Rabu, H / 24 Oktober 2018

Kunci Ketahanan Ekonomi Indonesia Kini ada di Ekspor dan Pariwisata

Kamis 11 Oct 2018 14:19 WIB

Rep:AA/Ed:Titin Nuryani L Wiyono

Pariwisata Indonesia

Foto: google image

Indonesia sebagai negara yang memiliki defisit transaksi berjalan terus menjaga agar defisit tersebut berada pada level yang aman


ESQNews.id, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyebut kunci ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian perekonomian global terletak pada peningkatan ekspor dan pariwisata.


Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan hal tersebut dalam seminar Reinventing Bretton Woods Committee yang mengambil tema “The Shadow of Neo Protectionism and Coping with The Challenges of The Normalisation Process” yang dilaksanakan dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, Kamis (10/11/2018).


Mirza menyatakan bahwa proses normalisasi negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS) memang membawa dampak global, khususnya terhadap negara berkembang, bahkan sejak dicanangkan pada Mei 2013.


“Demikian pula neoproteksionisme yang dimulai pada 2016 dan semakin mengalami boom pada 2018,” ujar Mirza. 


Kebijakan-kebijakan ekonomi AS dan Tiongkok lanjut Mirza, membawa pengaruh kepada negara berkembang, termasuk dari sisi nilai tukar. Dalam kondisi global tersebut, Indonesia sebagai negara yang memiliki defisit transaksi berjalan ujar Mirza, terus menjaga agar defisit tersebut berada pada level yang aman. 


Mirza menambahkan defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini terkait kebutuhan pembangunan infrastruktur, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memang sangat membutuhkan fasilitas seperti bandara, pelabuhan, dan tol laut. 


Di samping infrastruktur, lanjut dia, impor minyak Indonesia juga menjadi salah satu faktor berpengaruh saat ini. Untuk itu, Pemerintah telah mendorong penggunaan B20, yaitu bahan bakar yang dicampur dengan minyak kelapa sawit, untuk mengurangi kebutuhan impor. 


“Dengan kebutuhan impor yang masih besar, semakin penting bagi Indonesia untuk mendorong ekspor dan pariwisata,” tegas Mirza. Pemerintah menurut dia, saat ini terus mengembangkan berbagai destinasi wisata agar wisatawan asing memiliki pilihan destinasi selain Bali. 


Jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia ditargetkan terus bertambah, yaitu 20 juta orang pada 2020 dan 25 juta orang pada 2025, yang diharapkan dapat menambah penerimaan devisa negara.


Mirza pada kesempatan tersebut juga mengingatkan seluruh peserta yang hadir dari berbagai negara, untuk berbelanja produk-produk buatan Indonesia.


Dapatkan Update Berita

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA