Minggu, H / 29 Januari 2023

Munchausen Syndrome: Pura-pura Sakit untuk Meraih Simpati (1)

Rabu 15 May 2019 08:21 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Ilustrasi

Foto: Munchausen Moms

ESQNews.id, JAKARTA - Rasa sakit kerap mengundang derita dan nestapa. Manusia melakukan berbagai upaya agar terhindar dari terjangkitnya penyakit. Namun kadang orang justru berharap sakit atau berpura-pura sakit untuk mengundang simpati sehingga terhindar dari tugas dan tanggung jawab.


Sakit, sering menjadi dalih orang untuk terlepas dari persoalan baik di rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Dalam istilah psikologi gejala tersebut dinamakan sebagai munchausen syndrome. Sebuah istilah yang diperkenalkan oleh seorang dokter Inggris pada tahun 1951 untuk orang yang membuat penyakit dalam diri mereka sendiri agar mendapatkan perhatian dan kendali atas orang lain. Sindrom ini diambil dari nama seorang tentara bernama Baron von Munchausen yang lahir tahun 1720 di Jerman. Namanya melejit karena kepiawaiannya dalam membual. Ia menulis cerita peperangan dahsyat yang menempatkan dirinya sebagai hero dalam setiap peristiwa.


Selama kurun waktu yang cukup panjang, orang beranggapan bahwa karya Munchausen tersebut merupakan kisah nyata. Kepiawaianya menjadikan fantasi seolah fakta, membuat banyak orang yang menyanjungnya. Namun kemudian kebenaran pun terkuak setelah sang istri meninggal. Munchausen terlilit hutang dan terlibat berbagai skandal. Iapun akhirnya meninggal bersama segala fantasi, kepura-puraan, dan kebohongannya.


Sifatnya yang suka membual ini kemudian dijadikan label salah satu bentuk gangguan psikologis. Munchausen syndrome menurut Feldman dan Armstrong adalah: “Suatu jenis gangguan psikologis dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk berbohong yang ditimbulkan oleh khayalan atau fantasi-fantasinya”. Munchausen syndrome erat kaitannya dengan factitious disorder dan malingering. Factitiousdisorder merupakan prilaku pura-pura sakit untuk menghindari tanggung jawab, sedangkan malingering adalah prilaku kepura-puraan dengan maksud memperoleh reward, imbalan atau kompensasi tertentu.


Dalam sumber lain munchausen syndrom juga merujuk pada prilaku seseorang yang merasa dirinya sebagai seorang pahlawan namun sesungguhnya dialah sumber penderitaan orang lain. Prilaku penderita gangguan ini sering kali melakukan tindakan membahayakan keselamatan orang lain, namun ia berpura-pura menjadi dewa penyelamat dengan motivasi untuk memperoleh simpati dari keluarga dan lingkungan masyarakat. Khalayak perlu mewaspadai gejala penyakit ini karena para penderita sering membahayakan keselamatan anggota keluarga atau lingkungan dekatnya.


Baca juga: Munchausen Syndrome: Pura-pura Sakit untuk Meraih Simpati (2)


Gejala munchausen syndrome berkaitan dengan masalah kepribadian seperti kontrol impulse lemah atau prilaku merusak diri. Untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya sakit, biasanya dia melakukan berbagai hal agar tampak benar-benar sakit. Jika perlu bahkan bisa melukai diri sendiri, menunjukkan gejala-gejala palsu, atau mengkontaminasi sampel uji laboratorium.


Tanda-tanda munchausen syndrome:

-  Cenderung dramatis dan menyampaikan sejarah medis yang tidak konsisten.


-  Gejala tidak jelas, sulit dikontrol, dan tampak menjadi makin menderita ketika pengobatan dimulai.


-  Munculnya gejala baru jika tes menunjukkan hasil negatif.


-  Tidak adanya keinginan atau usaha untuk melakukan tests medis, tindakan operasi, atau prosedur lain.


-  Jika melakukan pengobatan sering berpindah rumah sakit, klinik, tempat praktek dokter yang berbeda-beda  bahkan jika perlu ke kota yang berlainan.


-  Malas mengikuti petunjuk kesehatan atau saran baik dari saudara maupun teman yang peduli.


-  Umumnya kurang percaya diri.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA