Kamis, H / 25 Februari 2021

Membuang Beban Masa Lalu

Rabu 02 Jan 2019 10:11 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: google pics

Oleh : M. Nurroziqi


ESQNews.id - "Saat kita mengekspresikan rasa terima kasih kepada seseorang, kita akan lebih fokus pada hal-hal baik yang telah dilakukan orang itu kepada kita. Hal ini akan membuat kita lebih fokus pada hal-hal positif dalam hubungan kita dan dia." (Nathaniel Lambert).


Seringkali, diri terjebak dengan beragam masa lalu. Baik dan tidaknya nasib hidup yang telah dilalui itu, justru menjadikan diri tidak tenang. Hidup penuh kebimbangan. Sulit sekali untuk "move on". Lebih-lebih jika yang pernah dialami itu adalah pengalaman yang sangatlah pahit nan pedih. Makin remuk perasaan diri. Bangkit dan bergairah untuk lebih hidup pun sulitnya minta ampun.


Perlu sekali, di pengujung tahun ini, kerugian, kepahitan hidup, ketidakberhasilan, dan berbagai kejadian yang dianggap menyiksa sepanjang tahun ini, diterima dengan lapang dada. Ikhlas, bahwa semua itu jelas bagian dari kepastian Allah Swt yang musti diterima. Sama sekali tidak bisa dihindari. Jika kemudian muncul benci di hati, terdapat dendam membara terhadap segala sesuatu, atau lebih-lebih kepada manusia lain, yang telah dianggap sebagai penyebab atas tidak enaknya hidup yang telah dijalani itu, maka segeralah dimaafkan. Lupakan seluruh kesalahan mereka. Maafkan. Jika perlu, datangi, dan berterima kasihlah. Yakinkan diri, bahwa mereka semua telah dituntun-Nya untuk menjadi bagian dari kehidupan diri ini. Tentunya, menjadi perantara-Nya dalam memberikan pelajaran dan membantu mengukirkan pengalaman berharga bagi diri.


Baca Juga : Menjadi Pribadi yang Selalu Baru

Begitulah kerelaan. Keikhlasan atas segala yang ditakdirkan-Nya. Ini, tidak hanya berlaku bagi yang hidupnya diliputi pengalaman menyakitkan di masa lalu. Justru, yang hidup penuh keberhasilan, kenikmatan, serta beragam kemudahan lainnya, harus juga bisa menerima semuanya dengan penuh kesabaran. Kenapa musti sabar? Sebab, tidak jarang orang-orang yang berlimpah hidupnya itu didera sifat tamak, rakus, dan selalu tidak puas hidupnya. Satu belum sempat dinikmati, yang di genggaman belum mampu disyukuri, sudah ingin tambah lagi, tambah lagi, dan lagi. Ibaratnya, makan belum sempat dikunyah, sudah langsung ditelan untuk kemudian dipaksa dimasuki makanan yang lain lagi. Jelas, hidup yang begini tidak akan pernah bisa tenang. Dan ketidak-tenangan akan menjadikan diri sulit untuk bisa menikmati semua dengan penuh bahagia.


"Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (H.R. Muslim, Ahmad, ad-Darimi).


Di samping hidup penuh kesabaran, teramat penting menjadi manusia yang penuh syukur. Bersyukur atas segala kenikmatan yang telah dianugerahkan-Nya. Rasa syukur ini diwujudkan tidak sekadar semakin rajin beribadah. Tetapi, juga berterima kasih kepada siapa pun saja yang telah menjadi bagian dari sampainya kenikmatan-kenikmatan Allah Swt atas diri ini. Jangan menjadi "kacang lupa kulitnya", kurang ajar namanya. "Wa-man lam yasykurin nas, lam yasykurillah." (Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka dia tidak berterima kasih kepada Allah.) (H.R. Abu Daud dan At-Turmudzi).


Baca Juga : Pentingnya Menertibkan Kenangan


Silakan, diingat-ingat, siapa saja yang benar-benar dijadikan-Nya perantara untuk perjalanan hidup sampai saat ini. Budi baik dan jasa mereka, jangan sampai ada satu pun yang terlewatkan. Ingat-ingatlah hanya tentang kebaikan. Supaya hati semakin bening menampung siapa pun. Semoga, keadaan setiap diri semakin tenang, damai, dan bahagia.


Menerima dengan ikhlas apa pun yang menjadi kehendak-Nya. Tidak benci dan dendam. Tetap baik terhadap siapa pun. Sama sekali tidak lupa akan peran dan jasa orang lain atas kehidupan yang saat ini dinikmati. Tidak mudah, memang. Tetapi harus dipaksa bisa. Maafkan sebesar apa pun ketidakbaikannya. Agar untuk selanjutnya, diri menjadi lebih rileks menapaki jalan kehidupan, lebih berbahagia dalam menjalani takdir dari-Nya.


Penting sekali menjaga ketenangan di dalam diri ini. Sebab, hanya dalam kondisi tenanglah, semua akan terjalani dengan sangat nikmat nan membahagiakan. Lebih dari itu, hanya jiwa-jiwa yang tenanglah (nafsu muthmainnah) yang dipanggil mesra oleh Allah Swt, dikumpulkan dengan para pengabdi-Nya dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (Q.S. al-Fajr: 27-30).


Semoga, semenjak detik ini, hati kita disucikan-Nya dari semua jenis prasangka yang tidak semestinya. Serta, dihimpunkan-Nya hidayah untuk kita demi hidup yang jauh lebih baik, lebih indah dan lebih membahagiakan.

 

*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA