Minggu, H / 29 November 2020

Nyinyir Terus, Capek Ahh..

Rabu 18 Jul 2018 12:05 WIB

M. Husnaini

Anti Nyinyir

Foto: ajirisme

Oleh : M. Husnaini*

ESQNews.id - Jujur, saya termasuk orang yang malas sekali mengikuti silang sengkarut perdebatan di media sosial. Jangankan mengikuti, membaca pun tidak. Jika muncul status bernada sarkastis semacam itu, pasti saya lewati. Tidak saya baca. Bahkan, kalau pemilik akun keseringan membuat status demikian, biasanya kemudian saya unfriend.

Kebebasan pers di Indonesia memang sudah keterlaluan. Siapa saja bebas berbicara apa saja. Yang tidak paham persoalan juga ikut berfatwa. Apalagi, sejak ada Facebook dan Twitter. Dengan dua media sosial itu, kita semakin mudah dan tidak malu-malu lagi menumpahkan amarah, fitnah, bahkan mengumpat-umpat di media sosial.

Ada yang kasar dan blak-blakan. Ada pula yang gayanya berupa artikel panjang, mengutip literatur sana-sini, tetapi ujungnya sama saja, yaitu menguliti orang lain. Biasanya yang disasar adalah para petinggi negara atau tokoh agama. Saya sudah hafal model tulisan seperti itu. Dan, biasanya juga paling banyak disukai dan dikomentari netizen.

Bagi saya, segala persoalan sudah ada yang mengurus. Boleh saja kita kritis. Tetapi sewajarnya, dan sesuai porsi kita. Jangan berlebihan, apalagi merasa paling mampu mengatasi keadaan. Padahal, kita mengurus diri sendiri saja kadang gagal. Misalnya, pekerjaan tidak jelas dan pendidikan juga kacau, tetapi sumbang benar ketika mencela.

Tentu ada yang tidak sependapat dengan saya. Tidak masalah. Sepandai-pandai saya menggunakan akal untuk berargumen, pasti ada yang dengan akalnya pula mampu meruntuhkannya. Itu biasa. Tulisan saya ini hanya mengajak orang-orang yang sepemikiran dengan saya untuk menghiasi media sosial dengan postingan-postingan yang santun dan bermanfaat.

Jangan lagi memenuhi beranda dengan status dan komentar panas. Lebih baik becermin, lalu meningkatkan kualitas diri agar bisa berbuat lebih baik. Insya Allah itu lebih produktif dan menenteramkan hati daripada ikut-ikutan meributkan kabar miring, utamanya yang belakangan ramai, padahal kita sendiri tidak mengerti betul juntrungannya.

Islam adalah agama yang mengajarkan persatuan dan kebersamaan di antara sesama Muslim. Namun, harus diakui bahwa mayoritas umat Islam, termasuk di Indonesia, sampai hari ini, masih gagal mewujudkan misi mulia itu. Di antara sebab mengapa umat Islam belum bisa bersatu dan bersinergi adalah karena perbedaan aliran, paham, mazhab, ormas, parpol, posisi, kepentingan, kedudukan, dan jabatan, yang tidak disikapi dengan lapang dada serta besar jiwa.


*Penulis adalah Kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM)

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA