Rabu, H / 03 Juni 2020

Kiat Agar Shalat Tidak Berat

Selasa 04 Sep 2018 09:01 WIB

Mushlihin

ilustrasi.

Foto: google pics


Oleh : Mushlihin

ESQNews.id - Adzan zhuhur berkumandang. Dari sebuah masjid yang menaranya menjulang ke awan. Letaknya berdampingan dengan sekolah yang berdiri sejak 1968.

Seorang pendidik mengakhiri pembelajaran. Ia mengajak para siswa berwudlu di kran. Dipisahkan antara lelaki dan perempuan. Bila melihat kekurangan maka disuruh menyempurnakan.

Beberapa murid mematuhi ajakan yang sudah diprogramkan. Tapi tidak sedikit yang membangkang dengan beragam alasan. Ada yang bilang memang berhalangan. Lalu pakaiannya kena kotoran. Atau orang yang menjemputnya sudah datang dan harus pulang karena suatu urusan.

Sang pendidik pada mulanya memakluminya. Ia menjadi berang setelah mengetahui bahwa anak didiknya mencari-cari alasan agar terbebas dari shalat jamaah. Apalagi pelakunya sama, itu-itu saja. Berulang kali diperingatkan dan diberi hukuman, tapi tidak jera.

Guru tersebut menasehatinya, tapi tidak digugu dan tak ditirunya. Ia sedikit memaksa mengantarkan mereka hingga ke tempat wudlu pria dan wanita.

Ketika iqamah dilantunkan, hanya sebagian yang bersedia menempati shaf terdepan. Sebagian lainnya berada di belakang.

Imam mengingatkan para jamaah agar meluruskan dan merapatkan barisan serta mematikan telephon genggam. Sesudah itu shalat didirikan dengan penuh kekhusyukan.

Ba'da salam imam sekaligus guru balik badan. Dipandanginya seluruh jamaah dengan mata tajam. Satu persatu diamati dan tak ada yang terlewatkan.

Anehnya ada tiga siswa yang hilang. Kemudian dicari dan bertemu satu orang. Saat ditanya ia telah shalat sendirian. Ia beralasan shalat jamaahnya lama dan bacaan terlalu pelan.

Sementara anak kedua, meninggalkan sembahyang lantaran lebih asyik main pistol-pistolan atau bedil-bedilan. Yang terbuat dari bambu kecil panjang. Kemudian diisi kertas basah dari kertas bekas maupun koran.

Sedang anak ketiga, bersembunyi di bawah bangku. Saat kepergok guru, ia sangat tersipu malu.

Ustadz mendekatinya, ia amat ketakutan. Terjadilah aksi kucing-kucingan. Alias kejar-kejaran antara orang tua dan anak kesayangan.

Esoknya lebih parah lagi. Kelas sembilan putra tidak ada yang berangkat jamaah. Hanya seorang yang mematuhinya karena merupakan kebutuhannya. Padahal sudah diingatkan untuk kesekian kalinya.

Selanjutnya diadakan pembinaan. Mereka janji tidak akan mengulangi kesalahan. Mereka bersedia shalat sebelum mengikuti pelajaran.

Kejadian di atas merupakan contoh ringan. Akan tetapi berakibat fatal jika dibiarkan dan tidak segera diberi tindakan.

Caranya ada kekompakan antara pendidik dan tenaga kependidikan. Jangan hanya seorang yang susah payah mengumumkan, menggiring, mengimami, dan memberikan hukuman. Atas pelanggaran tata tertib sekolah yang telah dimusyawarahkan dan disosialisasikan.

Sebaliknya, beberapa orang guru dan karyawan cuma ngobrol sesama teman. Membicarakan hak dan keinginan, bukan kewajiban.

Perlu diketahui shalat adalah rukun islam yang wajib dilakukan oleh orang yang beriman. Dengan shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar alias durhaka melanggar perintah Tuhan.

Dr.H.Abdul Mu'ti, M.Ed selaku ketua Badan Akreditasi Sekolah Nasional menceritakan sebuah pengalaman. Tatkala beliau memberikan sambutan Diklat Kependidikan di Solo setahun yang silam. Ada sekolah di luar negeri yang peserta didik dan pendidiknya beragam. Maksudnya ada yang muslim dan non muslim. Suatu ketika dilaksanakan shalat berjamaah. Ternyata seorang guru non muslim turut serta mensukseskan ketenangan dan mengawasi para siswa berjamaah.

Selanjutnya waktu diwawancarai ia berkata, bahwa itu merupakan tugas dan tanggungjawab selaku pendidik demi kemajuan sekolah.

Di dalam negeri tepatnya di pelosok desa, ada Sekolah terpadu kurang lebih seratus peserta didiknya. Lembaga tersebut warganya berkomitmen bersedia ikut shalat jamaah.

Maka disusunlah pembagian kerja. Guru piket sebagai koordinator utama dan digaji setara 8 jam kerja. Sedang siswa dibebani adzan dan iqomah. Para ustadz bergiliran menjadi imam dan tausiyah. Ditambah siswi menyampaikan kultum satu orang perharinya. Adapun ibu dan wanita haid diberi amanah mengawasi seluruh jamaah. Bila ada yang ketinggalan atau bahkan pulang akan dikenakan denda.

Setiap bulan diadakan musyawarah bersama. Kepala sekolah melaporkan berbagai kendala dan menyampaikan solusinya.

Sedikit demi sedikit warga sekolah terbiasa jamaah. Jika ada yang lalai dalam shalatnya, masyarakat turut menegur dan mengontrolnya. Sehingga mereka jera.

Dengan efektifnya sekolah menjadikan program unggulan dalam hal shalat jamaah, sangat berpengaruh terhadap menurunnya tingkat pelanggaran tata tertib guru maupun siswa.

Lebih dari itu seluruh warga sekolah kini tak hanya mendirikan shalat fardhu saja. Melainkan sudah merambah shalat yang sunnah. Seperti shalat hajat, rawatib dan dhuha tanpa diperintah sesama manusia.

M. Quraish Shihab dalam bukunya "Islam yang saya anut" menuturkan bahwa seseorang hendaknya tidak menganggap shalat sebagai kewajiban tetapi kebutuhan jiwa dan akal manusia.

Demikian kiat sederhana agar anak tak merasa berat mendirikan shalat jamaah pada saat kegiatan belajar mengajar di sekolah.


*Penulis adalah Guru SMPN Karanggeneng Lamongan

Ingin tulisan Anda diterbitkan di ESQNews.id? kirimkan tulisan Anda ke redaksi@esq165.co.id




Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA