Minggu, H / 29 Januari 2023

Kisah Amy Purdy, Pemain Snowboard Dunia yang Kehilangan Kedua Kakinya [Part 3]

Rabu 13 Nov 2019 09:54 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Amy Purdy

Foto: mydomaine


ESQNews.id - “Pada satu titik saya membuat trauma semua pemain ski di lift kursi ketika saya jatuh dan kaki saya, masih menempel di papan seluncur salju, terbang menuruni gunung, dan saya masih berada di puncak gunung. Saya sangat terkejut, saya sama terkejutnya seperti orang lain, dan saya sangat kecil hati, tetapi saya tahu bahwa jika saya dapat menemukan sepasang kaki yang tepat maka saya akan dapat melakukan ini lagi,” kisahnya.

 

“Saya mengetahui bahwa perbatasan dan hambatan kita hanya dapat melakukan dua hal: satu, hentikan kami di jalur kami; atau dua, paksa kami untuk menjadi kreatif.”

 

Ia mencari pihak yang dapat membantu membuat merancang kaki sendiri. Ia dan pembuat kaki mencipakan sepasang kaki yang bisa digunakan untuk snowboard. Ia memiliki kaki ini sebagai hadiah ulang tahun ke-21  seperti juga  ginjal baru dari ayahnya -yang memungkinkan ia bermain seluncur salju, lalu kembali bekerja, dan kembali ke sekolah.

 

Tahun 2005 ia mendirikan sebuah organisasi nirlaba untuk remaja dan dewasa muda dengan cacat fisik sehingga mereka dapat mengikuti olahraga aksi. Ia pun berkesempatan pergi ke Afrika Selatan, tempat saya membantu mengenakan sepatu di atas ribuan kaki anak-anak agar mereka bisa bersekolah.

 

Februari lalu, ia memenangkan dua medali emas Piala Dunia berturut-turut yang membuatnya menjadi snowboarder wanita dengan peringkat tertinggi di dunia.

 

Sebelas tahun yang lalu, ketika kakinya hilang, ia merasa tak memiliki harapan. Namun jika saat ini ia diberikan pilihan untuk mengubah situasi, maka ia akan mengatakan tidak akan pernah. Kehilangan kaki ternyata tidak melumpuhkannya.

 

“Hal itu memaksa saya untuk mengandalkan imajinasi saya dan untuk percaya pada kemungkinan. Itulah sebabnya saya percaya bahwa imajinasi kita dapat digunakan sebagai alat untuk menerobos perbatasan, karena dalam pikiran kita, kita dapat melakukan apa saja dan kita bisa menjadi apa saja,” papar Amy.

 <more>

Karena itu Amy mengajak untuk tidak lelah bermimpi dan berimajinasi. Menurutnya percaya pada mimpi-mimpi itu dan menghadapi ketakutan kita secara langsung yang memungkinkan kita menjalani hidup kita di luar batas kemampuan.

 

Saat ini ramai orang mengatakan tentang inovasi tanpa batas. Namun bagi Amy, keterbatasan adalah adalah awal sebuah inovasi.

 

“Saya telah belajar bahwa perbatasan adalah tempat akhir yang sebenarnya, tetapi juga di mana imajinasi dan cerita dimulai,” tegas Amy.

 

Di akhir sharingnya Ame mengajak untuk memandang tantangan dan keterbatasan sebagai berkah yang akan mendorong mereka dan melihat tempat-tempat menakjubkan.

 

“Alih-alih memandang tantangan dan keterbatasan kita sebagai sesuatu yang negatif atau buruk, kita dapat mulai menganggapnya sebagai berkah, hadiah luar biasa yang dapat digunakan untuk menyalakan imajinasi kita dan membantu melangkah lebih jauh dari yang kami tahu bisa kami lakukan.”


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA