Minggu, H / 05 April 2020

Nasib Indonesia Sangat Bergantung Dana Asing

Jumat 03 Aug 2018 10:43 WIB

-

Grafik pelemahan Rupiah atas Dolar Amerika. Rupaih menembus angka 14.500 per Dolar Amerika.

Foto: Google

"39 hingga 40 persen obligasi negara kita dimiliki asing. Saham kita di pasar modal juga sekitar 45-50 persen dimiliki asing,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution.


ESQNews.id, JAKARTA – Pemerintah mengakui nasib perekonomian Indonesia masih terlalu tergantung pada dana asing karena saving yang rendah.


“Sebanyak 39 hingga 40 persen obligasi negara kita dimiliki asing. Saham kita di pasar modal juga sekitar 45-50 persen dimiliki asing,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dalam diskusi di Jakarta, Kamis (2/8).


Angka tersebut termasuk tinggi bila dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang kepemilikan asing obligasi negaranya hanya sekitar 12-14 persen.


“Itu sebabnya setiap ada goncangan ekonomi global kita terpengaruh, karena terlalu banyak (dana) asingnya,” jelas Darmin.


Menurut Darmin, banyaknya dana asing dalam perekonomian Indonesia bukan serta merta karena rendahnya tingkat saving, namun karena ada kebocoran. Menteri Darmin mengatakan devisa hasil ekspor yang masuk ke Indonesia hanya 81 persen.


“Dalam kaidah ekonomi, kalau devisa tidak masuk itu namanya bocor dan mengurangi cadangan devisa dan memengaruhi penambahan uang beredar,” lanjut dia. 


Menteri Darmin mengatakan, banyaknya devisa ekspor yang tidak balik ke dalam negeri karena undang-undang membolehkan.


Dia menambahkan, dari 81 persen devisa ekspor yang masuk, hanya 15 persen yang ditukar ke rupiah. Padahal, lanjut dia, kalau 80 persen devisa yang masuk ditukar ke rupiah, maka valas yang ditukar ke rupiah akan membuat tambahan bagi cadangan devisa di BI. Kemudian, rupiah yang dihasilkan dapat menciptakan pertumbuhan. 


Sementara saat ini, sisa devisa ekspor yang masuk ke dalam negeri banyak dijadikan tabungan, giro, dan deposito dalam dolar AS.


“Jeleknya, bank kalau terima valas dari dunia usaha dalam tabungnan apalagi hanya giro, tidak berani meminjamkan karena bisa diambil kapan saja oleh pemilik dananya,” jelas Menteri Darmin.


Devisa ekspor yang ada di perbankan, menurut dia, disimpan oleh perbankan di Frankfurt, Singapura, ataupun Hongkong dengan bunga hanya 0,6 hingga 0,8 persen. “Ini dia sumber yang membuat saving kita rendah.” 


Selama saving rendah Indonesia selalu perlu modal asing, bukan hanya untuk investasi, tapi juga untuk membeli saham dan obligasi negara. Saat ekonomi global bermasalah, asing bisa menjual kapan pun obligasi yang dimiliki sehingga ekonomi Indonesia terguncang.


“Kemudian BI yang menjadi garda terdepan harus membeli SBN karena kalau tidak, kurs rupiah akan lemah,” urai dia.


Source: Anadolu


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA