Jumat, H / 23 Agustus 2019

Kirim Surat Resign ke Allah

Selasa 26 Mar 2019 07:28 WIB

Author :Singgih Wiryono

Surat Resign (Ilustrasi)

Foto: freepik

Singgih Wiryono*


Pernah nggak ngerasa diri membiayai hidup anak atau istri dengan tangan sendiri? Atau memenuhi kebutuhan orang terdekat, membiayai sekolah adik yang sedang studi misalnya, atau mengirim bulanan untuk orang tua yang sudah sepuh di kampung?


Tentu pernah, saya sendiri pernah terpintas. Lantaran itu diri menjadi merasa yang memberikan kecukupan finansial. Rasa-rasanya, kalau nggak ada diri, adik nggak bisa sekolah, kalau nggak ada diri ibu bapak di kampung tak bisa makan, nggak ada diri, istri anak hilang harapan hidupnya.


Kemudian karena merasa diri terbebani, mulai lah mencari alasan atas kegagalan mengelola keuangan. Andai hasil jerih tak dibagi untuk biaya studi, atau untuk mengirimkan ortu, pasti saya sudah begini dan begitu. Mulai mencari alasan bahwa apa yang telah dibagi sebenarnya adalah milik dia pribadi kemudian dengan alasan itu dia berkata.


"Halo dik, cari lah uang sendiri. Karena studimu, abang tak bisa beli motor baru." atau "Hai abah, mamak. Anakmu tak bisa beli tempat tinggal karena uang habis dikirim ke kampung. Sekarang aku sudah beranak pinak, biarkan aku beli rumah dulu, aku tak bisa kirimkan tiap bulan lagi."


Ketika itu, secara tak langsung kita mengirimkan surat resign kepada Allah. Allah yang maha memberi rizki, yang dulunya percaya kepada tangan-tangan kita Dia titipkan rizki kedua orang tua kita, Dia titipkan rizki adik-adik kita, tiba-tiba kita minta berhenti menjadi kurirnya Allah.


Aneh kan, kita sendiri yang minta berhenti. Berhenti dulu ya Allah, suruh orang lain saja yang salurkan rizki-Mu untuk adik aku, suruh orang lain saja yang menjadi pengantar rizki-Mu ke kedua orangtua kami. Tanpa rasa malu kita ucapkan itu, seolah Allah terlalu sering menyuruh kita. Seolah kita lah yang memiliki rizki, Allah hanya menyuruh-nyuruh saja, itu kan hasil kerja keras kita. Padahal uang yang kita dapat, tak sedikit pun rizki itu untuk kita kecuali apa yang kita makan dan untuk kain kafan saja.


Kalau sudah begitu, mau apa? Tak ada hal yang paling menakutkan dunia akhirat kecuali ketika Allah mencampakkan kita. Maka jangan sok-sok lah minta Allah mencampakan kita, apalagi mengirim surat resign untuk tidak menjadi kurirnya Allah lagi.


*Editorial & Reportase ESQ Magz


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA