Minggu, H / 25 Oktober 2020

Mengapa Pria Misterius Itu Menjatuhkan Diri dari Lantai 3 Masjidil Haram?

Selasa 12 Jun 2018 12:01 WIB

Gina Al ilmi S.Psi

Situasi Masjidil Haram setelah kejadian

Foto: metro.co.uk

Pada Sabtu malam, 9 Juni 2018, tepat di bulan suci Ramadhan di kota suci Makkah, seorang pria berbaju hitam melemparkan dirinya dari lantai tiga Masjidil Haram, ke tengah kerumunan jamaah umrah yang sedang melakukan Thawaf dan Shalat Tarawih. 


Keterangan yang diperoleh dari The Daily Sabah, sebuah situs berita dari Turki, menyebutkan bahwa pria berusia 26 tahun tersebut adalah mualaf yang datang dari Perancis.  Tindakannya, menimbulkan rasa terkejut umat Muslim dunia di Malam ke 23 Ramadhan tersebut. Video yang ditampilkan oleh kantor berita online yang berkantor di Istanbul tersebut, kini telah ditonton lebih dari 57.500 kali. 


Video tersebut kemudian menjadi viral, dan tersebar dalam sejumlah versi yang berbeda-beda. Semula, netizen berpendapat bahwa pria tersebut berkebangsaan Pakistan. Namun hal ini dibantah oleh Kantor berita Tribun Pakistan, yang menyatakan bahwa pria berbaju hitam tersebut adalah warga negara Perancis. 


Sampai dengan hari ini, pihak kepolisian kota Makkah masih menyelidiki apa yang menjadi motif Pria Perancis tersebut melakukan tindakannya. Berita yang dilansir oleh Saudi Gazzette, Al Arabiya,  dari situs berita resmi Kerajaan Arab Saudi, The Saudi Press Agency menyampaikan bahwa Pria tersebut terluka parah, dan meninggal seketika. Jenazahnya kemudian di bawa ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan ambulans. 


Ary Ginanjar Agustian, mengungkapkan kekhawatirannya tentang kasus ini.  Karena, pria tersebut bunuh diri di tempat pusat ajaran Tauhid dari Nabi Ibrahim A.S.  Bunuh diri, adalah puncak keputusasaan. Demikian papar Ary Ginanjar. Putus asa atas kehilangan sesuatu yang digantungkan. Merasa putus harapan secara ekonomi, putus harapan keluarga, putus harapan kesehatan, putus harapan masa depan, atau putus harapan cinta. Atau sering diucapkan putus segala harapan. 


Ary Ginanjar mengungkapkan bahwa ia merasa yakin dan percaya bahwa fenomena ini bisa terjadi hanya atas izin Allah, agar kita "membaca" dan menjadikan kejadian ini sebagai pelajar, agar kita melihat ke dalam diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita. Agar mencermati "Apa yang terjadi". 


Ary Ginanjar juga mengkhawatirkan bahwa fenomena ini laksana gunung es. Bunuh diri itu baru puncaknya saja yang terlihat di permukaan, sedangkan di bawah laut yang tidak terlihat jauh lebih besar dan jauh lebih memprihatinkan lagi. 


Lebih jauh lagi, Ary Ginanjar menyerukan agar sepatutnya kita mulai meninjau ulang cara dan metode pengajaran agama, agar bukan hanya ritualnya semata yang dilaksanakan, akan tetapi penting untuk umat memahami nilai-nilai substansial di baliknya, untuk dapat memahami apa pesan dibalik ibadah ritual yang selalu kita lakukan. Sebuah pesan tentang "Tauhid!", seru Ary Ginanjar lagi. (Gina Al ilmi S.Psi) 


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA