Selasa, H / 16 Oktober 2018

Ikhlaskan Saja

Kamis 09 Aug 2018 11:35 WIB

Rep:Mushlihin/Ed:Titin Nuryani L Wiyono

ilustrasi.

Foto: google.com

Oleh: Mushlihin*

ESQNews.id - Hampir setiap jumat khatib berwasiat. Mereka menyitir sebuah ayat. Tertera dalam surat al baiyinah ayat 5. Agar ikhlas beribadah karena Allah semata. Bukan karena dipuja manusia.

Lalu, kebanyakan pimpinan pasti memerintahkan bawahannya supaya bekerja dengan ikhlas beneran. Tidak selalu menuntut bayaran dan tunjangan. Sehingga sampai disosialisasikan slogan ikhlas beramal dalam segala pekerjaan.

Berbeda dengan orangtua yang menghibur anaknya saat kehilangan barang kesukaannya. Biasanya kata ikhlaskan saja, menjadi andalannya. Besok saya ganti yang lebih baik, gumamnya sambil mengiba.

Lain pula seorang pendakwah, menanggapi jamaah yang hartanya dicuri oleh saudara sebangsa. Ia  pun menasehati sambil membesarkan hatinya. Supaya diikhlaskan saja. Bahwasannya masih untung kita tidak susah atau repot mengantarkannya sebagai sedekah.

Kemudian tidak sedikit orang yang takziyah, meringankan beban keluarga yang ditinggal mati, berucap ikhlaskan saja kepergiannya. Jangan diratapi agar arwahnya tenang di sisi-Nya.

Ahli hikmahpun menuturkan ikhlas itu bagaikan buang air. Kehilangan sesuatu tapi melegakan. Jadi waktu mengeluarkan harta di jalan Allah tidak mengharap kembali dan terasa nikmat.

Beberapa ungkapan di atas merupakan contoh ikhlas. Semuanya benar, tidak ada yang salah.

Kesalahannya adalah sesungguhnya ikhlas itu gampang diperbincangkan, namun berat sekali diamalkan dalam kehidupan sehar-hari. Padahal dosa besar orang yang tidak mengerjakan apa saja yang diucapkan.

Seringkali terjadi ada orang tak bisa berceramah, justru ibadahnya tekun. Meski tidak ada yang menghargai, bersorak sorai atau menyaksikannya. Kecuali Allah yang maha melihat.

Sebaliknya ada khatib, ngambek tatkala khutbahnya dikritik dan diluruskan. Ia juga tak bersedia melaksanakan tugasnya, setelah membandingkan
imbalannya di tempat lainnya.

Selanjutnya mungkin kita jumpai para pemimpin ketika lengser dari jabatan alias kedudukan, malahan bermalas-malasan. Tidak mau berbagi ilmu karena takut kalah popularitas dengan penggantinya. Apalagi imbalannya tidak memuaskan hatinya.

Demikian pula dengan orang tua, tidak bisa melupakan jasa baiknya. Selalu diungkit-ungkit amal jariyahnya. Bahkan saat uangnya hilang, keluarganya dituduh satu persatu dan harus menggantinya. Akibatnya  keharuman namanya menjadi pudar. Kurang dipedulikan keturunannya di masa tuanya.

Sebagai pendakwah juga tak sempurna. Misalnya kendaraan maupun barang miliknya hilang pasti disampaikan pada semua orang dengan harapan kembali dan tak berkurang. Ketika diminta sedekah oleh panitia, berkilah bahwa ia sedekah dengan caranya sendiri. Loman (suka berderma) dalam kata tapi eman (pelit) pada harta.

Selain itu orang yang takziah, jika keluarga meninggal belum tentu bisa dengan mudah melepas kepergian jenazah. Butuh waktu panjang dari berduka cita. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, hidup tak bergairah. Dalam kurun yang cukup lama. Susah melupakan jasa almarhum yang berperan penting dalam mewujudkan keluarga sakinah.

Sama halnya dengan para ahli, sedikit sekali yang yang merasa lega atas kinerjanya. Butuh biaya tinggi dalam profesinya. Maka tidak mungkin diberikan cuma-cuma kepintarannya.

Walaupun begitu anjuran ikhlas beramal tetap dibutuhkan agar tidak lupa.  Syukur, mampu diamalkan dalam tindakan nyata. Bukan hanya cerita.

Akhirnya semoga kita tergolong orang yang ikhlas dalam beribadah umum maupun khusus sesuai kemampuan dan keyakinan masing-masing.


*Penulis adalah PRM Takerharjo Solokuro dan Guru SMPN Karanggeneng Lamongan

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA