Rabu, H / 24 Oktober 2018

Romantisme Maiyahan

Kamis 20 Sep 2018 10:18 WIB

Rep:Atiqoh Hamid/Ed:Titin Nuryani L Wiyono

Maiyahan bersama Cak Nun

Foto: dok. Pribadi

Oleh: Atiqoh Hamid


ESQNews.id - Saya mengenal pemikirannya dari seorang teman. Ia menganjurkan saya untuk mengikuti Maiyahan lewat You Tube. Meski sejak lama tahu, namun baru dua tahun belakangan saya mulai intens menyimak majelis ilmu yang ditokohi Emha Ainun Nadjib ini.


Berusaha memahami penyampaian Cak Nun, kadang kening saya sedikit berkerut. Ada kalanya juga mengangguk-angguk, atau bahkan sesekali terbahak. Ya, itulah Cak Nun dengan pemikiran-pemikirannya sungguh unik dan melintasi.


Emha Ainun Nadjib lahir di desa Menturo (biasa disebut desa Santri), Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tumbuh besar di desa dengan lingkungan sosial yang kuat dan religius, Cak Nun hidup sederhana, bersahaja, dan arif. Itulah sebenarnya, antara lain, modal Cak Nun dalam mengembangkan diri.


Dari pesantren Gontor hingga menamatkan kuliah di "universitas kehidupan", tak terhitung berapa banyak pementasan karya sastra dan dialog yang dipersembahkan. Di bawah bimbingan mahaguru Umbu Landu Paranggi, karya dan bakti nyata untuk dunia sastra negeri ini ditorehkan. 


Dari sekian banyak karya tulis Cak Nun, baik puisi, esai, kolom, naskah drama, novel, makalah, dan buku, setidaknya ada tiga nilai penting di dalamnya. Pertama, penghayatan-penghayatan religius dan spritual yang selalu menggunakan pendekatan tasawuf (perilaku etika, adab, moral, dan kerendahan diri terhadap sesama manusia). 


Kedua, memperjuangkan nilai-nilai yang ada di dalam ketasawufan. Ketiga, pemikiran dan respons dalam konteks sosial-filosofis berdasarkan analisis-logis. Lagu-lagu Cak Nun juga mengandung tiga nilai tersebut secara tersirat.


Cak Nun dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasan melalui buku-buku yang ditulisnya. Dan lahirnya Kiai Kanjeng semakin meneguhkan eksistensi Cak Nun di dunia sastra dialogis, meneguhkan Islam melalui kematangan akal dan pikir dalam konteks ejawantah sosial. 


Saya tidak begitu memahami bagaimana awal mula Cak Nun bertemu dengan pujaan hati, Novia Kolopaking. Namun, dari persembahan demi persembahan, saya merasakan chemistry yang kuat dari keduanya. Bagi saya, Cak Nun dan juga idola saya, Mbak Novia, adalah dua sisi keping mata uang yang saling mengisi, melengkapi, dan melingkupi. Itu terlihat saat mereka berdua bersitatap, seperti ada pendar bintang yang ingin menyesak menyeruak.


Setidaknya, kesan ini saya tangkap saat berkesempatan pertama kalinya berhadapan langsung. Halaman TVRI Yogyakarta bulan lalu, menjadi latar pertemuan saya dengan mereka berdua dan Kiai Kanjeng. Menggelegar dan menggetarkan, saat pertama kali "Sepinya Hati Garuda" saya dengarkan langsung dari lantunan Mbak Novia diiringi musik Kiai Kanjeng. Dan, di sepanjang mengaji, saya tak sempat sibuk dengan diri saya, akibat "ulah" mistis Kiai Kanjeng.


Ya, penggemar seperti saya tak bisa banyak berbuat kecuali meminta kesediaan untuk berfoto yang harus dicapai dengan susah payah. Beruntung, situasi sedikit berdamai dan akhirnya saya berhasil berfoto bersama mereka. Dari sekian hal yang bisa diteladani, saya hanya ingin menyimpulkan satu hal ringan, bahwa Mbak Novia dan Cak Nun adalah pasangan yang telah saling menemukan. Dan, dalam hal ini, bolehlah saya merasa iri.



Penulis Prolifik dan Pengasuh PP Miftahul Jadid Banyuanyar Kalibaru Banyuwangi

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? Kirim tulisan ke redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA