Minggu, H / 09 Agustus 2020

Memilih Bahasa yang Indah

Senin 21 Jan 2019 08:32 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: livingloving

Oleh : M. Nurroziqi

ESQNews.id - "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." (Q.S. Al-A'raf: 69).


Siapa pun pasti menyukai puji-pujian. Diajak berbincang dengan bahasa-bahasa yang indah, sungguh sangat menyenangkan hati. Sebaliknya, kata-kata kotor, menghina, dan segala yang jauh dari etika santun berbahasa, sangatlah tidak diminati. Sehingga, tidak mengherankan jika menjaga lisan adalah bagian terpenting dari menjaga keselamatan. Berapa banyak yang disebabkan tidak kuasa menjaga lisannya lantas menimbulkan kegaduhan, pertengkaran, dan beragam jenis permusuhan.


Hal terpenting dari menjaga lisan adalah kepandaian diri di dalam memilih bahasa yang indah di setiap pembicaraan. Kata-kata santun yang menjadikan pendengarnya riang hati. Tahan, lebih baik diam, jika ucapan-ucapan lisan malah menambah masalah dan menjadikan susah bagi orang lain. Yang begini, diam adalah keselamatan.


Indah ketika berbahasa ini, tentu dibutuhkan kehati-hatian yang tinggi, sebab menyangkut perasaan orang lain. Dan jika sudah bicara perasaan, sulitnya minta ampun. Sederhananya, jika ada seorang yang berkulit hitam, yaaa jangan dipanggil si hitam. Nanti menyinggung perasaan. Repotnya soal perasaan itu ya di situ. Sudah kenyataannya memang berkulit hitam, jelas akan tersinggung jika dipanggil si hitam. Padahal betul 'kan? Apalagi jika kulitnya hitam, terus disebut-sebut sebagai seorang yang putih. Ini malah makin memancing amarah. Jadi, penting sekali memilih bahasa yang indah demi menjaga perasaan orang lain. Yang jelas, semua termulai dari seberapa peka dan santun perasaan yang kita miliki.


Dan semata tidak tentang menjaga perasaan, pentingnya memilih bahasa yang indah ketika berbicara. Tetapi, bahasa-bahasa indah yang disampaikan kepada orang lain akan mampu menjadi energi positif yang membangkitkan diri untuk menjadi lebih baik. Misalkan, jika ada anak-anak yang bandel, susah diatur. Ya jangan langsung distempel dengan bahasa yang kurang tepat, meskipun toh kenyataannya begitu. Pilih bahasa yang indah. Jangan malah marah-marah "bandel terus, mau jadi apa?", "anak kok susah diatur, niru siapa?".


Kata-kata yang semodel begitu, sama halnya sedang memasukkan sampah ke hati dan pikiran anak-anak. Apalagi yang usianya masih sangat belia dengan kosa kata yang masih sederhana, maka pengucapan-pengucapan negatif begitu hanya akan memperkaya khazanah kosa kata tidak baik di dalam diri anak. Dari kata-kata yang kurang baik itu, perlahan akan mewujud di dalam tingkah lakunya. Jadi, berhati-hatilah soal berbahasa ini. Pilih bahasa yang indah, yang tidak menyinggung perasaan, yang mampu membangkitkan kebaikan setiap diri.


Sedang, soal ucapan-ucapan tidak baik terhadap orang lain, Allah SWT memperingatkan kita semua dalam Q.S. Al-Hujurot: 11-12. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim."


"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."


Lebih luas dari itu, bahwa memilih bahasa yang indah juga terkait dengan kesanggupan menahan diri untuk tidak mengumbar aib dan ketidakbaikan. Sehingga, yang disampaikan hanya tentang kebaikan, keindahan, dan keberhasilan-keberhasilan. Sedang, tentang ini, Allah SWT memerintahkan untuk menyebut-nyebut apa yang dinikmati sebagai karunia. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Q.S. Adh-Dhuha: 11).


Dengan demikian, seseorang yang sibuk hanya tentang pembahasan yang baik-baik dengan bahasa-bahasa yang indah, sesungguhnya adalah wujud dari syukur kepada Allah SWTt. Dan, dari rasa syukur inilah yang menjadikan-Nya menambahi kebaikan-kebaikan tadi. Sebaliknya, seseorang yang disibukkan dengan ketidakbaikan dengan bahasa yang jauh dari kata indah dan santun, merupakan tanda keruhnya hati dan tidak adanya rasa syukur di dalam diri.


Yang ini, hanya akan mengundang datangnya petaka secara bertubi-tubi. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim: 7). Kondisi yang terakhir ini, tentu akan sangat berbahaya jika dilakukan oleh tokoh-tokoh terkemuka yang dianut oleh banyak manusia, pembesar-pembesar yang masih memiliki pengaruh di tengah-tengah masyarakat. Jika kemana-mana dan kepada siapa-siapa, yang disampaikan hanya tentang ketidakbaikan-ketidakbaikan atas suatu kondisi, yang disebut-sebut bukan sesuatu yang indah yang menyemangati hati untuk bersyukur kepada Allah SWT. Maka, bisa jadi perlahan Allah Swt akan melengkapi ketidakbaikan itu sendiri dengan derita yang lebih pedih.


Dari itu, mulai dari skala paling kecil sebagai pribadi, sampai kepada manusia yang berderajat mengampu umat, bermartabat terpandang di tengah-tengah masyarakat, penting sekali untuk menjaga lisan. Dalam setiap ucapan, harus tentang bahasan-bahasan kebaikan dan keberhasilan. Biar pun dirasa sangat buruk kondisi yang dialami, temukan nuansa-nuansa kebaikan untuk kemudian disebut-sebut sepenuh rasa syukur. Dengan demikian, Allah SWT akan berkenan memperbaiki kondisi kita, mengampuni segala dosa kita, dan tentunya akan menghujani kita dengan beragam kenikmatan-Nya. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Q.S. Al-Ahzab: 70-71).


"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian untuk taat kepada-Mu dan janji balasan-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau." (H.R. Muttafaq ‘alaih).

 

*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA