Senin, H / 16 Desember 2019

Perbedaan LRT dan MRT?

Rabu 20 Mar 2019 15:43 WIB

Reporter :Titin Nuryani L. Wiyono

Stasiun MRT Fatmawati

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id - Jakarta sebentar lagi akan menyambut moda transportasi baru yang akan beroperasi di Ibu Kota di Indonesia ini. Moda transportasi baru itu adalah MRT dan LRT. Namun apa perbedaan dari keduanya? Mari kita bahas satu per satu.



Pertama, Mass Rapid Transit (MRT) merupakan sistem transportasi berbasis kereta, mirip dengan Kereta Rel Listrik (KRL) namun volume angkutnya sedikit lebih kecil dari pada KRL. Kereta ini memiliki keunggulan pada jalur transportasinya yang tidak sebidang dengan lalu lintas jalan raya seperti melalui jalur layang ataupun bawah tanah.


Satu rangkaian MRT terdiri dari 6 gerbong yang dapat menampung 1200 hingga 1800 penumpang per 1 rangkaian. Waktu yang tempuh dari stasiun awal (Stasiun Lebak Bulus) hingga stasiun akhir (Bundaran HI) sekitar 30 menit. Waktu ketibaan MRT tersedia tiap 10 menit sekali.


MRT Jakarta ini disebut juga dengan nama Ratangga, diambil dari puisi di kitab Arjuna Wijaya dan Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Dalam Bahasa Jawa Kuno, Ratangga artinya Kereta Perang. Kereta Perang identik dengan kekuatan dan pejuang. Ratangga diharapkan akan selalu tangguh kuat untuk mengangkut para Pejuang Jakarta yang sedang berikhtiar demi kehidupan yang lebih baik.


Baca juga : Gubernur DKI: MRT Jakarta Beroperasi Umum Akhir Maret



Kedua, Light Rail Transit (LRT) adalah kereta api ringan yang mampu melakukan perjalanan dengan lebih cepat. Volume angkut ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan KRL ataupun MRT. Jalur rutenya pun seluruhnya dibuat melayang sehingga tidak ada kemungkinan untuk terjadi konflik jalur sebidang seperti transportasi kereta lainnya. Tanpa adanya kemungkinan konflik jalur membuat transportasi ini mampu memiliki jarak antar kereta (headway) yang stabil, alhasil kecepatan waktu tempuh adalah keunggulan dari sistem transportasi ini.


Kapasitas angkut sebanyak 270 penumpang per 1 trainset. Diperkirakan LRT Jakarta mampu membawa 66.150 hingga 76.140 penumpang dalam satu hari untuk jumlah perjalanan 245-282 trip/hari.


Dengan hadirnya MRT dan LRT, bayangkan jumlah karbon emisi yang bisa kita kurangi apabila dalam setahun ada ratusan juta penumpang menggunakan moda transportasi ini. Beralih ke transportasi umum sama dengan membantu mengurangi kemacetan di Jakarta dan berkontribusi langsung terhadap pengurangan polusi.


Baca juga : Uji Coba MRT Bisa Dinikmati Gratis




Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA