“If you haven’t measured something, you really don’t know
very much about it” - Karl Pearson.
ESQNews.id, JAKARTA – 26 September, rutinitas memperingati
Hari Statistik Nasional. Bertujuan agar masyarakat Indonesia sadar akan statistik
dan mengerti kegunaan serta peran pentingnya.
Hari Statistik mulai ditetapkan, bermula dari usulan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengenai setiap negara agar anggotanya melaksanakan sensus penduduk secara serentak.

Melansir dari
@bpskotasurabaya, Pemerintah RI menerima ajuan dari PBB tersebut, dan pada 26
September 1960, Pemerintah RI meresmikan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1960.
Peringatan ini
diusulkan oleh Sugito Suwito selaku Kepala BPS atau pengusul untuk memupuk
kesadaran masyarakat akan statistik.
Mendengar kata 'statistik' bagi sebagian besar kalangan mungkin menakutkan dengan sederet angka-angka. Bicara statistik pastilah bicara data. Pada dasarnya statistik itu mudah, yang berat adalah komitmen untuk menjalankan kaidah statistik dalam proses pengumpulan data.
Mari kita tingkatkan komitmen untuk sadar data. Marilah kita ubah buta data menjadi melek data. Kita pahami proses pengumpulan datanya dan kita jalankan komitmennya.
Berkarya dengan data ‘tuk Indonesia jaya dengan data kita bangun negara. Bergandengan tangan membangun negara, sukseskan sensus penduduk 2020.


