Jumat, H / 22 Oktober 2021

Membaca dan Kemajuan

Senin 20 Sep 2021 13:29 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Illustrasi

Foto: readwk.com

Oleh: M. Umar Abdurrahman (Siswa kelas 9 di MILBoS Internasional)


ESQNews.id, JAKARTA - Membaca itu mudah dan bermanfaat. Namun sayangnya di Indonesia, kegiatan membaca dianggap sangat membosankan. Sebabnya karena tidak terbiasa membaca sejak muda atau karena kondisi keluarga yang tidak mendukung.


Sebagai negara yang mayoritas muslim, sangat mengherankan kalau orang Indonesia tak banyak yang suka membaca, kecuali komik atau novel. Komik dan novel bukannya tak bermanfaat, tapi karena keduanya tak memberi manfaat yang sesignifikan buku pengetahuan. Kecuali beberapa jenis komik atau novel yang menyebarkan pengetahuan melalui cara yang lebih menyenangkan.




Kembali lagi, Islam mungkin satu-satunya agama yang datang dengan (tegas) perintah MEMBACA. Pada surat Al Alaq 1-5, ayat pertama IQRO (اقرأ). Disebut pertama kali yang merupakan fi'il Amr (kata kerja perintah) dari fi'il (kata kerja) قرأ-يقرأ yang berarti 'membaca'. Kata perintahnya "BACALAH!".


Pertanyaannya, kenapa (atau apa hikmah) perintah MEMBACA pertama kali diturunkan kepada utusannya Muhammad shallallahu'alaihiwasallam, bukan bertawakkal lah, bukan shalatlah? Tentu ada hikmah yang sengaja Allah berikan.


<more>


Salah satu manfaat yang mungkin semua orang tahu adalah (dengan membaca) itu menambah pengetahuan dan wawasan. Misal ketika kita membaca 5 buku sejarah nabi (siroh Nabawiyah) yang ditulis 5 penulis berbeda pasti tulisannya berbeda.


Ada sedikit detail yang membedakan setiap buku dan itu menjadi tambahan pengetahuan yang mungkin tak bisa didapat dari membaca 1 buku saja. Dan itu akan menguatkan kebenaran suatu peristiwa (dalam siroh misalnya) jika peristiwa itu disebutkan lebih dari sekali.


Di zaman pra-Islam, di Jazirah Arabia, orang yang bisa membaca dan menulis sangatlah sedikit. Sekarangpun seseorang yang tak bisa membaca atau menulis akan dianggap bodoh. Dalam sejarah, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) ikut sekolah formal hanya beberapa tahun saja, lalu dengan bekal suka MEMBACA bisa menghasilkan belasan novel bersastra dan puluhan buku pengetahuan. Beliau seorang ulama hebat.


Dari karya-karyanya itu, membuatnya mendapat gelar professor dan gelar doktor kehormatan dari Universitas dalam negeri dan luar negeri (Al Azhar University). Penulis dari Minangkabau ini dikenang karena buku-bukunya yang berpuluh-puluh itu.


Di antara hikmah wahyu pertama perintah membaca tersebut bahwa Islam menginginkan sesuatu, yaitu menjadikan umatnya sebagai umat yang berilmu pengetahuan knowledgeable society. Dengan adanya masyarakat agamis yang berpengetahuan, maka kemajuan akan tercapai dengan lebih mudah. In syaa Allah. Wallahu a'lam


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA