Minggu, H / 09 Agustus 2020

Lee Hae-Jin: Out of Comfort Zone, Usir Google dari Korea.

Senin 18 Feb 2019 09:55 WIB

Author :Singgih Wiryono

Lee Hae Jin, CEO Nave corp

Foto: Ipnomics

Singgih Wiryono*


Tidak banyak dari kawasan timur yang menjadi jutawan ketika membangun startup. Setidaknya, mereka tak sepopuler Marc Zuckerberg, Bill Gates, Ilkaa Pananen, Steve Jobs, atau Evan Spiegel. Nama yang sering kita dengar mungkin hanya Jack Maa, pendiri Alibaba yang sekarang menggurita dan mulai mengakuisisi perusahaan-perusahaan startup lainnya seperti Lazada dan lainnya.


Walaupun tidak sefamiliar lainnya, Lee Hae-Jin adalah sosok yang patut diperhitungkan di industri komunikasi lainnya. Lee Hae Jin mendirikan Naver.com pada tahun 1999. Di awal tahun startupnya, ia berhasil mengantarkan Naver menjadi search engine terpopuler di Korea Selatan.


Berkat kegigihannya membangun Naver, Korea Selatan adalah satu di antara beberapa negara yang tidak didominasi oleh Google. Belum puas sampai di situ, Pria yang dikenal dengan panggilan Lee ini mengembangkan perusahaan Naver ke dalam dunia instant messaging dengan sebuah apps yang ia beri nama LINE. Nama LINE sendiri terinspirasi saat ia melihat banyak orang Jepang mengantre telepon umum setelah terjadi bencana gempa bumi di wilayah Sendai, utara Jepang tahun 2011 silam.


Walaupun memiliki latar belakang nama yang unik, aplikasi messenger ini sukses diminati banyak orang khususnya kalangan millenial. Dengan banyaknya user aktif, LINE mengeluarkan versi platform Blackberry. Line berkembang pesat! Menginjak tahun pertama, LINE kembali meluncurkan aplikasi LINE yang bisa digunakan di platform desktop untuk Windows dan Macintosh.


Setelah berhasil menyita banyak perhatian LINE terus berinovasi dan mengembangkan sayapnya ke berbagai negara dengan cara memberikan dukungan bahasa untuk aplikasi messenger tersebut. Saat ini lebih dari  12 bahasa yang didukung oleh LINE, diantaranya; Indonesia, Inggris, Jerman, Jepang, Korea, Thailand, Mandarin, Perancis, Spanyol, Malaysia, Turki, Vietnam.


Lee Hae Jin juga mengembangkan aplikasi LINE tidak hanya sekedar aplikasi messenger, namun ada banyak variasi dari aplikasi LINE ini yang menjangkau berbagai aspek. Ada untuk penamaan aplikasi game ciptaan Naver, seperti LINE GET RICH, LINE RANGERS, dan berbagai game yang terus dikembangkan oleh startup yang berbasis di Seoul, Korea Selatan tersebut. Seperti orang yang tak pernah puas, Lee terus mengukuhkan posisi LINE dengan menambahkan fitur seperti Aplikasi dompet virtual LINE PAY, Aplikasi cctv LINE CCTV, Aplikasi menggambar LINE BRUSH, Aplikasi LINE ANTIVIRUS, Aplikasi LINE LIVE PLAYER untuk memainkan video dan musik, Aplikasi translator bahasa, Aplikasi komik onLINE LINE WEBTOON yang saat ini menjadi andalan Naver mengeruk uang.


Keberhasilan menciptakan berbagai inovasi tersebut, di tahun 2015 lalu Line berhasil menduduki posisi pertama dalam kategori aplikasi gratis di 42 negara, di antaranya Jepang, Taiwan, Spanyol, Rusia, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia, Macau, Swiss, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara lainnya termasuk di Indonesia.


Tidak banyak yang bisa kita ketahui tentang latar belakang Lee Hae Jin, selain fakta bahwa ia adalah seorang kaum terpelajar lulusan sains dan teknologi dengan masa depan yang cerah di Samsung Group. Akan tetapi, Lee kemudian memutuskan untuk menanggalkan karirnya di perusahaan terbesat di Korea Selatan itu untuk mendirikan Naver, dan beberapa tahun kemudian meluncurkan LINE. Ternyata, langkah ini kemudian jadi langkah terbaik dalam hidupnya. Dalam waktu 4 tahun, LINE berhasil mendominasi Jepang, Thailand, dan Indonesia. Dengan pasar yang luas dan permintaan yang terus berkembang terhadap dunia instant messaging, LINE membukukan 470 juta pengguna di seluruh dunia.


Apa yang membuat LINE berbeda dari pesaing-pesaingnya adalah kemampuannya untuk mengembangkan dari sejumlah fitur di dalam apps seperti penjualan stiker dan iklan. Meskipun mungkin hanya sebagian kecil pengguna yang bersedia membayar, namun fitur-fitur ini nyatanya toh tidak butuh banyak tenaga untuk membuatnya. Model seperti ini seringkali terabaikan oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya. Padahal, lewat penjualan sticker, ads, dan beberapa fitur-fitur di dalamnya saja, LINE berhasil mengumpulkan hingga US$6.38 juta pada triwulan pertama tahun 2014. Selain itu, terutama karena 80% pembelian datangnya dari Jepang, model ini kabarnya membuat Softbank perusahaan telekomunikasi Jepang tertarik untuk berinvestasi di LINE. Kabar ini membuat nilai saham Naver melonjak, yang mana berujung pada kekayaan Lee yang berlipat ganda.


Kini, kekayaan Lee Hae Jin diperkirakan mencapai angka sekitar $1.1 miliar. Kesuksesan Lee ini cukup menakjubkan mengingat perekonomian digital Korea Selatan masih didominasi oleh konglomerat. Belum ada cukup banyak model bisnis startup yang sukses di sana. Namun toh, Lee bisa membuktikan bahwa tanpa dukungan iklim yang baik pun, selama Anda memiliki keyakinan bahwa Anda bisa, Anda bisa mencapai kesuksesan dengan startup Anda.


*Editorial ESQ Media


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA