Minggu, H / 05 April 2020

Tenggelamnya VOC

Senin 25 Feb 2019 14:59 WIB

Author :Ary Ginanjar Agustian

ilustrasi.

Foto: fib ugm

Oleh : Ary Ginanjar Agustian


ESQNews.id - Sahabat yang tidak jujur ibarat dapur yang berdekatan. Jikalau pun kamu tidak terkena jelaganya sudah pasti akan terkena asapnya. (Anonim)



VOC, perusahaan dagang Belanda yang pernah menguasai dunia selama dua abad, kerap dipelesetkan menjadi Vergaan Onder Corruptie (tenggelam karena korupsi). Istilah tersebut tidak berlebihan mengingat korupsi, kolusi, manipulasi sangat endominasi budaya para pengurus VOC yang akhirnya menamatkan riwayat perusahaan ini.


Perusahaan yang didirikan pada tahun 1602 ini memiliki hak-hak istimewa –seperti tercantum dalam Piagam pendirian VOC– meliputi monopoli perdagangan di Timur Jauh dan hak untuk bertindak layaknya negara atas jajahannya. Hal ini menjadikan VOC berhasil menjadi perusahaan privat terkaya di dunia pada 1669. Mereka memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 20.000 pelaut, 10.000 tentara, 50.000 pekerja, dan pembayaran dividen 40 % dari keuntungan perusahaan.


Kekayaan dan kekuasaan VOC yang sedemikian besar akhirnya surut dan secara tragis dinyatakan bangkrut pada tahun 1799. Ketika bubar VOC meninggalkan utang sebesar 137 juta gulden, lebih dari 20 kali modal awalnya.


Permasalahan utama kebangkrutan VOC adalah kebobrokan moral para pengurusnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa para pengurus VOC gila uang, kerap memanipulasi catatan keuangan, dan kebiasaan buruk main perempuan. Tak hanya itu, para pembesar VOC tersebut juga gila pangkat dan kehormatan, contohnya tampak pada peraturan yang mengatakan bahwa jika gubernur lewat, warga keturunan Eropa harus menunduk sedikit, sedangkan bukan Eropa harus menyembah.


Pada masa itu berkembang pula gaya hidup pamer kemewahan di kalangan penduduk Eropa dan kaum Mardijker kaya. Mereka biasa memakai payung kebesaran, perhiasan dan pakaian mewah, kereta kuda, dan memiliki banyak budak, pelesir dengan kapal mewah di sepanjang aliran sungai. Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) seorang yang terkenal dengan gaya hidupnya yang sangat mewah. Pelantikannya sebagai gubernur jenderal dirayakan secara besar-besaran di semua kantor dagang VOC seperti di Persia, Jepang, India, dan Srilanka.


Gaya hidup mewah seperti itulah yang memicu berbagai tindak korupsi di kalangan pimpinan dan pengurus VOC. Seorang gubernur jenderal bernama van Hoorn sempat menumpuk harta senilai 10 juta gulden saat kembali ke Belanda pada 1709. Sedangkan, gaji resminya hanya 700 gulden sebulan. Kekayaan itu didapat dari memotong kas VOC, upeti, manipulasi setoran hasil bumi, hingga menerima sogokan calon pegawai VOC. Gubernur jenderal lain pun tak jauh beda. Pengurus VOC di Belanda tidak mengetahui berbagai kebobrokan yang ada. Laporan keuangan selalu dirahasiakan, dengan alasan membahayakan keamanan negara jika dipublikasikan. Selain itu VOC tak pernah absen membayar dividen buat para pemegang saham, padahal sesungguhnya kas VOC keropos. Mereka selalu gali lubang tutup lubang meminjam dari bank-bank di Amsterdam. Karena itulah bubarnya VOC pada 1799 kerap dipelesetkan dengan Vergaan Onder Corruptie (tenggelam karena korupsi).•


Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA