Minggu, H / 15 Desember 2019

HUBBUL WATHAN MINAL IMAN!

Senin 26 Nov 2018 14:24 WIB

Author :Singgih Wiryono

Hubbul Wathan Minal Iman

Foto: Tangsel.com

Singgih Wiryono*


Masuknya Islam, menjadi awal kebangkitan bangsa ini melawan penjajah. Berawal dari organisasi yang bermunculan, seperti Sarekat Dagang Islam, Boedi Oetama hingga muncul Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh pemuda-pemuda Islam.



Zaman kolonialisasi Belanda, orang-orang yang berangkat haji sering dikatakan sangat berbahaya, karena membawa nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme setelah pulang haji. Itulah mengapa ada gelar haji, untuk menandakan mana saja yang sudah menunaikan ibadah haji dan belajar ke Mekkah. Akan mudah mengawasi orang bergelar haji.



Islam masuk ke Indonesia dengan damai. Awalnya, Islam sempat ditolak masyarakat, terutama masyarakat Jawa lantaran dinilai tidak menyelesaikan masalah yang ada di masyakarat. Hingga suatu hari, Wali Songo dengan Sunan-sunannya memberikan pengertian Islam yang bisa berakulturasi dengan adat istiadat di Jawa.



Melalui wayang dan metode penyembuhan lainnya, masyarakat Jawa dan secara luas Indonesia bisa menerima Islam. Kemudian berkembang menjadi pendekatan di bidang pendidikan seperti yang dilakukan KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah dan KH Zainudin Abdul Madjid pendiri Nahdlatul Wathan.



Di masa penjajahan, peran penting Islam terlihat dari masa mempertahankan kemerdekaan. Pasca proklamasi kemerdekaan, tidak begitu saja Indonesia kuat sebagai negara. Saat itu, Indonesia bisa diibaratkan seperti menancapkan pohon ubi ke dalam tanah yang baru berumur tiga hari. Tumbuh akar-akar, tapi tidak kokoh. Tersandung oleh kaki saja, mungkin bisa copot dari tanah.



Peran Islam terlihat di sana. Utusan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pergi ke Jombang, Jawa Timur untuk menanyakan perihal perjuangan kemerdekaan Indonesia kepada Hadratus Syaikh, KH. Hasyim Asyari.



"Apa hukumnya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia?" tanya ajudan Seokarno tersebut. Dengan mantap, Pendiri Organisasi Islam Nahdlatul Ulama itu mengatakan hukum membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan adalah wajib.



"Hubbul Wathon Minal Iman," kata mbah Hasyim.



Semboyan cinta tanah air adalah sebagian dari iman adalah fatwa yang dikeluarkan KH. Hasyim Asyhari sehingga membakar semangat jihad rakyat Indonesia dan mengusir kembali tentara sekutu yang saat itu adalah tentara Inggris dari Surabaya.



Prinsip kemanusiaan yang bermakna menghapus penjajahan di atas dunia merupakan nilai Islam. Tidak boleh ada manusia yang ditindas manusia lain, terlebih sebuah bangsa yang menindas bangsa lainnya. Ini tertanam dalam cinta tanah air yang menjadi fatwa KH Hasyim Asyhari.



Keluarnya fatwa itu diumumkan ke seluruh antero Jawa Timur. Seluruh umat Islam dalam radius 94 KM dari Surabaya wajib berjihad mengusir tentara sekutu. Peristiwa ini bahkan diabadikan di dalam buku karya David Behl dengan judul "Birth of Indonesia."



Tak pernah ada yang membayangkan belati keris dan bambu runcing itu bisa menghancurkan ratusan senjata militer modern yang dibawa Inggris. Orang-orang dengan belati nekat menyerang Tank Sherman. Ini bukan lagi berani, tapi sebuah semangat syahid kaum muslimin.



Bahkan pernah ada sebuah lelucon tentang Tank yang diserang sebuah belati. Tentara Inggris mengatakan pada rekannya, "Sisi kanan terkena senjata cerurit," kata dia.



Kawannya terkejut sambil bertanya "Kenapa, apakah karena cerurit tank ini bisa rusak?"



Lalu dijawab "Tidak rusak, tapi tidak habis pikir kita diserang hanya dengan cerurit."



Begitulah kekuatan umat Islam yang dilahirkan dengan semangat iman dan cinta tanah air. Hubbul Wathan Minal Iman.



*Chief Editorial and Reportase ESQ Media



Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA