanjar Agustian) dari pagi hingga sore.


Metode Coaching adalah sebuah teknik bertanya dan mendengarkan seseorang tanpa ada unsur menasehatinya. Tujuannya adalah untuk menggali potensi yang ada pada dirinya, perencanaan strategi, bahkan mempunyai perencanaan untuk menyelesaikan permasalahannya tanpa diberikan saran atau masukan dari orang lain.




Sebelumnya, Ary Ginanjar Agustian bertanya kepada para peserta training tentang harapan dari program yang mereka ikuti tersebut. Lantas, Ary menyimpulkan ada 7 macam harapan selain mendapat sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di antaranya untuk self development, communication skill, generation GAP, leadership skill, agility, creativity and innovation, finding meaning and purpose.


“Saya simpulkan ada 7 harapan dari pelatihan kali ini yaitu ingin mengembangkan potensi diri, memiliki kemampuan komunikasi yang handal untuk hadapi berbagai generasi terutama strawberry ini, mengatasi generation GAP, meningkatkan cara memimpin yang handal untuk para pegawainya, memiliki agility, bisa meningkatkan  creativity and innovation diri maupun orang lain, menemukan makna dan tujuan hidup bagi diri maupun orang lain. Yang pada akhirnya kalian akan mendapat certified professional coach yang diakui BNSP di dunia profesi baru,” papar Ary dalam layar Zoom dengan semangat membara.


<more>


Kemudian Coach Arief pun menjelaskan dampak dari harapan-harapan tersebut melalui ilmu coaching, “Menurut deloitte millennial survey tahun 2018 mengatakan bahwa perusahaan dan pimpinan yang paling memilki keselarasan dengan milenial dalam hal purpose, budaya organisasi, dan pengembangan diri menunjukan kinerja keuangan lebih baik.”




Di akhir sesi, beberapa agen perubahan perpusnas menyampaikan kesan pesan yang didapatkan selama 6 hari mengikuti program coaching di antaranya:


“Mengikuti ESQ 3.0 Coaching Academy ini sangat bermanfaat. Dimana saya bisa menemukan inner drive saya dan bisa membantu sesama manusia untuk mencapai tujuan dari hidupnya. Tentu saja sebagai pegawai di perpustakaan nasional bisa membantu rekan rekan kerja, para pengelola perpustakaan serta seluruh pustakawan di Indonesia untuk mencapai tujun mencerdaskan anak bangsa.”




“Tak terasa selama enam hari saya mengikuti satu ilmu yang baru yang disebut dengan coaching. Ini adalah kolaborasi antara perpusnas dengan ESQ. Seperti yang diketahui, disiplin ilmu coaching salah satu cara untuk menggali potensi yang dimiliki seseorang  dengan melihat hambatan untuk mencapai tujuannya. Maka saya pikir ilmu ini sangat baik dan hebat sekali sehingga kita mampu mengaplikasikannya untuk kehidupan sehari hari. Dan di perpusnas tentu sangat bermanfaat sekali bagaimana kita melayani masyarakat dan bagaimana caranya meningkatkan kinerja di perpusnas ini.”




“Alhamdulillah terasa sekali manfaatnya untuk kita bisa menggali potensi emas yang ada di dalam diri kita, di dalam orang orang sekitar kita. Dengan ilmu ini semoga lebih membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.”




Selain insan Perpusnas, adapun peserta lainnya yang berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, serta Indonesia. Puluhan peserta tersebut mengikuti pelatihan secara online melalui zoom meeting. Mereka datang dari berbagai instansi atau lembaga yang berbeda yakni Kemenkes, Yayasan Pondok Inspirasi, Pemerintah Kabupaten Sambas, PT Transformasi Digital Indonesia, Pusat Pengembangan SDM Aparatur Perhubungan, BNN, PT Bumi Reka Perdana, Astra Motor Salatiga dan lainnya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA