Rabu, H / 17 April 2024

Kelompok HAM: Negara Lain Harus Ikut Turki Membela Uighur

Senin 11 Feb 2019 10:39 WIB

Source :Anadolu Agancy

Mulsim Uyghur ditahan dalam camp penahanan oleh Pemerintahan China

Foto: Aljazeera

ESQNews.id, ANKARA - Negara-negara lain harus mengikuti jejak Turki yang menyerukan dihentikannya penganiayaan terhadap Muslim Uighur di China. Pembelaan tersebut kata Kepala Kelompok Hak Asasi Manusia Utama Turki, Kenneth Roth pada Minggu (10/2).


"Ini masalah besar, Turki Negara mayoritas Muslim pertama yang mengkritik China secara langsung karena perlakuannya yang mengerikan terhadap Muslim Uighur. Sekarang adalah waktu bagi pemerintah negara lain untuk bergabung dengan Turki," kata dia.


Roth mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy pada Sabtu yang mendesak pemerintah China menghormati hak asasi manusia warga Uighur dan menutup kamp-kamp penyiksaan. Hami Aksoy menjelaskan, bukan rahasia lagi bahwa lebih dari satu juta orang Turki Uighur yang ditangkap sewenang-wenang.


"Menjadi sasaran penyiksaan dan pencucian otak politik di kamp-kamp dan penjara-penjara," jelas Roth.


Uighur yang tidak ditahan di kamp-kamp ini berada di bawah tekanan berat. Roth memuji kecaman Turki atas penahanan massal Muslim Uighur di China yang dipaksa meninggalkan ajaran Islam. Turki menyampaikan hal itu sangat memalukan bagi kemanusiaan


"Turki mencatat bahwa mereka [Uighur] 'mengalami penyiksaan dan pencucian otak politik di pusat-pusat konsentrasi dan penjara," tambah Roth.


Roth meminta Dewan Hak Asasi Manusia PBB meluncurkan penyelidikan atas tindakan kekerasan China terhadap Uighur dan Muslim lainnya di wilayah Xinjiang. Sabtu lalu, Turki meminta komunitas internasional dan sekretaris jenderal PBB untuk mengambil langkah-langkah efektif mengakhiri tragedi kemanusiaan ini di Xinjiang.


Wilayah Xinjiang adalah rumah bagi sekitar 10 juta orang Uighur. Kelompok Muslim Turki yang membentuk sekitar 45 persen populasi Xinjiang ini, telah lama menuduh pemerintah China atas diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.


China meningkatkan sejumlah pembatasan dalam dua tahun terakhir, melarang laki-laki berjanggut dan wanita memakai jilbab serta memperkenalkan apa yang dianggap oleh banyak ahli sebagai program pengawasan elektronik terluas di dunia, menurut Wall Street Journal.


Hingga 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di wilayah Xinjiang China, kini dipenjara dalam jaringan "kamp pendidikan ulang politik" yang terus berkembang, menurut pejabat AS dan ahli PBB.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA