Senin, H / 08 Agustus 2022

Ary Ginanjar Agustian Jelaskan Total Transformation Model untuk Mahkamah Agung

Sabtu 29 Aug 2020 06:55 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Ary Ginanjar Agustian sang Founder Menara 165

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA – “If we can’t measure, we can’t manage artinya kita tidak akan dapat memanage apabila kita tidak dapat mengukurnya.” Demikian disampaikan Ary Ginanjar selaku founder ACT Consulting pada pemaparan  hasil pengukuran budaya kerja di lingkungan Mahkamah Agung. Acara yang dikemas dalam bentuk seminar virtual ini diselenggarakan pada Jumat (28/8/20) pukul 08.00-10.00 WIB. 

Ary Ginanjar menjelaskan bahwa dengan pengukuran budaya ini MA dapat melihat sejauh mana 8 Nilai Utama di MA -yang dilandasi oleh Dharmmayukti- dilaksanakan oleh seluruh unsur di lingkungan MA. Langkah ini merupakan sebuah bentuk evaluasi diri yang dilakukan MA dalam upaya menggapai visi besar yaitu terwujudnya badan peradilan Indonesia yang Agung. 

<more>

“Mencapai visi, misi, dan target bukan hanya di nilai dari rencana strategi seperti sistem dan struktur saja. Tapi 70% ditentukan dari budaya kerja seperti perilaku, nilai, dan keyakinan.,” kata Ary saat memaparkan Total Transformation Model Mahkamah Agung. Hal ini dilakukan dalam upaya mendukung terwujudnya reformasi birokrasi "zona integritas" melalui program Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). 

Acara yang melibatkan peserta dari 478 satuan kerja di lingkungan Mahkamah Agung seluruh Indonesia ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua MA RI bidang non Yudisial, Dr. H. Sunarto, SH., MH., Sekretaris MA RI Achmad Setyo Pudjoharsoyo, SH., M.Hum, para pejabat eselon 1 & 2, kepala peradilan tingkat banding, para panitera, dan sekretaris pengadilan tingkat banding.



Ary Ginanjar memberikan enam poin perihal persoalan yang bisa ditingkatkan dalam instansi maupun lembaga pemerintahan, di antaranya: 1. Internalisasi nilai-nilai utama budaya kerja, 2. Fokus pada hal-hal yang berhubungan dengan kinerja, 3. Kesiapan melepas, zona nyamannya. 4. Pemimpin yang dapat menjadi role model dalam bekerja, 5. Evaluasi terhadap sistem dan orientasi bekerja untuk kepentingan bersama. 6. Penerapan disiplin dan integritas untuk memenuhi target implementasi reformasi birokrasi yang di dorong dari dalam diri. 

“Dengan begitu, pelaksanaan dan kinerja dalam kepemimpinan transformasional akan berhasil tercapai,” papar Ary.



Ary berharap semua ikhlas menjadi keluarga besar Mahkamah Agung yang dipilih Tuhan Yang Mahakuasa untuk membuat keputusan terbaik dilandasi kejujuran dan keadilan. MA sesungguhnya adalah wakil Tuhan di muka bumi, untuk menegakan salah satu dari NamaNya yaitu: Keadilan.

Acara yang akan dilanjutkan Sabtu, (29/08) ini, ditutup dengan doa yang diiringi lagu Bagimu Negeri, “Ya Allah ya Tuhanku, hari ini aku mohon padamu Jadikan tanganku menjadi cahaya. Setiap kali aku memukulkan palu, maka palu itu akan menggetakan alam semesata, maka jadikanlah getaran ini getaran yang Engkau tuntun dan Engkau bimbing sehingga mampu menegakkan 8 Tata Nilai dan menjadi cahaya keadilan untuk Indonesia dan untuk dunia,” tutup Ary.



Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA