Minggu, H / 28 Februari 2021

Sejarah Hari Santri Nasional

Selasa 22 Oct 2019 14:49 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Santri Rumah Qur’an Tahfidz Solusi ESQ 165 di Samarinda peringati Hari Santri Nasional

Foto: ESQ Media

ESQNews.id, JAKARTA – Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober, ditetapkan dalam keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2015.


Kenapa harus tanggal 22 Oktober? Merujuk pada ditetapkannya seruan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 oleh santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai penjuru Indonesia yang mewajibkan setiap muslim untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan NKRI dari serangan penjajah.


Seperti yang dikatakan KH. Said Aqil Siroj selaku Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Salah satu tokoh ulama mengeluarkan fatwa jihad yang isinya bahwa membela tanah air hukumnya fardu a'in. Jika meninggal akan mati syahid, namun yang berpihak kepada penjajah tidak disebut kafir.


Kemudian berdasarkan fatwa itu bahwa para santri Surabaya, Madura, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto dengan rasa percaya diri dan optimis menyambut kehadiran pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).


Pasukannya berjumlah ribuan dengan senjata yang sangat lengkap, dipimpin oleh Brigjen Mallaby dari Inggris. Pertempuran terjadi dimulai pada tanggal 26 Oktober para santri sudah mulai ada perlawanan. Presiden Soekarno memerintahkan kepada dokter gigi Soetomo agar tidak ada peperangan.


Karena kedatangan NICA itu hanya akan menyelamatkan atau mengambil tahanan-tahanan Belanda yang dipenjara oleh Jepang. Ternyata instruksi Bung Karno tidak diterima oleh para santri dan tokoh masyarakat Surabaya. Mereka tetap melakukan perlawanan dengan senjata apa adanya. Mereka berhasil mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI.


<more>


Dalam perang, mobil Brigjen Mallaby meledak dan tewas, ajudan dan supirnya tewas. Yang memasang bom di dalam mobilnya bukan tentara melainkan salah satu santri Tebuireng, namun ia pun tewas. Ini merupakan bukti bahwa sangat ikhlas mempertaruhkan nyawanya demi bangsa Indonesia.


Ada seorang santri, Asyarie dari Surabaya naik ke hotel Orient, sekarang namanya hotel Majapahit. Merobek-robek bendera Belanda dan menggantinya dengan bendera Indonesia, dia selamat turun dari atap hotel.


Tak hanya para santri, para Kiai di antaranya dari Jawa Barat, Cirebon, Arjawinangun, Babakan Caringin, Indramayu, Jember, Madura, Kediri, Sidoarjo pun ikut serta turun bawa senjata melawan pasukan NICA, sekitar 20.000 santri gugur.


“Tidak ada kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 kalau tidak ada perlawanan tanggal 10 November, tidak ada perlawanan yang sengit kalau tidak ada Nahdlatul Ulama, tidak ada Nahdlatul Ulama kalau tidak ada santri. Oleh karena itu santri mempunyai peran yang sangat besar andil dan pengorbanannya mempertahankan kemerdekaan RI," papar KH. Said Aqil Siroj dengan semangat.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA