Jumat, H / 23 Agustus 2019

Mari Berjihad di Jalan Allah SWT

Rabu 08 May 2019 09:27 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Mari ajak diri ini terlebih dahulu untuk berjihad

Foto: islami.co

ESQNews.id, JAKARTA – Jihad berarti berjuang dengan penuh kesungguhan hati. Dengan cara mengeluarkan segala upaya kemampuan dan potensi kita di jalan Allah SWT. Jika kita bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah SWT untuk menjalankan misi utama manusia akan mendapatkan ganjaran yang lebih di sisi Allah SWT.

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyatakan: “Jihad yang paling utama adalah mengungkapkan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim.” Pada kesempatan lain, Nabi mengungkapkan, “Orang yang diam dari kebenaran, sama dengan syetan yang bisu.”

 

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan menyegah yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung,” (Ali Imraan: 104).

 

Lalu, dalam Surat Al-Muthaffifiin (1-6), Allah memberi peringatan: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”

 

Ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke nereka, Rasulullah menjawab: “Dua bagian dari tubuh manusia, yaitu lisan dan kemaluannya.” Lalu, perkara apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke Surga? “Takwa kepada Allah, dan akhlak yang mulia.”

 

Mengungkapkan kebenaran samanya kata dan perbuatan, tidak berbuat curang, itulah akhlak yang mulia dan itulah kejujuran. Rasulullah menjelaskan: “Sesungguhnya, jujur itu memberikan petunjuk kepada kebajikan, dan kebajikan memberikan petunjuk kepada Surga.” Tentang perilaku yang sebaliknya, Nabi mengatakan: “Sesungguhnya dusta itu memberikan petunjuk kepada hal-hal maksiat, dan hal-hal maksiat memberikan petunjuk kepada Neraka.”

 

Dan, “Sesungguhnya seorang lelaki tidaklah berbuat jujur sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya seorang hamba tidak berbuat dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

 

Sifat jujur juga melekat dan tumbuh melalui sifat qana’ah, menerima dan menggunakan segala sesuatu secukupnya, tidak berlebihan, menghindari ketamakan. Kisah Khalifah Abu Bakar adalah teladan yang indah bagi kaum muslimin.

 

Syahdan, sehari setelah diangkat sebagai Khalifah, Abu Bakar ditegur oleh Umar bin Khattab karena hendak berjualan kain ke pasar sebagaimana biasanya.

 

“Jika engkau sibuk berdagang, siapakah yang akan melaksanakan tugas kekhalifahan?” tanya Umar. “Jika tidak boleh berdagang, lalu bagaimana aku harus membiayai keluargaku?” Abu Bakar balik bertanya.

 

Umar kemudian mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah – yang oleh Nabi dijuluki sebagai “Penjaga Amanah” – untuk meminta ketetapan tentang gajinya. Abu Ubaidah pun menetapkan jumlah tunjangan untuk Khalifah. Yang diambil dari Baitul Mal yang besarnya sama dengan tunjangan untuk seorang muhajirin lainnya, tidak kurang dan tidak lebih.

 

Hingga suatu hari, istri Abu Bakar mengutarakan isi hatinya: “Aku ingin makan sedikit manisan,” ujarnya. Abu Bakar berkata, “Aku tidak punya uang untuk membelinya.”

“Jika engkau izinkan, akan ku hemat uang belanja sehari-hari agar dapat membeli manisan itu,” kata istrinya. Sang suami setuju.

 

Beberapa waktu kemudian, setelah tabungannya mencukupi, sang istri menyerahkan uangnya kepada Abu Bakar untuk dibelikan manisan di pasar. Begitu menerima uang itu, Abu Bakar lantas berkata, “Tampaknya, dari pengalaman ini uang tunjangan kita dari Baitul Mal telah melebihi kebutuhan kita.”

 

Abu Bakar lalu memutuskan untuk mengembalikan uang tabungan istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak itu, tunjangan Abu Bakar dikurangi sebesar uang yang dapat dihemat oleh istrinya itu.

Alangkah indahnya, bila bangsa kita mau berjihad, untuk berlaku jujur, mengungkapkan kebenaran, menyamakan kata dengan perbuatan, tidak berbuat curang, dan qana’ah sekarang juga!

 

Pernah diterbitkan di ESQ Magazine No. 02/V Januari 2009


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA