Senin, H / 16 Desember 2019

Jalan Hidup itu Bernama Pancasila

Kamis 07 Feb 2019 11:29 WIB

Reporter :Singgih Wiryono

Lambang Negara Republik Indonesia

Foto: NU.or.id

Wawancara eksklusif bersama Sekertaris Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Gunawan Sumodiningrat, Ph.D


“Orang hidup itu pasti berpancasila, kalau tidak berarti hidupnya itu hidup-hidupan. Tidak bisa memaknai kehidupan.”


Apa itu Pancasila, pertama adalah Ketuhanan Yang Mahaesa, jadi manusia harus percaya kepada Tuhan Yang Mahaesa, yang memiliki berbagai sifat yaitu Asmaul Husna.


Bagi salah satu cendikiawan Universitas Gadjah Mada ini, Pancasila juga berarti semua sifat yang serba baik, dan itu tercermin dalam sila pertama, itulah Tuhan Yang Mahaesa.  Professor Gunawan Sumodiningrat, Ph.D, peraih gelar Ph.D di bidang Agricultural and Applied Ecomonics dari University of Minnesota Amerika Serikat ini berbicara kembali tentang apa itu Pancasila. Di warung makan Gudeg Sagan, Sleman Yogyakarta tim ESQ Magz berbincang santai dengan Prof Gunawan.


Penulis buku “Membangun Indonesia dari Desa” ini percaya, Pancasila adalah sebuah jalan hidup yang justru tertera dalam semua kitab suci.


“Manusia itu disuruh meniru sifat-sifat Tuhan. Dan sifat Tuhan yang sangat sederhana itu, tiga utama, menciptakan, menata, membangun. Berbuat baik, menata yang sudah dibuat dan membangun yang sudah ditata. Itu universal, sejak zaman pra sejarah, zaman Hindu Budha,”


Dentingan piring dan sendok jadi menjadi bagian dari obrolan kami. Life musik di rumah makan tersebut memang sedikit bising, tapi tidak mengganggu asiknya diskusi dengan Alumni UGM tahun 1974 itu.


Bagi Gunawan, tidak mungkin manusia tidak hidup dalam Pancasila. Namun sekarang orang-orang justru selalu mencari terus apa itu Pancasila, padahal sudah ada dalam dirinya sendiri. Tapi saat ini, kebanyakan dari kita justru tidak mengakui, tidak mensyukuri tidak menyadari, bahwa orang hidup untuk melaksanakan Pancasila.


Pakar Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini juga mengatakan, saat ini banyak dari diri kita sudah melaksanakan Pancasila, tapi tidak mau merasakan, tidak mau mengakui. Sederhana saja, tidak mungkin ada manusia yang bukan ciptaan Tuhan. Padahal ketika mengakui diri adalah ciptaan Tuhan, itu adalah salah satu aplikasi Pancasila.


Lalu bagaimana dengan bermunculan tagar #sayapancasila? Saya bertanya penasaran. Melihat akhir-akhir ini Pancasila kerap kali dijadikan label suci untuk menuduh kelompok lain tidak lebih baik dari bertagar Saya Pancasila.


Fenomena tersebut dijawab dengan kelakar oleh pria yang pernah menjadi anggota tim pengusul gelar pahlawan untuk presiden Soeharto ini. Gunawan mengatakan hal tersebut dikarenakan banyak dari bangsa ini masih tidak mengerti apa itu Pancasila. Untuk bisa mengerti secara utuh tentu harus ada peran pemerintah.


“Yang harus menyadarkan itu pemerintah. Siapa pemerintah itu, pemerintah itu adalah wakil rakyat. Jadi wakil rakyat itu harus mengerti apa itu keinginan rakyat, rakyat itu siapa? rakyat itu manusia, siapa itu manusia? Ciptaan Tuhan. Manusia itulah yang pancasilais,” kelakar dia.


Menurut Gunawan, Pemerintah harus bisa mengayomi ketidakmengertian tersebut. Apa itu Ketuhanan Yang Mahaesa, apa itu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, apa itu Persatuan Indonesia, dan apa itu musyawarah, apa itu keadilan sosial, jika hal mendasar seperti itu tidak bisa dipahami, kita tidak akan bisa memahami hakekat dari Pancasila.


“Nah ini harus diarahkan, yang mengarahkan itu namanya pemerintah. Pemerintah itu ada tiga hal, satu wakil rakyat yang bernama legislatif, dua wakil rakyat yang namanya eksekutif, tiga, wakil rakyat yang mengawasi namanya yudikatif. Kalau dia tidak mengerti perannya itu, tidak usah ngobrol namanya Pancasila, habis waktu. Hakikat hidup yang sebenarnya Pancasila.”


Secara sederhana, Pancasila bisa dijelaskan dari bentuk penciptaan manusia. Tuhan Yang Mahaesa yang memiliki sifat rahman dan rahim. Bentuk Rahman dan Rahim bisa dilihat dari sila kedua yakni Kemanusiaan Adil dan beradab. Manusia harus memiliki dua sifat tersebut untuk mencapai sifat adil dan beradab.


Untuk menjawab lebih sederhana, Prof Gun –sapaan akrab- memberikan sebuah permisalan dari sebuah keluarga dan bagaimana awal mula kejadian manusia. Pancasila bisa dimisalkan sebagai kejadian awal mula kehidupan berasal, yakni dari Ketuhanan Yang Mahaesa, kemudian menurunkan sifat rahman dan rahim dari kedua orang tua. Ini tercermin dalam sila kedua, manusia, adil dan beradab yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan, ini juga jadi cerminan sila ketiga, persatuan Indonesia.


Kemudian keluarga kecil itu bermusyawarah untuk mufakat memiliki seorang anak yang kelak diperlakukan adil. Ini mencerminkan sila keempat dan kelima, musyawarah, dan keadilan sosial.


“Ketika semua bisa memahami dalam diri masing-masing adalah pancasila yang tertanam sifat-sifat Tuhan, Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju dari segi apa pun, bahkan dari segi ekonomi,” jelas dia.


Saat ini tak banyak dari kita yang paham tentang pancasila ini, oleh karena itu, kita bisa memberikan pemahaman dari kita yang sudah paham atau mulai paham tentang Pancasila. Pendekatan pertama ada dalam tatanan informal, dari keluarga sendiri dan bisa mendidik keluarga. Kedua dari formal, yakni sekolah.


Tapi utamanya adalah keluarga, mengajari ceritera ini kan informal dan dijadikan formal dan dimasukan di kurikulum, masuk di sekolah baru bisa berkembang. Jadi nomer satu adalah keluarga. Jika keduanya tak bisa, baru bisa digabungkan antara informal dan formal, itulah wakil rakyat adalah pemerintah.


ESQ juga salah satu dari bentuk formal dan Informal, tujuh Budi Utama itu cara melaksanakan Pancasila. Tapi pertama-tama harus percaya dulu kepada Tuhan, nomor satu Ketuhanan Yang Mahaesa. Ketuhanan ini diterjemahkan menjadi Pancasila.


“Ketika semua terwujud dan bisa mengaplikasikan secara penuh, apakah bisa terwujud Indonesia Emas. Tentu bisa, dengan itu.”


Gunawan yang saat itu mengenakan batik cokelat berlengan panjang juga menambahkan, harapan itu ada jika diri kita sendiri sebagai pemimpin untuk diri sendiri maupun manusia Indonesia yang diberikan amanat sebagai pemimpin bangsa paham Pancasila.


Tidak ada harapan, selama pemimpinnnya tidak paham dengan pancasila. Indonesia akan terus seperti ini, tidak akan maju. Dia berharap, para pemimpin kelak bisa paham apa yang diucapkan, siapa dia, ke mana dia, dari mana dia. dan dia kan sebagai manusia, dan ke mana tujuannya.


“Dan ingat! Pemimpin itu tidak hanya satu, tapi sebuah sistem, presiden gubernur bupati, camat desa, keluarga hingga perorangan. Balik lagi ke diri kita sendiri, itu namanya 165, satu hati, enam prinsip lima langkah.


Pernah dimuat di ESQ Magz edisi 5 tahun 2018


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA