Senin, H / 28 November 2022

Ary Ginanjar Agustian: Ciri Powerful Leader (VIII)*

Kamis 09 May 2019 09:24 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Sosok Founder ESQ: DR. HC Ary Ginanjar Agustian

Foto: ESQ Business School

ESQNews.id, JAKARTA – Motivasi bukan lagi semata pada materi melainkan motivasi yang bersandar pada nilai-nilai yang bersifat spiritual. Seperti motivasi Bob Galvin yang menunjukan cintanya yang tulus kepada karyawannya. Nurhayati Subakat, dengan kasih murni dan tanggung jawabnya. Matsushita dengan kepedulian sosialnya.

 

Dan perusahaan farmasi Jepang dengan keinginan menolong dan menyelamatkan. Semua itu adalah motivasi murni yang berlandaskan nilai-nilai spiritual yang tulus. Inilah esensi ihsan dalam kacamata dunia yang tentu harus digali lebih dalam lagi.

 

Pendapat ini diperkuat oleh Jack Welch dari GE (General Electric), dalam sebuah pidatonya: “Yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin-pemimpin yang memiliki landasan spiritual untuk memimpin sebuah perusahaan.” Lebih lanjut, menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman konsultan manajemen senior yang telah mengadakan sebuah penelitian terhadap 800-an manajer perusahaan yang mereka tangani selama 20 tahun, membuat sebuah kesimpulan yang mengejutkan, “Apabila Anda hendak mencari orang-orang yang memiliki nilai-nilai spiritual sejati, Anda tidak akan menemukannya di tempat-tempat ibadah, tetapi justru di korporasi-korporasi yang sukses.”

 

Hasil interview menunjukan pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaan ke puncak kesuksesan adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal diri sendiri dengan baik, yang memiliki spiritual yang non-dogmatis, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri sendiri atau orang lain. Pemimpin yang sukses lebih mengamalkan nilai-nilai spiritual.”

 

Arie De Geuss dalam bukunya yang terkenal “The Living Company” mencatat beberapa perusahaan yang bisa bertahan lebih dari satu abad. Di Jepang ada Mitsui dan Matsushita, di Belanda atau Unilever dan Shell, di Amerika ada General Electric (GE).

Mereka umumnya tidak melakukan kegiatan usaha yang berlawanan dengan hukum alam, tapi senantiasa menyesuaikan diri dengan garis alam, dan responsif terhadap sinyal-sinyal alam semesta yang berosilasi pada gelombang 40 Hz.

 

Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas mengerjakan agama karena Allah. (QS. An-Nisaa’ (Perempuan) 4:146)

 

Pernah diterbitkan di ESQ Magazine No. 02/V Januari 2009


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA