Jumat, H / 24 September 2021

Di Dunia, Serba Sesekali

Senin 08 Oct 2018 08:21 WIB

M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: pixsnack

Oleh : M. Nurroziqi

ESQNews.id  - Duduk terus itu ternyata capek. Jalan terus, juga bikin capek. Melek, yang terus-terusan, capek juga ternyata. Jika pun hanya tidur saja, ya capek juga. Hanya bekerja, liburan saja. Cuma makan, lapar selamanya. Semua, membuat capek. Penat. Lelah. Bosan.


Sejatinya, begitulah kodrat kehidupan ini. Tidak ada yang boleh berhenti. Harus terus bergerak. Sesekali duduk, lain kali jalan-jalan. Sekali waktu tidur, di waktu yang lain terjaga. Jadinya, hidup lebih asyik terjalani. Lebih penuh warna, tidak membosankan. Selalu menemu hal-hal baru yang merefresh kondisi diri.


Sesekali. Kadang-kadang. Itu pula yang pasti bakal dialami semua manusia sepanjang hidup di dunia ini. tidaklah ada yang kekal. Melainkan, serba sementara, sebentar, sekejap saja. Lantas, beralih ke proses-proses berikutnya.


Jadi, kalau misalnya sedang dalam keadaan yang bahagia, ya jangan terlalu. Biasa saja. Lebih-lebih soal duka kesedihan, biasa sajalah. 'Kan cuma kadang-kadang? Hanya sesekali. Tidak akan berjalan selamanya semua yang di dunia. Dan Saatnya, pasti akan beralih dalam keadaan lain. Bahkan, apa pun saja yang menempel dalam diri manusia, jangan terlampau dibanggakan. Apalagi, sampai menjadikan diri angkuh dan tinggi hati. Jangan. Sebab, bisa jadi seketika, akan berubah dalam kondisi yang sangat berbeda sama sekali.


Jika hari ini kaya penuh pangkat. Ya biasa saja. Jangan sombong. Lebih-lebih bersikap angkuh dengan memandang rendah yang di bawah. Sebab, kondisi seperti itu, hanya sebentar saja. Esoknya, bisa saja berbalik arah. Berubah miskin dan rendah terhina. Sebaliknya, demikian juga yang kebetulan hidup bergelimang duka dalam ketidakmapanan. Santai saja. Tidak usah sedih. Tidak perlu berputus asa. Semua hanya sebentar. Tidak akan berlangsung lama. Yakin, Allah Swt pasti memenuhi seluruh kebutuhan setiap makhluk di dunia ini. Semua yang di dunia, sudah dijatah dengan sangat baik oleh-Nya. Tidak akan ada satu pun yang terlewat. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al-Lauh Al-Mahfuz).” (Q.S. Hud: 6). “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.  Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut: 60).


Begitu pun ketika berada dijalur yang benar, penuh dengan kebiasaan mulia. Biasa saja. Jangan tumbuh riya'. Apalagi, menaruh rasa bangga diri yang terlalu di dalam hati, sambil memicingkan mata kepada mereka yang kebetulan sedang berada di jalur lain yang jauh dari aturan agama. Membodoh-bodohkan. Saling mensalahkan. Jangan. Tidak perlu memandang buruk kepada siapa pun dan apa pun. Sebab, semua tidak akan berlangsung lama. Bisa jadi, di lain waktu, Allah Swt mengubah seluruh keadaan yang dialami diri. “Segeralah beramal, sebelum tiba ujian yang membuat semuanya gelap. Dalam kondisi itu, seorang yang di pagi harinya muslim, berubah kafir di sore harinya. Atau di sore harinya muslim, berubah kafir di pagi harinya…” (H.R. Muslim)


Jika hidayah atas diri dimaknai dengan keangkuhan, merasa paling baik, semua yang tidak sepertinya adalah salah, dan beragam sikap yang jauh dari rasa syukur atas setiap kebaikan Allah Swt. Jelas, semua ini adalah ketidakbaikan diri. Salah di dalam memaknai hidayah. Sebab, semakin tinggi keilmuan hanya dijadikan alat untuk mengorek-ngorek kelemahan dan kesalahan sesama. Semakin memuncak kecerdasannya, hanya menjadi belenggu pada sisi buruk manusia lain. Kemana pun arah mata memandang, yang nampak hanya kelemahan dan keburukan sesama. Bahkan, kebaikan sehebat apa pun, tidak pernah diakuinya. Sekaligus, mengunggulkan dirinya sendiri dalam keangkuhan yang selalu merasa paling  baik dan benar. Sikap begini, boleh jadi terpandang mulia oleh mata manusia. Tetapi, rendah dan hina di hadapan Allah Swt. Kondisi pribadi yang begini, tidak lebih layaknya Firaun yang dianugerahi kekuasaan atau Qorun yang diberikan kekayaan. Hanya menjerumuskan pada kehinaan dan siksa neraka.


Jadi, setiap diri musti berhati-hati. Menjaga diri agar tetap dalam koridor aturan-aturan-Nya. Sebab, tidak sedikit 'kan yang semula baik, kemudian akhirnya tidak baik? Begitu sebaliknya, tidak jarang di awal penuh dosa berlumuran kehinaan. Tetapi, Allah Swt bermurah hati mengangkat dalam derajat husnul khotimah. Jadi, apa pun dan bagaimana pun kondisi diri saat ini, tetap biasa. Selebihnya, teruslah berproses menuju Allah Swt dengan bekal yang sudah dianugerahkan-Nya. "Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya." (Q.S. Muhammad: 17). Hanya yang bisa menerima dengan baik segala apa yang sudah dianugerahkan Allah Swt, lantas menjadikannya sarana untuk terus berendah hati dalam setiap tingkah, demi sebanyak mungkin berbuat kebaikan, adalah yang akan terus menerus ditambah dengan kebaikan-kebaikan. Begitulah wujud rasa syukur sebetulnya.


Kemudian, atas setiap yang ada di dalam diri. Yang sudah dianugerahkan Allah Swt. Harus dijaga betul. Semua adalah amanah. Harus hati-hati menggunakannya. Dan tetap istikamah memohon petunjuk dari-Nya. Jangan sampai semua amanah tadi justru menjadikan diri hina dan terkena amarah-Nya. Dan yang pasti, tidak ada yang kekal di dunia ini. Hanya efek dari baik dan tidaknya diri di dalam menyikapi segala kondisi, yang kelak akan membekas sebagai bekal di kehidupan selanjutnya. Baik dan tidaknya di dalam menikmati setiap keadaan, adalah penentu selamat dan tidaknya kelak di akhirat.


Semoga Allah Swt menjaga kita semua dengan hanya pemberian-pemberian yang menjadi pengantar untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti yang luhur, yang taat hanya kepada-Nya. Semoga kita dilindungi dari segala rupa yang hanya menjadikan diri peka terhadap kelemahan dan keburukan sesama. Sehingga, tidak pandai menghargai kebaikan yang pasti ada di setiap kehidupan.

 

M. Nurroziqi. Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA