Jumat, H / 06 Agustus 2021

Pertamina Bantu UMK Naik Kelas dengan ‘Sulap’ Ini!

Kamis 04 Mar 2021 18:12 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Insan Pertamina

Foto: recruitment.pertamina.com

ESQNews.id, JAKARTA – Salah satu anak dari BUMN, yakni PT Pertamina siap berkomitmen dalam mendukung kelestarian alam dan pemberdayaan ekonomi kecil. Salah satunya melalui upaya pembinaan usaha mikro kecil (UMK) yang bergerak pada bidang pengolahan barang bekas.

 

Upaya ini menjadi cara untuk membantu UMK tersebut naik kelas dengan menyulap olahan limbah menjadi produk kreatif.

 

Andi Baso Achmad Palingrungi, sosok yang mampu mendaur ulang sampah berbahan dasar karung goni, benang dari jaring-jaring nelayan yang sudah tidak terpakai, botol-botol bekas, akar-akar kayu, bambu serta bahan daur ulang lainnya yang ramah lingkungan menghasilkan nilai ekonomi tinggi.



<more>

 

Tidak hanya itu, menurut laman Kementerian BUMN pada Kamis (4/3/2021), Andi Baso juga melakukan pelatihan-pelatihan daur ulang sampah ini bagi penyandang cacat (disabilitas), penyandang kusta, masyarakat pemulung, pengemis dan mantan penghuni lapas.

 

“Berawal saya tinggal di kawasan kumuh dan tidak ada orang yang peduli masalah sampah untuk diberdayakan. Jadi saya berinisiatif memberi mereka ilmu bagaimana memanfaatkan barang bekas bisa bermanfaat kembali,” ungkap Andi Baso.

 

Bersama delapan karyawan yang telah dilatihnya, ia menciptakan kerajinan tangan tersebut.

 

Peraih penghargaan Juara 1 kategori Mitra Unggulan Pemberdayaan Masyarakat di ajang Pertamina Award 2015, dan memulai pelatihan tersebut sejak 2010 dan hingga kini sudah ada ribuan anak didik yang telah dilatihnya untuk mandiri.

 

“Banyak masyarakat yang memandang sebelah mata para penyandang disabilitas dan penderita kusta. Hati nurani saya tergerak untuk memperhatikan mereka. Jika tidak ada yang memperhatikan siapa lagi yang mau memperhatikan,” kisahnya.



Dirinya mengakui, memang bukan hal yang mudah bisa mengajak masyarakat di sekitar tempat tinggalnya untuk mendaur ulang sampah, karena orang-orang cenderung berpikiran sampah itu kotor.


Akhirnya Andi Baso sangat bersyukur bisa mengubah paradigma tersebut dengan membuat barang yang tidak berharga tersebut hingga bisa diterima oleh kalangan menengah atas menjadi karya tangan yang bernilai.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA