Sabtu, H / 04 April 2020

Membangun Keridhoan Diri

Senin 27 Aug 2018 10:03 WIB

M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: google.com

Oleh : M. Nurroziqi

 

ESQNews.id - Siapa yang tidak mendambakan anak-anak sholih-sholihah? Tetapi, bagaimana jika ternyata diri diuji dengan anak-anak yang belum sesuai harapan?

Ibaratkan begini, kita sebagai orangtuan yang memiliki anak. Kemudian, kita menghadiahkan sesuatu yang secara kualitas dan kuantitas sangat tepat untuk anak. Entah makanan, mainan, atau dalam bentuk apapun saja sesuatu itu. Selanjutnya, anak pun menerima dan menjadi sangat suka dengan sesuatu itu. Lantas, bagaimana perasaan orangtua yang sudah tulus menghadiahkan sesuatu itu? Jelas bahagia dan bangga. Tidak selesai di situ, seandainya pun, seiring berjalannya waktu, terjadi keteledoran anak atas sesuatu itu, entah lupa menaruh, entah rusak atau habis karena sering terpakai, bagaimana sikap orangtua? Pastilah turut juga merawat sesuatu itu. Jika rusak dibetulkan, jika berserakan ya dipungut dirapikan. Kenapa begitu? Ya karena anak sudah sangat suka dengan sesuatu itu. Sekarang sebaliknya, bagaimana jika sejak semula anak sudah tidak suka dengan sesuatu itu? Jika terjadi kerusakan pun, orangtua akan diam, cuek saja, dibiarin saja.

Itu, jika sesuatu yg dihadiahkan adalah yang secara kualitas dan kuantitas memang layak. Bagaimana jika sesuatu itu tidak layak? Misalkan, orangtua tidak sanggup memberikan mainan mahal, tidak kuat membelikan makanan yang enak-enak. Tetapi, yang dimampui orangtua cuma mainan jelek yang tidak seberapa, makanan ya cuma ala kadarnya. Pemberian sesuatu yang model begini pun, jika sejak awal anak menerima dan sangat suka. Orangtua pasti turut bahagia dan bangga. Bahkan, jika anak bisa menerima dan sangat suka dengan sesuatu yang sangat-sangat sederhana itu, bisa menjadikan orangtua iba, merasa kasihan. Akhirnya, orangtua semakin semangat berusaha untuk menghadiahkan sesuatu yang jauh lebih layak. Kenapa? Ya karena anak bisa menerima dan sangat suka, biar pun dihadiahi sesuatu yang memang ala kadarnya.

Kedua peristiwa tadi, hanya semacam analogi sederhana. Soal orangtua dan anak, persis selayaknya anak dengan sesuatu hal yang dihadiahkan itu. Penerimaan dan rasa sangat suka atas anugerah anak dari Allah Swt adalah wujud keridhoan orangtua. Dan jika orangtua sudah ridho, pastilah Allah Swt juga senantiasa meridhoi. "Ridholloh fii ridhol walidaini. Wa sukhtulloh fii sukhtil walidain." (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim). Layak atau tidak, anak dalam pandangan mata manusia, jika orangtua sudah sanggup menerima dan sangat suka sejak awal, maka Allah Swt akan turut menjaga dan menuntun anak itu dalam kebaikan. Jika pun, seandainya terjadi hal-hal yang tidak selayaknya, nakal dan lain sebagainya, maka keridhoan orangtua sangat berperan penting. Sehingga, sebab ridhonya orangtua, Allah Swt akan turun tangan memperbaiki anak tadi untuk menjadi baik.

Masalahnya, sebagai orangtua, kalau sudah mendapati anak tidak sesuai keinginan, maka amarah yang muncul, uring-uringan, dan tidak ridho. Jadinya, justru akan semakin menjadikan Allah Swt tidak meridhoi anak itu. Dan kalau Allah Swt sudah tidak ridho, pastilah celaka hasilnya. Malahan, ada tipe orangtua yang ketika mendapati anaknya tidak baik, spontan memarahi dengan mencapnya sebagai anak durhaka dan lain sebagainya. Jika yang terjadi begini, justru sangat berbahaya. Tidak akan menjadikan anak lebih baik. Tetapi, semakin tidak baik dan tidak baik. Makanya, ridho orangtua atas apa pun dan bagaimana pun juga kondisi anak, adalah faktor utama untuk kebaikan anak.

Lebih jauh, mengenai keridhoan ini, bukanlah berkisar soal anak semata. Tetapi, dalam lingkup kehidupan yang jauh lebih luas. Jika kita bisa ridho atas semua yang menimpa diri, apa pun dan bagaimana pun juga yang dianugerahkan-Nya, maka Allah Swt pastilah juga senantiasa meridhoi. Dan jika Allah Swt sudah ridho jelas semua menjadi baik. Bahkan, seandainya yang kita rasakan adalah sesuatu yang kita maknai sebagai yang tidak enak, maka kesanggupan diri menerima, sangat suka, dan benar-benar ridho, maka Allah Swt pun akan memperbaiki semua, menjadikannya jauh lebih baik dan indah pastinya.

Dari itu, membangun keridhoan diri teramat sangat penting dalam perbaikan-perbaikan kehidupan. Allah Swt pun mensyaratkan ridho atas-Nya agar manusia senantiasa disambut mesra dengan keridhoan-Nya. "Hai jiwa yg tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yg puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku." (Q.S. Al-Fajr: 27-30). Wujud keridhoan diri, ditandai dengan keistikamahan bersyukur kepada-Nya. Bersyukur atas apa pun dan bagaimana pun juga yang dianugerahkan-Nya. Dan sebagaimana janji-Nya dalam Q.S. Ibrahim ayat 7, bahwa siapa pun yang pandai bersyukur, maka Allah Swt akan melipatgandakan setiap kebaikan di dalam diri manusia bersyukur.

Semoga, kita semua dianugerahi keluasan hati, kelapangan dada, sehingga setiap yang dianugerahkan Allah Swt sanggup diterima dengan keridhoan yang luar biasa.

 

M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA