Minggu, H / 15 Desember 2019

Menyulap Banyuwangi dari Biasa Saja menjadi Luar Biasa

Selasa 28 May 2019 09:43 WIB

Reporter :Singgih Wiryono

Bupati Banyuwangi, Azwar Annas saat berkunjung ke Menara 165

Foto: Leo M Arief/ESQ Media

SDM menjadi kunci Azwar Anas mengubah kota yang sebelumnya hanya menjadi perlintasan wisatawan dari Jawa ke Bali, menjadi spot pariwisata yang dilirik wisatawan mancanegara.



Tidak tanggung-tanggung, kalau dulu Banyuwangi dikenal dengan julukan negatif seperti kota santet, sekarang menjadi destinasi wisata dengan julukan Kota Festival. Untuk mendapatkan julukan itu, tentu tidaklah mudah. Adalah seorang Azwar Anas yang mampu mengantarkan Kabupaten paling timur di pulau Jawa itu menjadi destinasi wisata anyar kelas dunia.


 

Azwar Anas, menjadi orang nomor satu di Banyuwangi sejak 2010 silam. Kemudian kembali terpilih menjabat dua periode Bupati Banyuwangi setelah memenangkan Pemilihan Kepala Daerah di tahun 2016. Semenjak menjadi Bupati, Azwar Anas dikenal sebagai pemimpin bertangan dingin meracik daerah yang dia pimpin hingga menorehkan berbagai penghargaan, khususnya di bidang pariwisata.


 

Namun demikian, putra asli daerah Banyuwangi ini tak jumawa. Berkali-kali dia katakan usahanya tidak ada apa-apanya tanpa bantuan dan dukungan dari masyarakat banyuwangi sendiri dan sebuah prestasi kolektif dari Pemkab Banyuwangi.

 


Saat bersilaturahim untuk bertemu CEO ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian di Menara 165 beberapa waktu silam, Azwar mengungkapkan salah satu rahasianya adalah SDM yang bersinergi dan bekerja dengan baik. Di situlah, ungkap Azwar, peran ESQ dalam  training untuk ASN Banyuwangi sangat terasa nyata saat memulai membangun Banyuwangi di masa awal kepemimpinannya.

 


Tak hanya tentang penghargaan, hambatan dan tantangan juga menjadi makanan sehari-hari suami dari Ipuk Fiestiandani ini. Kepada tim ESQ Media, Azwar bercerita tentang suka duka membangun Banyuwangi selama dua periode berjalan. Merasakan gempuran demonstrasi 42 kali demonstrasi saat baru menjabat, hingga tantangan untuk memproteksi masyarakat Banyuwangi dari budaya luar yang merusak saat pariwisata mulai maju. Di tengah tantangan itu, Azwar percaya kunci menjalankan kebijakan yang baik ada pada manusia yang baik.

 



“Salah satu kuncinya adalah SDM (Sumber Daya Manusia), ketika banyak yang pesimis dengan cara kerja PNS dan lain-lain. Maka kita perlu cara dan mode pengembangan SDM ini. Motor dan salah satu cara untuk menggerakan harus dengan begini,” jelas Azwar Anas.

 


Bagi Azwar, sumber utama yang harus diperhatikan untuk menjalankan sebuah ide adalah SDM. Sebegitu pentingnya SDM sehingga membuat dia berpikir keras untuk mengubah mindset PNS yang pemalas, ogah-ogahan yang sebagian besar masih melekat di daerah yang dia pimpin.

 


Mengambil langkah eksponensial, Azwar Anas bekerja sama bersama ESQ untuk memberikan mindset baik untuk ASN yang bekerja di bawah kepemimpinannya.

 


“Waktu itu kami, bekerja sama dengan ESQ, semua eselon II harus ikut ESQ, suami istri. Kemudian para camat, termasuk semua ASN. Karena ini semua penting, selian casing-nya bagus, hatinya juga harus bagus,” jelas dia.

 


Setelah persoalan SDM selesai, tantangan lain adalah letak geografis Banyuwangi yang begitu jauh dari pusat kota provinsi Jatim. Menjadi kota kelas dua, Banyuwangi disulitkan dengan infrastruktur dan akses untuk mengenalkan Banyuwangi secara menyeluruh.

 


Akses jauh untuk ke Banyuwangi hanya bisa ditempuh dari jalur darat melalui bandara udara Juanda, Surabaya selama tujuh jam. Melihat masalah ini, Azwar Anas membuat gebrakan baru dengan membuka kontektivitas lebih luas untuk bandar udara di Banyuwangi. Dengan frekuensi penerbangan tiga kali seminggu, kini Banyuwangi memiliki frekuensi penerbangan delapan kali dalam satu hari.



“Alhamdulillah sekarang penerbangan sudah ada delapan penerbangan per hari,” kata dia. 



Berikutnya>>>


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA