Minggu, H / 05 April 2020

Istanbul Sambut Pimpinan Negara OKI Bahas Nasib Palestina

Jumat 18 May 2018 07:07 WIB

-

Presiden Turki, Recep Toyeb Erdogan

Foto: VOA News

ESQNEws.id, ANKARA - Turki, ketua saat ini Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang membawahi 57 negara anggota, akan menjadi tuan rumah pertemuan luar biasa pada Jumat untuk membahas aksi bersama melawan Israel yang melakukan pembunuhan di Gaza.

Sidang Luar Biasa OKI -- yang diinisiasi oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan -- diharapkan dapat memberikan pesan kuat melawan kekejaman Israel yang membunuhi setidaknya 62 warga Palestina -- yang termuda masih berusia 8 bulan -- saat melakukan demonstrasi di sepanjang perbatasan timur Gaza.


Sejumlah besar pemimpin negara dan pemerintahan, termasuk Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Afghanistan Ashraf Gani, Emir Kuwait Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, Presiden Maurisia Veled Abdulaziz dan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla akan hadir dalam pertemuan ini.


Sidang ini diharapkan dapat membantu para pemimpin Muslim untuk menentukan sikap yang jelas melawan Israel. Deklarasi final akan diumumkan setelah pertemuan.


Juru Bicara presidensial Turki Ibrahim Kalin berkata sidang OKI ini akan fokus pada langkah-langkah yang akan diambil untuk memobilisasi komunitas internasional untuk mengakhiri persekusi terhadap warga Palestina.


Dalam pernyataan tertulis pada Kamis, Kalin berkata pendudukan Israel atas Palestina bukan hanya permasalahan negara-negara Muslim saja namun "permasalahan bagi siapapun yang percaya hukum dan keadilan".


"Pertemuan akan fokus pada sikap dan aksi yang harus diambil oleh negara-negara Muslim dalam solidaritas dan kerja sama dengan Negara Palestina dan masyarakatnya untuk membela Palestina dan Yerusalem," imbuh Kalin.


Protes di Gaza pada Senin bertepatan dengan peringatan 70 tahun berdirinya negara Israel secara sepihak -- yang oleh orang Palestina disebut sebagai Nakba atau Malapetaka -- juga relokasi kedutaan besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.


Sejak protes Gaza berlangsung pada 30 Maret, lebih dari 100 pedemo Palestina telah menjadi martir akibat tembakan pasukan penjaga perbatasan Israel. Pekan lalu, pemerintahan Israel mengklaim protes di perbatasan ini sebagai "perang" sehingga hukum-hukum kemanusiaan internasional tidak berlaku.


Source : Anadolu Ajansi


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA