Senin, H / 16 Desember 2019

Turki Gencar Promosikan Serial Televisi Sebagai Industri Kreatif

Senin 17 Sep 2018 08:45 WIB

AA

serial tv turki berjudul "Anne"

Foto: google image

Turki telah mendapatkan penghasilan USD 250 juta dari ekspor serial televisi


ESQNews.id, BALI - Turki kini gencar mengembangkan serial televisi dan film untuk menggeliatkan ekonomi kreatif.

Wakil Ketua Majelis Agung Nasional atau DPR Turki Mustafa Sentop mengatakan serial televisi Turki kini banyak diminati oleh banyak negara. 

Bahkan, kata Sentop, di negara-negara Balkan dan Timur Tengah serial televisi Turki menjadi kegemaran. 


“Di Indonesia dan negara-negara MIKTA serial televisi Turki juga ditayangkan,” kata Sentop saat sidang MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea, Turki dan Australia) pada Minggu (16/9) di Bali.


Menurut Sentop, Turki telah mendapatkan penghasilan USD 250 juta dari ekspor serial televisi. Kondisi ini dimanfaatkan Turki untuk menopang kemajuan industri kreatif.


“Acara-acara televisi ini sangat penting untuk membangun citra kami di mata dunia,” ujar Sentop.

Sentop juga menyampaikan Turki kini intensif mempromosikan kota-kota budayanya kepada dunia.


Pada 2010, kata Sentop, PBB telah menetapkan Istanbul sebagai kota budaya. Hal tersebut mendorong Turki untuk mengenalkan budaya dalam negerinya kepada dunia internasional.

“Kami terus perkuat sektor budaya dengan melibatkan kota-kota Turki lainnya,” ujar Sentop.


Dalam kesempatan sama, Ketua DPR I Bambang Soesatyo mengajak parlemen anggota negara MIKTA untuk terus mengembangkan industri kreatif guna meningkatkan pendapatan negara.

 

Sebab potensi industri kreatif ini sangat besar di tengah era digitalisasi dan globalisasi.

 

"Industri kreatif telah menjadi salah satu sektor ekonomi paling dinamis secara global, seiring dengan perkembangan teknologi, pendidikan dan inovasi,” kata Bambang Bamsoet.

 

Bambang juga menegaskan bahwa dukungan kepada pelaku industri kreatif pemula, pemodal kecil dan berpendidikan rendah perlu ditingkatkan.

 

Oleh karena itu, lanjut Bambang, parlemen mendukung kesadaran para pelaku industri kreatif mengenai masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

 

"Tanpa perlindungan HKI, baik dalam bentuk merek, paten, maupun hak cipta, produk kreatif mereka mudah dibajak dan dimanipulasi dengan nama lain,” jelas Bambang.


Forum Parlemen MIKTA terdiri dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia. Forum ini berlangsung pada 15-16 September di Bali yang membahas sejumlah isu seperti keamanan, lingkungan, ekonomi, industri, perempuan dan lain sebagainya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA