Jumat, H / 23 Agustus 2019

Tinjauan Psikologi Konflik dari Pertemuan Kim Jong Un dengan Donald Trump

Selasa 12 Jun 2018 14:33 WIB

Gina Al ilmi S.Psi

Donald Trump dan Kim Jong Un berjabat tangan

Foto: bisnis.com

ESQNews.id.  Singapura, 12 Juni 2018. Dua negara besar yang saling memusuhi dan bertolak belakang dalam haluan politik, kini telah menurunkan penjagaan mereka. Bahkan, Hari ini tengah berlangsung pertemuan bersejarah antara pemimpin dari dua negara yang telah terlalu lama berkonflik. Amerika Serikat dan Korea Utara.

 

Sebelumnya, Korea Utara yang berpaham komunis dalam posisi yang bersebrangan dengan Amerika Serikat yang memiliki paham Kapitalis, dan ada dalam posisi saling mencurigai.  Kita telah sering mendengar bagaimana beberapa kali warga negara Amerika Serikat mengalami penahanan di Korea Utara.

 

Dalam suatu kasus di tahun 2009, Laura Ling dan Euna Lee, keduanya wartawan Amerika Serikat, ditahan hingga berbulan-bulan di penjara Korea Utara karena dianggap sebagai mata-mata. Hingga akhirnya Lisa Ling, wartawan utama CNN yang juga kakak dari Laura Ling, harus meminta bantuan Gedung Putih.  Hingga membuat Clinton akhirnya turun tangan dan datang ke Korea Utara untuk menjemput mereka sendiri, dalam sebuah pertemuan yang saat itu dirahasiakan.

 

Upaya untuk menurunkan ketegangan antara Korea Utara dan Amerika Serikat, telah diupayakan beberapa kali. Namun ancaman Korea Utara yang berkoar-koar telah mengarahkan peluru kendali mereka ke Amerika, membuat negara adidaya ini menjadikan Korea Utara sebagai negara yang dilarang dikunjungi oleh warganya.

 

Setelah selama kurun waktu puluhan tahun dalam kondisi penuh ketegangan, Kim Jong Un berinisiatif untuk membuka pertemuan dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, Kim telah membuka kunjungan dengan Korea Selatan terlebih dahulu. Setelah sebelumnya, Korea Utara mengumumkan pada tanggal 21 April 2018 bahwa mereka akan menghentikan segala aktivitas nuklir yang mereka miliki.

 

Dalam tinjauan Psikologi Konflik, perdamaian ini terjadi karena kedua negara telah bersikap saling terbuka dan dapat melihat sudut pandang masing-masing.  Seperti dikatakan oleh Ahli Psikologi Konflik dari UI, Pak Drs Moch Ramdhan, atau yang sering disapa sebagai Bang Romdhon, bahwa “Kita tidak bisa menilai pihak lain dari apa yang kita pahami. Tapi kita harus melihat sudut pandang pihak lain dari apa yang ia pahami”.

 

Bila ditinjau dari jenis konflik yang ada antara Amerika dan Korea Utara di masa lalu, kondisi konflik yang ada adalah tipe Approach - Avoidance. Dimana salah satu pihak, yaitu Korea Utara, berusaha untuk mendekat (approach), namun dengan tujuan agar diakui sebagai negara kuat yang memiliki kekuatan nuklir. Sementara Amerika Serikat dalam kondisi menjauh dan mengelak (Avoidance), dimana Amerika lelah pada berbagai upaya yang dilakukan Kim Jong Il yang berambisi untuk menjadi kekuatan nuklir terbesar dan terhebat di dunia, hingga ajalnya tiba.

 

Sepeninggal ayahnya, Kim Jong Un, kemudian merasakan bagaimana sanksi ekonomi yang dikenakan pada Korea Utara membuat rakyat negara tersebut berada dalam keadaan miskin dan terbelakang. Hingga akhirnya Kim Jong Un kemudian berusaha mendekati kembali Amerika Serikat dan bahkan dengan terbuka berani mengambil keputusan untuk menghentikan segala aktivitas nuklir yang dimiliki oleh negaranya. Baru setelah melihat niat baik dari Kim Jong Un inilah, dunia mulai berubah sikap. 

 

Presiden Korea Selatan pun kemudian membuka diri dan menemui Kim Jong Un di sebuah Desa yang menjadi salah satu titik perbatasan dari kedua negara ini, di tanggal 27 April 2018. Melihat kemajuan yang ditampilkan Korea Utara, pada tanggal 10 Mei 2018, barulah Trump menyatakan ia bersedia untuk bertemu Kim Jong Un di Singapura pada tanggal 12 Juni 2018 ini.

 

Terlihat bahwa masing-masing pihak telah berupaya untuk menggunakan sudut pandang satu sama lain untuk melihat situasi yang terjadi. Korea Utara menunjukkan kesediaan untuk menghentikan segala aktivitas nuklir, dan Amerika Serikat akan mengangkat sanksi ekonomi yang selama ini diberikan pada Korea Utara.

 

Apakah konfilknya selesai?  Kondisi konflik kedua negara kini berada dalam posisi Approach – Approach. Dimana kedua pihak berusaha untuk saling mendekat dan membuka diri. Namun untuk memastikan bahwa konflik diantara kedua negara berhaluan politik berbeda ini telah selesai, kita harus menunggu waktu dan melihat secara lebih jauh lagi dalam beberapa waktu ke depan. Karena pihak Korea Utara terkenal akan kebiasaan mereka untuk melanggar janji, hingga rusaklah kepercayaan dunia pada mereka.

 

Apakah Kim Jong Un akan membuka babak baru dengan Amerika Serikat dan dunia secara umum? Seperti halnya negara berhaluan komunis lainnya seperti Uni Soviet yang kini telah menjadi negara kapitalis dan terbuka setelah gelombang Perestroika ala Gorbachev? Kita iihat perkembangan selanjutnya di masa depan. (Gina Al ilmi S.Psi)

 

 


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA