Minggu, H / 12 Juli 2020

Kenalkan Rasa Syukur Pada Anak, Bagaimana Caranya? (1)

Kamis 23 Apr 2020 08:08 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Ilustrasi

Foto: oasis4humanity.com

ESQNews.id, JAKARTA - Di depan sebuah meja makan, seorang anak berusia lima tahun duduk dengan wajah cemberut. Dia tidak mau menyantap sajian yang terhidang di hadapannya. “Mama, aku tak suka makanan ini,” ujarnya.


Sang ibu yang merasa sudah susah payah menyajikan makanan tersebut tentu merasa kesal. “Syukuri yang ada, masih banyak anak yang kurang beruntung di luar sana.” Si anak pun berkata dengan ketus, “Mama bilangnya bersyukur terus, bosan.”


Di tempat lain di suatu pagi, seorang ayah baru saja menerima majalah langganannya. Begitu melihat sampul majalah yang memasang foto orang tidak memiliki kaki dan tangan, anak lelakinya berkata, “Ayah pasti bilang, aku harus bersyukur.”


Banyak yang mungkin mengalami peristiwa seperti dua kisah nyata di atas. Si anak merasa tidak nyaman ketika orangtua memintanya untuk bersyukur.


<more>


Peristiwa seperti itu sesungguhnya menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman antara orangtua dan anaknya saat terjadi komunikasi di antara keduanya.


Ketika mengatakan syukur, orangtua kerap menganggap anaknya bahkan yang masih sekolah di Taman Kanak-kanak pun sudah paham dengan konsep syukur. Dengan demikian, kata tersebut sering terungkap dari mulut orangtua, agar anaknya mau menerima keadaan yang justru mungkin tak diinginkan anaknya.


Tentu saja pesan tersebut menjadi tidak sampai. Anak yang belum paham arti syukur, menganggapnya sebagai pemaksaan.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA