Selasa, H / 30 Mei 2023

Jalan Pikiran Anak, Orang Dewasa Perlu Tahu! (2)

Senin 06 Jan 2020 11:20 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Pangeran Ahli Matematika, Johann Carl Friedrich Gauss

Foto: allthatsinteresting.com

ESQNews.id, JAKARTA - Di dalam bukunya itu, dengan rinci John Holt memperlihatkan bagaimana anak-anak berpikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memahami berbagai persoalan. Cara atau jalan mereka memang tidak sama seperti yang dipakai oleh orang dewasa.


Selama ini, kadang anak dianggap bodoh atau salah karena cara menyelesaikan masalahnya berbeda dengan hasil pikiran orang dewasa. Tak jarang, anak pulang dalam keadaan sedih karena hasil pekerjaannya.


<more>


Walaupun jawabannya benar, dianggap salah karena cara yang ditempuh anak tidak sama dengan yang diajarkan oleh guru. Andaikan Gauss kecil kemudian disalahkan karena tidak menghitung urut sebagaimana biasanya.


Dengan menjumlahkan satu per satu angka dari mulai satu tambah dua tambah tiga dan seterusnya sampai tambah seratus, mungkin ia takkan digelari “Pangeran Ahli Matematika”.




Boleh jadi, ia menjadi anak yang tidak “pede” (percaya diri) karena cara berpikir kreatifnya dipandang nyeleneh dan menentang guru, dan ia tumbuh menjadi orang dewasa biasa yang tidak memberi kontribusi pada masyarakat dan dunia.


Menurut Ida S. Widayanti pakar Parenting bahwa anak-anak ibarat benih pohon. Meskipun bagus dan berkualitas, ia tidak akan tumbuh sempurna jika ditanam di lahan yang tandus. Segenius apa pun Gauss, kalau ia tidak didukung oleh guru, orangtua dan lingkungannya, ia tidak akan menjadi orang yang hebat.


“Untuk menjadi orang dewasa yang berkualitas dan menjadi rahmat bagi alam semesta, ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, yaitu orangtua dan guru yang menghargai cara berpikirnya, yang membuat ia kreatif mengeluarkan ide dan gagasannya. Biarlah anak-anak pelajari sendiri, diri dan dunia ini, dengan cara pandang mereka sendiri,” tuturnya dalam buku Mendidik Karakter dengan Karakter.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA