Jumat, H / 24 September 2021

Change Agent Bertransformasi Jadi Super Hero, Leaders Harus Siap Bantu!

Rabu 30 Jun 2021 13:45 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Potret saat acara berlangsung

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA – Lebih dari 320 change agent dan tim pengelola budaya dari berbagai perusahaan mengikuti Seminar Corporate Culture Spesialis. Acara yang berlangsung secara daring pada Rabu (30/6/2021) itu mengusung tema “CHANGE AGENT: When The Leader Let Me Walk Alone."

 

Event itu digelar oleh ACT Consulting, dengan mengundang konsultan yaitu Yuli Purwanti. Eka Chandra (trainer lisensi Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian) membacakan biodata singkat dari Yuli di antaranya sebagai HR Communication, HR Policy, AVP Cultural Development, Change Agent of Telkom Culture Transformation, dan lain-lain.


Yuli menjelaskan tentang pentingnya transformasi, baik itu transformasi bisnis ataupun budaya. Menurutnya, transformasi itu adalah sebuah perjalanan menuju destinasi atau tujuan perusahaan.

 

“Tapi bagi change agent, transformasi yang dilakukan itu lebih dari sekedar berubah. Misalnya diibaratkan seperti sosok super hero. Sebelum orang itu berubah jadi spiderman, dia hanyalah orang-orang dari kebanyakan. Setelah berubah menjadi super hero, dia tidak sekedar ganti tampilan luarnya saja tetapi menganti semua termasuk karakter, kekuatan super, bahkan energi yang lebih menggebu-gebu," jelas Yuli selaku Leadership and Culture Specialist.


Yuli berharap para leader ikut membantu change agentnya agar bertransformasi secara maksimal. Karena untuk bertransformasi, dibutuhkan dukungan dan bantuan dari pimpinan.


<more>

 

Oleh karenanya, Yuli menjelaskan tujuan dari webinar ini yaitu untuk memberikan materi tentang cara komunikasi antara leader dengan change agent. Diharapkan dengan komunikasi itulah terjalin koordinasi yang lebih baik lagi. Sehingga mereka akan memberikan dampak positif ke depannya bagi perusahaan.

 

“Di dalam perjalanan transformasi budaya, perlu dibangun trust atau kepercayaan antara leader dan change agent. Jika satu sama lain saling percaya, maka saat melakukan perjalanan akan terasa enjoy dan lekas sampai di tujuan dengan hasil maksimal. Ini biasanya disebut part of strategy. Dengan kata lain, strategi untuk melakukan perubahan secara eksponensial,” papar wanita alumni UGM dan ITB itu dengan gesture tangan dan senyumannya yang khas.



 “Biasanya strategi itu dibuat oleh leader. Sedangkan change agent tinggal menjalankannya saja. Seolah berjalan masing-masing. Padahal seharusnya dalam pembuatan strategi, leader juga bisa melibatkan change agent. Karena bagaimanapun change agent perlu dibantu, atau didukung idenya. Sehingga perjalanan menuju transformasi bisa lebih cepat, ” sambungnya.



 

Sementara itu, Yuli juga mengambil referensi dari “Best Practices in Change Management -2018 Edition.” Berdasarkan sumber yang ia baca, riset itu menyimpulkan bahwa seorang leader, supervisor, manager, dan setingkatnya mempunyai peran sangat penting dalam kesuksesan transformasi perusahaan.


“Jadi saya baca dari literatur lain bahwa ternyata memang terbukti hampir 50% mengatakan bahwa peran atau keterlibatan leader saat penting dalam satu perubahan. Jadi itu merupakan syarat dalam transformasi budaya.”



 

Ratusan peserta webinar yang berasal dari Kemensos, RSJ Menur, PTPN, Rekind, PT Dirgantara Indonesia, RSL, Pupuk Indonesia Energi, Pusri, Telkom, Uinsa, Indonesia Power, Perhutani, Mega Eltra, Lukita, Pindad, BKN, PT Inka, PJBS, Universitas Terbuka, BSI, AMKA, Askrindo, Angkasa Pura, LRT Jkt, PGN, dan lainnya terlihat menyimak dengan serius paparan dari narasumber.


Sedangkan tim ACT tak akan membiarkan acaranya dalam keheningan. Saat itu juga, beberapa lagu kekinian diputar. Lalu, Eka Chandra memberikan yel-yel positif dan senam ringan. Sehingga semangat peserta sudah berada di high energy. Mereka sudah terlihat lebih enjoy, dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. 

 

“Kita punya top leader yang biasanya konsen kepada culture atau perubahan. Tapi terkadang konsennya itu berbeda dengan change agent. Sehingga konsen mereka tidak berada di satu titik.  Untuk itu mari sama-sama belajar mencari titik temu antara leader dan change agent, agar diketahui penyebabnya apa dan bagaimana cara menyikapinya,” ucap Yuli.


 

Setelah Yuli menutup materinya, dilanjutkan sesi diskusi agar terjadi interaksi antar pembiacara dan partisipan. Terlihat di layar zoom, beberapa dari mereka sangat antusias untuk mengutarakan isi hati dan pikirannya.


Roni Wahyu mengapresiasi atas paparan dari narasumber yang menurutnya sangat menarik. Di situ, dia sadar harus lebih banyak belajar dalam segala hal.


"Memang betul, kita sebagai change agent selalu menyampaikan ide atau inovasi untuk perusahaan. Kita masih bisa sharing tentang manajemen dan lain sebagainya. Namun di samping itu semua, para change agent juga sangat perlu uluran tangan dari leader, bekerja sama agar terwujudnya visi dan misi perusahaan.”


Peserta lainnya bernama Rian ikut memberikan tanggapannya, “Apa yang ibu sampaikan saya sepakat bu, bahwa memang mungkin leader di sini ada fokus lain. Namun ketika leader itu fokus ke hal lain, saya jadi merasa kebingungan menghadapi perusahaan. Karena di perusahaan kami PTDI mempunyai sistem yang sangat menarik. Sehingga punya tantangan tersendiri. Nah dibutuhkan juga leader untuk bisa sharing tentang bagaimana cara mengimplementasikan program agar lebih efektif.”






Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA