Senin, H / 15 Juli 2024

Green Architects atasi Socio-Economic-Climate issue dengan Low-Zero Carbon

Kamis 20 Jan 2022 15:59 WIB

Reporter :EDQP

Rima Khansa Nurani (CEO of Green Architects)

Foto: Dokumen Pribadi Rima Khansa Nurani

Oleh: Rima Khansa Nurani (CEO of Green Architects)

ESQNews.id, JAKARTA - Menjadi seorang pemimpin bukanlah mengenai jabatan, melainkan sebuah jalan keberanian untuk bertindak, membimbing, dan mampu melakukan hal-hal yang menembus batas. Terutama dengan apa yang diyakini sebagai batas diri sendiri.

Menjadi arsitek sebagai salah satu stakeholder yang berkontribusi dalam industri konstruksi merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Jika kita menghitung dan menambahkan semua anggaran bangunan yang pernah mengalir melalui tangan kita, maka pada akhir karir yang telah kita capai, tentu akan menghasilkan angka yang cukup besar, bahkan bisa mencapai triliunan dollar.

Sebagai pemimpin di industri konstruksi kita harus terus memastikan apakah setiap keputusan yang kita buat dapat memberikan kontribusi terhadap keadilan sosial? Atau justru akan merusak lingkungan?



Pengetahuan arsitek tentu menjadi elemen strategis untuk meraih green design. Salah satu cara mendesain sebuah bangunan yang sustainable dan mampu memberi aspek kepedulian terhadap lingkungan dan sosial adalah dengan menggunakan prinsip Low Carbon Design. Pada dasarnya setiap bahan baku bangunan dan operasional dalam sebuah proyek tentu meninggalkan jejak polusi yang berupa karbon. Dengan pendekatan Low Carbon Design kita bisa meminimalisir berbagai sumber daya dalam proses konstruksi, pelaksanaan, dan penggunaannya.

Saat saya melanjutkan pendidikan di Perth, Australia, dosen arsitektur saya pernah berkata, “If you want to change the world, then you are in the right position.” Artinya, jika kamu mau mengubah dunia, kamu ada di posisi yang tepat. Arsitektur adalah alat yang ampuh untuk mengatasi climate change dan meningkatkan keadilan sosial. 



Sebagai seorang arsitek kita memilih untuk memimpin dan mengedukasi manusia untuk beralih ke Green dan Low Carbon Design serta membuka mata untuk mengatasi global warming.

Indonesia juga merupakan negara yang rentan terhadap dampak variabilitas dan perubahan iklim. Dengan adanya perubahan iklim Indonesia yang bertambah panas, kebutuhan untuk pendinginan ruangan akan menjadi lebih besar dan boros energi. Oleh karena itu dengan mendesain bangunan yang mengikuti prinsip Low Carbon Design dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap penghematan energi.

<more>

Saat ini banyak sekali gedung-gedung yang tidak didesain dengan dasar-dasar sustainable arsitektur. Namun, Presiden Jokowi sudah menetapkan sebuah komitmen untuk penurunan emisi gas rumah kaca yang ditargetkan sebesar 29% pada 2030, serta mengurangi kerugian ekonomi yang diakibatkan dari dampak perubahan iklim yaitu sebesar 1.15% di tahun 2024.

Dengan ketetapan Presiden Jokowi di tahun 2021 ini seharusnya membuka peluang yang sangat besar untuk Green Design yang merupakan solusi untuk menciptakan Green Building. Bayangkan betapa banyaknya gedung yang tidak didesain dengan Low Carbon Design. Oleh karenanya, mulai saat ini kita harus beralih ke Low Carbon Design sejalan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan populasi Indonesia.

Sampai saat ini sudah tak terhitung kerugian yang ditimbulkan akibat dari bangunan yang tidak efisien dan sustainable. Padahal bila didesain secara tepat, biaya operasional setiap gedung bisa berkurang. Bayangkan apabila sebuah gedung bisa menghemat biaya operasionalnya sekitar 20% saja atau Rp. 100.000.000 per bulan, dan dikalikan seratus atau bahkan ribuan gedung. Berapa banyak uang dan energi yang sebenarnya kita buang. Padahal uang tersebut bisa dipergunakan untuk membangun kemanusiaan, dimana bangsa Indonesia membutuhkan begitu banyak pertolongan.



Kehadiran perusahaan Green Architects menjadi sangat penting di Indonesia, dimana kondisi pertumbuhan ekonominya sangat pesat dan juga rentan oleh dampak climate change. Dengan keberanian Green Architects untuk memimpin di Low Carbon Design, kerugian ekonomi karena tidak efisiennya bangunan bisa dihindari. Dengan Green dan Low Carbon Design maka bangunan-bangunan ini akan menunjang psychological, emotional, dan environmental sustainability.

Green Architects memegang peranan krusial untuk memberi keyakinan dan pengarahan untuk berinvestasi di green design sehingga visi untuk mewujudkan percepatan penurunan jejak carbon oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia akan terwujud.



Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA