Kamis, H / 17 Juni 2021

NLP di LAPAN, Trainer ESQ: Kita Harus Kompromi, Masuk Ke dalam Ego State

Selasa 20 Apr 2021 14:49 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Potret saat kegiatan berlangsung

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA – Selama dua hari pada Senin-Selasa (19-20/4/2021) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berkolaborasi dengan ESQ Leadership Center dalam rangka Training ESQ NLP secara online.

 

Program tersebut dibimbing oleh ahlinya, Coach Bramanto Wibisono (trainer lisensi dari Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian) yang telah memiliki NLP Certified.

 

Pria berkacamata itu siap memandu puluhan insan LAPAN dua hari penuh. Salah satu materi yang diberikannya yaitu tentang mental pathology.



<more>

 

Mental pathology terbagi menjadi state pathology dan karakteristiknya. State pathology terbagi menjadi 2 yaitu: Unwanted behavoiur (Retro Original, Retro Avoiding, Dissonant) dan Internal conflict (conflicted).

 

“Mental pathology dalam artian memunculkan perilaku yang tidak diinginkan yang muncul sejak kecil atau belajar dari lingkungan. Misal rasa malas atau menunda-nunda sesuatu.”



 

Kegiatannya tidak melulu memberikan teori semata, namun terjadi interaksi antara trainer dengan pesertanya. Ada sesi sharing, tanya jawab, curhat, game, senam tubuh sederhana, lantunan musik (agar tidak monoton), diskusi di breakout room, dan lain-lain.

 

Dirman, insan LAPAN yang bersedia menjadi praktisi NLP, supaya peserta lainnya bisa lebih paham dan dapat dipraktekkan lain waktu.

 

Sebagai contoh, Dirman mengaku memiliki sifat menunda-nunda sesuatu, kebiasaan mager atau malas gerak itu menimbulkan rasa nyaman pada dirinya.

 

“Nah kira-kira malas itu ada manfaatnya tidak sih? Apa sih niat atau tujuan baiknya? Mengapa menunda-nunda?” tanya Bram.

 

“Karena sudah terlanjur nyaman dan menjadi sebuah habbits,” jawab Dirman.

 

Peserta lain pun dengan sangat aktif menjawab pertanyaan Coach Bram:

 

“Malas membuat diri merasa nyaman dan lebih rileks”

 

“Malas karena butuh waktu istirahat, mengurangi kesibukan”

 

“Waktunya untuk bersama keluarga”

 

Masih banyak jawaban lainnya baik lewat kolom chat di zoom meeting ataupun berbincang secara langsung.



 

“Kita harus kompromi, masuk ke dalam ego state. Mengapa? Karna selalu ada niat baik di balik hal itu namun harus kita kelola. Misalnya boleh kita merasa malas namun jika berkepanjangan pun tidak baik bagi kita, artinya hanya sejenak saja.


Segala sesuatu sikap atau fitrah itu selalu baik, namun ada yang menutupi yaitu belenggu atau filter,” sambung trainer ESQ itu.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA